Senin, 09 September 2019

Pengalaman satu tahun menjadi dosen UNJ

Lagu Via Vallen sebagai penyemangat



“Yo yo ayo, yo ayo yo yo ayo”. Awal karir ku di Jakarta ketika itu bertepatan dengan perhelatan akbar Asian Games. Lagu tema yang dinyanyikan Via Vallen itulah yang rasanya menjadi penyemangat hari hari karena sering sekali lagu ini diputar dimana mana ketika itu.



3 September 2018 adalah hari pertama aku bertemu mahasiswa dalam sebuah acara pembukaan masa pengenalan kehidupan kampus. Pagi itu matahari bersinar cerah sekali, seakan menjadi penyemangat ku dalam menjalani tugas sebagai dosen.
Mengapa perlu disemangati? Jawabannya aku ketahui segera setelah aku bertemu pertama kali dengan dosen lain yang lebih senior. Ketika ngobrol dengan mereka dalam topik apapun selalu kesimpulannya adalah dibutuhkannya semangat perubahan dari dosen muda.

Dilema sebagai dosen muda

Menjadi dosen baru bagiku juga terasa seperti menjadi tenaga baru bagi institusi tempatku bekerja. Tugas yang dulunya diemban oleh dosen senior kini menjadi tanggung jawab dosen muda. Aku bersyukur telah dipercaya mengemban amanah ini. Selain itu, tugas ini memberiku kesempatan mengasah ilmu dan kemampuan yang aku punya.

Seperti misalnya ketika diminta untuk memandu kuliah perdana 2018/2019 dengan Najela Shihab sebagai pembicara. Ini adalah kali pertama aku menjadi moderator dalam acara seminar sekaligus diskusi seperti ini. Berkat tugas ini aku makin menyadari bahwa kesuksesan pendidikan sangat memerlukan peran serta banyak pihak. Walau terdengar sulit untuk diwujudkan, tapi toh ada yang telah berhasil melakukannya. Hal ini aku ketahui setelah mempelajari profil pembicara kuliah perdana ini.



Hal baru lainnya yang pernah aku lakukan adalah saat tenaga pengajar bahasa asing dari Kementrian Pertahanan melakukan observasi di kelas ku untuk melihat proses pengajaran bahasa. Aku juga diminta untuk datang ke kantor mereka dalam rangka memberikan lokakarya tentang penggunaan teknologi dalam pengajaran bahasa. Kembali aku bersyukur atas kepercayaan dari institusi ku dalam mengemban tugas ini. Berkat tugas ini aku berkesempatan memahami lebih dalam tentang teknologi informasi dan penggunaannya dalam kelas bahasa.


Dilema sebagai dosen non-PNS
Ini adalah aktivitas tambahan ku di luar tugas sebagai dosen. Aku mengajar persiapan tes IELTS bagi dosen. Pekerjaan ini aku lakukan untuk mengisi waktu sebagai dosen tetap non-PNS. Waktu kerja ku sebenarnya hanya tiga hari, dua hari aku gunakan khusus untuk mengajar mahasiswa dan satu hari khusus untuk mengerjakan tugas penelitiian dan pengabdian.


Satu tahun berlalu aku semakin menyadari bahwa aku perlu tambahan hari kerja untuk memaksimalkan tugas sebagai dosen, terlebih karena ada tugas tambahan dari jurusan di luar tugas utama yakni Tri Dharma (mengajar, meneliti, mengabdi). Namun, aku kembali ke keadaan bahwa aku adalah dosen non-PNS yang karena kewajibannya terbatas membuat haknya pun terbatas pula.

Syukurlah aku dipercaya melakukan beberapa pekerjaan yang membuatku tidak berpikir keras untuk bertahan hidup di Jakarta menggunakan hak yang aku dapat saat ini. Terlebih pekerjaan tersebut aku lakukan berkaitan dengan peran ku sebagai dosen terutama urusan publikasi.
Dengan begini rasanya ada untungnya juga menjadi dosen non-PNS. Menjadi dosen dengan golongan tertentu sepertinya akan membuat ku banyak menghabiskan waktu untuk mengajar sehingga hanya ada sedikit kesempatan untuk penelitian dan pengabdian.


Seperti misalnya dengan kesempatan mengikuti seminar internasional ini aku bisa mendengar dan membaca tentang apa yang sedang menjadi topik pembicaraan para akademisi di luar sana. Aku juga bisa mendapat masukan untuk penelitian yang aku lakukan.

Tetap semangat

Entah sampai kapan semangat ini akan bertahan, namun yang pasti satu tahun bertugas di kampus ini aku masih memiliki mimpi mengharumkan nama institusi dari prestasi mahasiswa dan dosennya terutama yang berkaitan dengan kontribusi nya pada masyarakat. Aku masih semangat menyampaikan ide dan gagasan yang aku punya pada dosen lain maupun atasan ku, terlepas dari beragam respon yang aku dapatkan. Aku masih semangat belajar hal baru dari rekan dosen lain.



Kembali mengutip lagu Via Vallen yakni “terus fokus satu titik, hanya itu titik itu, tetap fokus kita kejar, dan raih bintang”. Semoga semangat ini terus ada sampai nanti.

Senin, 27 November 2017

Pengalaman dengan Beasiswa IELSP, Fulbright, dan LPDP (bagian 2)


Beasiswa LPDP
  • Usaha Terakhir
Niat untuk kembali mencoba melamar beasiswa saat itu muncul ketika salah seorang rekan yang lolos seleksi beasiswa Fulbright tahun 2015 menyarankan untuk mencoba beasiswa yang disponsori penuh oleh pemerintah Indonesia melalui Kementrian Keuangan dengan sebuah lembaga bernama LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) sebagai penyelenggara. Itulah kali pertama saya mengetahui informasi tentang beasiswa ini, walaupun memang kehadirannya yang terbilang sangat baru yakni sejak tahun 2012, berbeda dengan beasiswa Fulbright misalnya yang sudah lama dikenal oleh banyak pihak.
Mengingat kegagalan dalam mendapat beasiswa Fulbright di tahun tersebut dan tahun tahun sebelumnya, saya pun berjanji pada diri sendiri ketika itu bahwa ini adalah usaha terakhir untuk meraih beasiswa studi S2 ke luar negeri. Saya pun menyampaikan janji ini kepada orang orang terdekat termasuk kedua orang tua dan dosen yang sebelumnya memberi surat rekomendasi. Ini bukan berarti bahwa saya yakin akan lolos kali ini, mengingat seleksi yang harus diikuti kali ini lumayan jauh berbeda dengan seleksi beasiswa Fulbright. Berikut saya jabarkan perbedaan keduanya dari segi proses seleksi.
Fulbright
LPDP
1 buah essay Personal Statement 500 kata dalam Bahasa Inggris
3 buah essay tentang cita cita, kesuksesan terbesar, dan kontribusi bagi Indonesia, masing masing 500 kata dalam Bahasa Indonesia
Pelamar memilih universitas tujuan di Amerika Serikat
Pelamar memilih universitas dimanapun di seluruh dunia yang masuk dalam daftar 300 universitas terbaik di dunia.
Seleksi wawancara dilakukan oleh 5 orang yang semuanya akademisi.
Seleksi wawancara dilakukan oleh 3 orang, dengan komposisi 2 orang akademisi dan 1 orang psikolog
Perbedaan dalam hal lain bisa dilihat melalui laman resmi masing masing program beasiswa tersebut disini;
http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-magister-doktor-2/
https://www.aminef.or.id/grants-for-indonesians/fulbright-programs/scholarship/fulbright-masters-degree-scholarship/

Saya merasa cukup beruntung ketika itu di tahun 2015 saat mendapat informasi kegagalan beasiswa Fulbright kira-kira pada bulan Agustus, pendaftaran beasiswa LPDP sedang dibuka sampai awal Januari 2016. Jadilah ketika itu saya disibukkan dengan berkas berkas yang disyaratkan termasuk ketiga essay yang saya sebutkan di atas. Salah satu persyaratan yang lumayan menyita waktu ketika itu adalah surat tanda diterimanya saya di universitas yang diminati atau yang biasa disebut Letter of Acceptance (LoA). Institusi tujuan ketika itu sama dengan institusi yang saya minati saat ikut seleksi Fulbright, yakni SIT Graduate Institute yang berlokasi di negara bagian Vermont, USA. Dari informasi yang diperoleh di laman resmi kampus tersebut, ditambah dengan informasi dari alumni dari Indonesia yang kebetulan saya kenal ketika itu dari Facebook, membuat saya yakin untuk mengambil jurusan Master of TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages) disana.
Untuk bisa diterima dan mendapat LoA dari SIT Graduate Institute saya pun harus mengikuti proses seleksi. Salah satu dokumen yang disyaratkan adalah skor tes Bahasa Inggris IELTS dengan minimal skor keseluruhan 7. Saya pun ketika itu langsung berangkat ke Bali untuk mengikuti tes untuk pertama kalinya sekaligus melakukan persiapan tes selama satu bulan penuh dengan melatih skill reading, listening, writing, dan speaking secara otodidak melalui soal soal yang sering diujikan. Cerita lengkap mulai dari persiapan tes sampai akhirnya memperoleh skor yang diinginkan ada di cerita saya lainnya di blog ini. Syukurlah ketika itu saya berhasil meraih skor 7 sesuai dengan yang disyaratkan oleh kampus tujuan. 
Dokumen berikutnya yang dipersiapkan adalah dua buah essay yang kurang lebih seperti Personal Statement yang berisi tentang latar belakang pendidikan dan profesi kita sebagai pelamar, rencana studi termasuk mata kuliah yang ingin diambil, dan rencana kedepan setelah lulus kuliah, semuanya dalam Bahasa Inggris. Proses inilah yang menurut saya memakan waktu sangat lama ketika itu, karena mengharuskan saya melakukan literature review terkait kondisi pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia. Saya ingat sekali ketika itu keseharian dipenuhi dengan bacaan artikel tentang pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia, termasuk menuangkan apa yang didapat dari bacaan tersebut ke dalam essay dalam Bahasa Inggris yang tentunya tidak mudah dan sangat menguras waktu dan tenaga. Beban pikiran ketika itu juga ditambah dengan kesibukan mencari informasi tambahan tentang jurusan yang hendak diambil di kampus tujuan dengan menghubungi ketua jurusan kampus melalui email.

Usaha tersebut pun akhirnya membuahkan hasil. Satu minggu setelah mengumpulkan semua persyaratan, tanggal 15 Januari 2016 saya pun menerima surat LoA pertanda diterimanya di kampus SIT Graduate Institute di USA. Kabar baik lainnya adalah kampus tersebut juga menjadi kampus yang direkomendasikan oleh panitia beasiswa Fulbright kepada rekan saya yang ketika itu lolos seleksi. Saya senang bukan main saat itu. LoA sudah ditangan, ini berarti tinggal menyerahkan semua dokumen persyaratan beasiswa LPDP. Mengenai surat rekomendasi, saya juga merasa beruntung ketika itu. Sehubungan dengan status ketika itu sedang tidak bekerja, saya diperbolehkan untuk mendapat surat rekomendasi dari tokoh masyarakat di tempat saya tinggal. Jadilah ketika itu saya datang ke rumah guru SD terdahulu untuk meminta bantuan kepada Beliau. Dengan senang hati beliau mamberikan surat malam itu juga, terlebih ketika tahu saya sudah mendapat surat penerimaan di salah satu kampus di Amerika. Semua dokumen sudah lengkap dan dikumpulkan secara online melalui akun pelamar LPDP saya, tinggal menunggu selama satu bulan pengumuman seleksi administrasi tersebut.

  • Pengumuman Seleksi
Ada kejadian lucu ketika saya menerima pemberitahuan kelolosan seleksi berkas LPDP. Ketika mendapat pemberitahuan melalui SMS terlebih dahulu, saya pun langsung membuka email untuk melihat apakah nama saya ada di daftar nama nama yang lolos seleksi. Setelah berdoa sebentar sebelum membuka pengumuman, alangkah kagetnya ketika melihat tidak ada nama saya di dalam daftar. Saya kembali memastikan, dengan hanya melihat nama-nama yang berawalan huruf I tapi tetap tidak ada. Berpikir ada kesalahan penulisan nama, saya pun melihat nama-nama yang berawalan huruf W dengan asumsi nama saya terdaftar sebagai Wayan Darya tanpa ada huruf I di depan nya. Masih tetap sama. Tubuh saya lemas, tapi jantung masih berdetak kencang. Lalu secara tidak sengaja saya melihat tabel tersebut lebih ke bawah lagi, dan ternyata yang saya lihat sebelumnya adalah daftar pelamar yang lolos seleksi untuk tujuan universitas dalam negeri atau yang dikenal dengan istilah DN. Jantung makin berdetak cepat, dan ketika melihat urutan nama dengan awalan I disitulah saya baru melihat nama saya yang termasuk dalam daftar peserta dengan tujuan universitas luar negeri atau LN. Waktu itu saya mendaftar dengan tujuan universitas di USA, yakni University of Southern California (USC). Mengapa bukan SIT Graduate Institute? Belakangan baru saya tahu bahwa SIT tidak termasuk dalam daftar 300 universitas top dunia sesuai syarat LPDP. Dari namanya saja sudah jelas SIT pasti tidak termasuk di dalamnya karna statusnya yang masih sebagai institusi yang tidak berafiliasi dengan universitas manapun.
LPDP sebenarnya punya kebijakan untuk pindah universitas, dalam artian bahwa kita bisa mengganti universitas tujuan sesuai dengan saat pertama mendaftar dengan universitas tujuan yang baru, asal tetap masuk dalam daftar 300 universitas top dunia tadi, atau kalaupun tidak termasuk di daftar pilihan universitas tersebut harus mendapat rekomendasi dari dosen pembimbing ataupun dari Atase Pendidikan KBRI di negara tujuan studi. Hal ini sempat saya lakukan ketika itu, karena sangat yakin SIT Graduate Institute adalah pilihan yang tepat terlebih karena sudah mendapat LoA. Saya pun mengontak pihak KBRI terkait masalah ini, namun ternyata tidak diijinkan untuk memilih SIT sebagai tujuan studi. Sempat berkonsultasi dengan orang tua, mereka pun menyarankan untuk mengganti universitas tujuan, karena menurut mereka sebaiknya saya berkuliah di kampus yang terletak di pusat kota, seperti kalau di Amerika kota tujuan nya adalah New York atau Los Angeles. Saya memahami maksud mereka, bahwa dengan latar belakang tempat tinggal agak di pelosok tentulah lebih baik melihat ‘dunia baru’ di kota. Belakangan setelah akhirnya menempuh studi di pusat kota seperti London barulah saya mengerti akan dampak positif yang saya peroleh dari berkuliah disana. Memang pada akhirnya berkuliah dimanapun selalu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, karena juga banyak universitas top dunia yang berlokasi jauh dari pusat kota, sebut saja misalnya University of Oxford yang lumayan jauh dari pusat kota London, Inggris, atau Harvard University yang berlokasi jauh dari New York, USA. Bagaimanapun juga yang paling berperan penting adalah individu yang melakukan studi dimanapun itu, karena menurut saya adalah yang terpenting bagaimana memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memaksimalkan pengalaman menempuh studi. Cerita lengkap saya tentang pengalaman berkuliah di kota besar seperti London bisa dilihat di blog saya ini juga.
Kembali lagi ke proses seleksi, tahap selanjutnya adalah mengikuti seleksi wawancara yang berlokasi di Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) di daerah Bintaro, Jakarta. Lokasi ini memang sengaja dipilih yang terdekat dengan domisili kita sebagai pelamar. Dalam hal keberangkatan ke lokasi wawancara, ada sedikit perbedaan antara beasiswa LPDP dan Fulbright. Jika seperti sebelumnya yang saya sampaikan bahwa biaya transportasi menuju dan dari lokasi wawancara beasiswa Fulbright sepenuhnya ditanggung oleh panitia, lain halnya dengan LPDP yang tidak memberi tanggungan transportasi. Jadilah saya ketika itu berangkat ke Jakarta dengan biaya sendiri, termasuk biaya akomodasi. Saya kebetulan menemukan hotel yang lumayan murah dan dekat sekali dengan STAN, hanya dengan naik angkot sekitar kurang lebih 5 menit. Jarak yang dekat ini sangat membantu dalam mengatur waktu untuk menghadiri wawancara.
Tiba di Jakarta H-1 wawancara, saya saat itu sengaja menyempatkan diri mengecek lokasi wawancara agar saat hari H tidak mengalami kebingungan mencari ruangan seleksi. Selesai survey, saya naik angkot menuju hotel tempat menginap untuk check-in dan beristirahat. Hari itu saya fokuskan untuk berlatih wawancara, dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang biasa ditanyakan dalam wawancara beasiswa LPDP. Beruntung ketika itu ada rekan yang juga hendak mengikuti seleksi wawancara di Makassar berbaik hati memberikan ‘contoh soal’ yang biasa digunakan dalam seleksi. Saya pertama kali bertemu dengan dia saat mengikuti tes IELTS di Bali ketika ia saat itu sedang mengikuti IELTS training di IALF Bali. Setelah merasa cukup berlatih karena sebelumnya juga sudah sempat beberapa kali melakukan hal yang sama sebelum berangkat ke Jakarta, saya pun memilih untuk istirahat malam itu. Saya berusaha agar mendapat istirahat yang cukup hari itu agar memiliki stamina yang baik dalam seleksi keesokan harinya. Tak lupa saya mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat demi mencegah masalah kesehatan yang bisa saja timbul saat hari seleksi.
Oh ya seleksi wawancara yang saya maksud disini adalah salah satu komponen dari keseluruhan seleksi tahap kedua setelah seleksi administratif yang diistilahkan sebagai seleksi substantif. Adapun seleksi ini terdiri dari tiga bagian yakni;
  1. Essay on the spot.
Pelamar diharuskan membuat essay dalam Bahasa Inggris, jika tujuan studi di luar negeri, dalam 250 kata. Peserta diminta membuat tulisan yang berisi tanggapan tentang isu tertentu dan terkini yang diberikan oleh panitia saat itu juga. Waktu yang diberikan adalah 15 menit.
Saat seleksi ini saya mendapat topik tentang kebijakan pemberlakuaan bebas visa kunjungan ke Indonesia. Saya merasa lumayan beruntung mendapat topik ini karena bisa menjabarkan relevansi isu ini dengan isu pariwisata, dan pengalaman saya berkuliah di Bali sebelumnya selama 4 tahun lumayan cukup membantu saya dalam menulis dampak dampak pariwisata sebagai akibat dari kunjungan wisatawan luar negeri.
  1. Focus Group Discussion (FGD)
Untuk mengikuti seleksi ini, saya dan lima peserta lain dikelompokkan menjadi sebuah grup yang nantinya diminta untuk mendiskusikan sebuah topik yang juga berkaitan dengan isu isu terkini yang ditentukan oleh panitia. Diskusi berlangsung dalam waktu 30 menit dan dilakukan dengan menggunakan Bahasa Inggris. Di ruangan tempat kami berdiskusi ada 1 orang moderator dan 1 orang psikolog.
Menurut informasi yang saya baca di internet yang merupakan cerita dan pengalaman para peserta yang sebelumnya sudah mengikuti seleksi ini, seorang psikolog ditempatkan di ruangan tempat kami berdiskusi sebagai bagian dari proses penilaian. Konon kabarnya psikolog tersebut bisa mengetahui kepribadian kita dari cara kita menyampaikan pendapat, mendengarkan pendapat orang lain, menyanggah, menginterupsi, ataupun mengarahkan jalannya pembicaraan dalam diskusi tersebut. Saya sedikit banyak paham bagaimana etika berdiskusi yang baik, dan syukurlah hal itu bisa saya lakukan saat seleksi. Adapun topik yang kami bahas saat itu adalah tentang kebijakan outsourcing dalam sistem perekrutan tenaga kerja di Indonesia. Saya memang sempat sebelumnya membaca berita terkait isu ini, dan itu sedikit banyak membantu dalam menyampaikan pandangan akan isu ini. 
  1. Interview
Tibalah waktunya seleksi terakhir yakni wawancara. Saya masih ingat ketika itu sebelum tiba giliran dipanggil, saya diminta untuk mengumpulkan berkas berkas yang saat pendaftaran awal sudah dikumpulkan secara online. Namun masih ada satu berkas yang belum bisa saya kumpulkan saat itu yakni SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Karena terkendala beberapa hal yang sebenarnya adalah akibat kelalaian saya sendiri, saya baru bisa mengurus surat tersebut H-1 keberangkatan saya ke Jakarta sehingga berakibat saya tidak bisa mendapatkan SKCK hari itu juga. Saya sempat panik ketika itu, walaupun akhirnya panitia membolehkan untuk mengumpulkan secara online surat tersebut belakangan.
Urusan administrasi ulang tersebut selesai, tibalah giliran untuk mengikuti wawancara. Saya masuk ke ruangan besar yang di dalam nya juga ada sejumlah peserta lain yang sedang diwawancara. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, ada tiga orang pewawancara pada saat itu dan salah satunya adalah seorang psikolog. Pertanyaan yang diberikan tentu sebagian besar tentang rencana studi kita dan latar belakang pendidikan dan profesi sesuai dengan apa yang ada di curriculum vitae milik kita. Pertanyaan lainnya juga seputar pengalaman berorganisasi baik selama kuliah dan selesai kuliah. Ada juga pertanyaan seputar latar belakang keluarga saya yang merantau dari Bali ke Belitung dengan ikut serta dalam program transmigrasi tahun 1990 silam. Untuk pertanyaan yang diajukan oleh psikolog, saya tidak ingat persis, namun yang bisa diingat adalah saya merasa telah memberi jawaban yang memuaskan dan tentunya apa adanya.
Dari keseluruhan proses seleksi substantif ini, saya sebenarnya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti apa yang membuat seorang pelamar bisa lolos seleksi. Bagi saya pribadi, sepanjang kita memilki niat yang tulus untuk mengabdi dan berkontribusi bagi masyarakat Indonesia melalui ilmu yang nanti didapat setelah selesai studi, saya yakin semuanya akan berjalan dengan baik dan dengan dibarengi dengan doa kita pasti akan merasa yakin dengan jawaban jawaban kita saat wawancara. Berkaitan dengan essay on the spot dan FGD, wawasan yang luas dengan paham isu isu terkini yang sekaligus menandakan bahwa kita paham dan peka dengan kondisi lingkungan di sekitar kita, akan sangat membantu dalam melewati kedua proses seleksi tersebut. Memiliki etika yang baik saat berdiskusi juga sangat membantu kesuksesan dalam mengikuti seleksi FGD.
Saya memang tidak yakin 100% bahwa akan lolos seleksi LPDP ketika itu, namun saya merasa sudah melakukan yang terbaik mulai dari persiapan sampai hari H seleksi. Dan saat mendapat pemberitahuan tentang kelolosan satu bulan kemudian, saya senang bukan main setelah menerima email yang berisi pernyataan lulus seleksi substantif. Saya masih ingat sekali malam itu tepat di hari dimana pengumuman kelulusan harusnya sudah keluar, jam 9 malam saya mengecek berulang ulang email namun email dari LPDP tak kunjung muncul. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur malam itu, dan saat sudah hendak menarik selimut, tiba tiba notifikasi email di smartphone berbunyi. Jantung saya berdetak kencang, walau belum yakin sepenuhnya itu adalah email dari panitia LPDP. Dan setelah dibuka terlihat tulisan dengan kata ‘LULUS’ yang cukup besar. Saya senang luar biasa, lalu bergegas menemui Ibu dan Ayah saya yang sedang menonton TV saat itu. Saya memberitahu mereka berita baik ini, dan baru kali itu saya melihat mereka sangat senang. Saya ingat sekali Ayah saya saking senang nya sampai-sampai mengatakan ini kepada ibu saya ‘Ibu, anak mu lulus`. Ungkapan yang rasanya tidak pernah saya dengar ia ucapkan sebelumnya. Jadilah malam itu saya tidur dengan hati yang senang bahkan sampai melihat kembali email yang baru saja dibaca. Dalam hati saya mengucap syukur tak terkira atas kebesaran Tuhan yang kali ini memberikan kesempatan untuk meraih beasiswa belajar ke luar negeri.   
  • Syukuran
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, mencoba mengikuti seleksi beasiswa ke luar negeri di tahun 2015 waktu itu adalah usaha terakhir yang saya janjikan. Saya bahkan sempat mengucapkan janji ini pada salah seorang teman di kampung, bahwa jika kali ini lolos saya akan mengajaknya mancing di kolam ikan nila milik Ayah saya di kebun, untuk selanjutnya dipanggang dan dinikmati bersama. Dengan berita kelulusan tersebut, saya pun memenuhi janji saya. Acara syukuran tersebut saya lakukan dengan anak anak yang pernah belajar di lembaga kursus saya yang waktu itu jumlahnya kurang lebih 80 orang. 
Para ibu tetangga pun saya minta bantuan untuk memnbuat kue serta mempersiapkan bumbu untuk ikan nila yang sebelumnya sudah dipanggang. Tepat saat H-6 keberangkatan ke London, saya dan anak anak tersebut bersama-sama menikmati makanan yang disajikan saat itu sebagai ungkapan rasa syukur atas yang telah saya dapat. Di akhir acara mereka pun bergantian memberi ucapan selamat dan mendoakan kesuksesan studi saya.
  • Persiapan Keberangkatan (PK)
Tahap terakhir yang harus saya lewati dalam proses seleksi beasiswa ini adalah Persiapan Keberangkatan  atau yang lebih dikenal dengan PK. Saya tergabung dalam PK-63 yang berarti program ini sudah dilangsungkan sebanyak 63 kali sampai April 2016. Ada 100 orang lebih penerima beasiswa LPDP dengan tujuan dalam dan luar negeri yang mengikuti PK di Wisma Hijau Jakarta selama 6 hari. Disinilah saya bertemu dengan orang orang dengan tujuan yang sama dengan saya walau berbeda ketertarikan bidang studi dan universitas tujuan. Saya merasa sangat beruntung bisa dipertemukan dengan orang orang yang menurut saya adalah orang orang hebat di bidang nya masing masing yang terpilih dari serangkain seleksi untuk mendapat jaminan belajar ke universitas terbaik di dunia berkat komitmen mereka dalam berkontribusi bagi Tanah Air Indonesia. Disinilah saya berjumpa dengan orang orang professional yang diantaranya sudah berkali kali membawa nama baik Indonesia ke kancah internasional melalui ide kreatif dan kemampuan akademik nya. Disini juga saya bertemu dengan orang orang yang dengan tulus mengabdikan tenaga dan waktu mereka untuk kepentingan orang banyak. Selain itu, saya dan semua yang mengikuti kegiatan itu diberikan pembekalan dalam bentuk motivasi dan semangat mengabdi untuk Indonesia melalui tokoh tokoh nasional misalnya yang saat itu hadir adalah mantan Menteri Luar Negeri Bapak Dino Patti Djalal. Ada juga tokoh tokoh inspiratif lainnya yang meluangkan waktunya untuk berbagi cerita tentang karya karya mereka untuk negeri Indonesia yang tercinta. Di hari terakhir kami pun dilibatkan dalam kegiatan pentas seni budaya Indonesia dan outbond untuk mempererat ikatan kami sesama penerima beasiswa LPDP. Sungguh merupakan pengalaman yang berharga bisa ikut serta dalam kegiatan ini dengan dikelilingi oleh orang orang penuh inspirasi. Tentu diharapkan saya dan penerima beasiswa LPDP lainnya mempunyai semangat yang sama untuk berkarya terutama dengan ilmu dan pengalaman yang nanti didapat selesai studi demi Indonesia yang lebih baik di masa depan. 
Kegiatan PK selesai, saya kembali ke Belitung untuk melakukan persiapan lainnya. Saya bahkan saat itu masih belum menentukan universitas tujuan setelah tidak mendapat ijin untuk berkuliah di SIT Graduate Institute, USA. Masih tetap ingin melanjutkan kuliah di negeri Paman Sam, saya lalu mendaftar di dua universitas disana yakni Columbia University di New York dan University of Southern California (USC) di Los Angeles. Namun sayang, Columbia menolak lamaran saya karna ada nilai skill IELTS saya di bawah 7, sementara USC tidak memberikan alasan spesifik penolakan nya pada lamaran saya. Saya pun kembali putar otak. Saya lalu membuat semacam daftar universitas tujuan saya di Amerika dan Inggris beserta keunggulan dan kelemahan masing masing institusi disana yang menyediakan jurusan pengajaran Bahasa Inggris atau TESOL. Dari serangkaian pertimbangan matang, akhirnya saya menjatuhkan pilihan saya ke University College London (UCL) yang tepat berlokasi di jantung kota London. Proses seleksi untuk bisa diterima di universitas ini juga mengharuskan pengumpulan berkas seperti essay Personal Statement dan skor tes IELTS secara online. Selain karena lokasi nya yang tentunya akan memberi kesempatan dalam berbagai hal, saya juga mempertimbangkan reputasi kampus ini terutama dalam hal pendidikan, mengingat jurusan saya adalah pendidikan Bahasa Inggris. Reputasinya yang bagus tentu ditunjang oleh tenaga pengajar termasuk professor disana yang semuanya punya pengalaman dan keahlian di bidang yang saya minati. Belum lagi sumber belajar mulai dari buku sampai jurnal tersedia lengkap. Hal itu pun saya temukan di kampus ini. Untuk pengalaman lengkap saya selama studi dapat dilihat di blog saya ini. Seperti yang saya utarakan sebelumnya semua kesempatan besar tersebut akan kembali lagi ke individu masing-masing, yakni bagaimana memanfaatkannya selama menempuh studi disana. Inilah yang menjadi kewajiban bagi saya dan rekan rekan saya lainnya yang menempuh studi terutama di luar negeri.
  • Persiapan Lainnya
Dimulai dengan persiapan fisik, tentunya saya sudah melewati serangkaian tes kesehatan, baik yang disyaratkan LPDP maupun saat mengajukan visa Inggris. Hal utama dari tes kesehatan ini memastikan saya bebas dari penyakit TBC, termasuk bebas narkoba. Saya sempat mengalami masalah kesehatan tepat dua minggu setelah menyelesaikan program Persiapan Keberangkatan (PK) di Jakarta. Bulan April ketika itu tubuh saya terjangkit virus cacar air dan selama dua minggu penuh saya mengisolasi diri di kamar untuk mencegah penyebaran virus ke orang orang di sekitar. Berkat ketulusan Ibu saya yang merawat di rumah ketika itu, dan obat yang diberikan oleh dokter termasuk obat tradisional yang diracik oleh Ibu saya, saya pun sembuh dan bisa beraktifitas secara normal, walau dalam keadaan bekas cacar berwarna hitam di sekujur tubuh saya yang lumayan membuat kurang percaya diri. Bekas cacar ini pun terlihat ketika saya berfoto untuk pembuatan paspor bulan Juni 2016, dan sudah lumayan memudar saat di foto untuk pembuatan visa bulan Juli. Saya memang sebelumnya belum pernah terjangkit cacar, jadi sempat terpikir juga bahwa ada untungnya ‘dianugerahi’ dengan virus cacar ini sebelum menempuh studi S2. Tidak terbayang jika beberapa hari sebelum berangkat ke London saya baru mengalami sakit ini. Memang seperti yang saya utarakan penyakit ini dikatakan sebagai ‘anugerah’ karena memang begitu adanya jika menurut budaya Bali. Penyakit ini dalam istilah Bali disebut dengan ‘medewa’ yang berarti ada ‘dewa’ yang sedang berada di tubuh saya saat itu. Itulah mengapa saat itu Ibu saya rutin membuat sesajen dengan maksud diberikan kepada ‘dewa’ yang sedang berada di tubuh saya. Saya bahkan selalu diingatkan untuk tidak mengeluh karena ini adalah anugerah dari sang dewa. 
Persiapan lainnya yang saya lakukan tentunya adalah yang berkaitan dengan dokumen seperti paspor dan visa. Waktu itu adalah pertama kali saya membuat paspor karena memang sebelumnya belum pernah bepergian ke luar negeri. Untunglah proses pembuatan paspor lumayan cepat dan bisa dilakukan di kantor imigrasi di daerah domisili saya di Belitung. Biaya nya juga tidak terlalu banyak yakni kurang lebih Rp 300.000,- dan pembayarannya dilakukan di bank BNI.
Lain halnya dengan pembuatan visa Inggris, yang mengharuskan saya melakukan perjalanan ke Jakarta lagi. Dokumen yang disyaratkan juga lumayan banyak. Total biaya pengajuannya termasuk biaya asuransi kesehatan dan tes kesehatan TBC adalah kurang lebih Rp 10.000.000,-. Pengumpulan berkas dan wawancara waktu itu dilakukan di sebuah plaza di daerah Kuningan. Proses wawancara sejatinya waktu itu akan dilakukan dalam Bahasa Inggris langsung dengan orang Inggris, namun karena satu dan lain hal saya hanya diberikan beberapa pertanyaan seputar rencana studi saya oleh seorang staff orang Indonesia yang sekaligus melakukan pengambilan foto dan sidik jari. Kurang lebih 1 jam proses pengurusan visa pun selesai, saya melanjutkan agenda hari itu untuk mengambil kontrak LPDP. Kontrak ini sendiri kurang lebih berisi tentang komitmen kita untuk bersungguh sungguh menjalankan kewajiban sebagai penerima beasiswa LPDP yang melakukan studi S2 di luar negeri. Kewajiban utama tentulah berkomitmen menyelesaikan studi tepat waktu dan kembali ke tanah air untuk mengabdikan ilmu yang telah didapat.

Hal lain yang saya persiapkan adalah tempat tinggal saat di London nanti. Saya lumayan beruntung ketika itu karena pihak universitas dalam hal ini University College London (UCL) sudah menyediakan akomodasi khusus untuk mahasiswa S2, selain juga akomodasi lain yang bahkan bukan milik universitas yang menjadi rekomendasi mereka. Hal ini tentu sangat membantu saya dan rekan lain yang tidak begitu paham dalam hal mencari tempat tinggal disana, terlebih tempat tinggal ini harus sudah dipastikan sebelum berangkat ke London, walau mungkin hanya sementara. Oleh karena itu ada beberapa rekan yang memilih tinggal di Wisma Indonesia yang berlokasi tidak terlalu jauh dari pusat kota London, untuk selanjutnya mencari akomodasi yang lebih cocok sesuai keinginan. Biaya tinggal di akomodasi yang dikelola oleh orang Indonesia ini adalah kurang lebih Rp 250.000,- per malam, jadi lumayan murah untuk tempat tinggal sementara beberapa hari. Ada juga rekan yang kebetulan memilki kenalan dengan orang Indonesia yang memang sudah tinggal disana dan kebetulan menawarkan satu kamar di rumahnya untuk disewa dalam jangka waktu beberapa bulan atau satu tahun.
Lain halnya dengan saya dan beberapa rekan lain yang cukup beruntung karena pengajuan secara online yang kami lakukan untuk bisa tinggal di akomodasi kampus diterima, sehingga kami tidak perlu repot lagi mencari tempat tinggal melalui agen tertentu. Lebih beruntung lagi karena biaya akomodasi per bulan nya terhitung murah untuk lokasi London yang terkenal dengan biaya tempat tinggal yang mahal, dan waktu tempuh hanya kurang lebih 15 menit dengan kereta api bawah Tanah (Underground) atau 25 menit dengan bus. Biaya per bulan waktu itu adalah kurang lebih Rp 8.000.000,-, dan kami harus membayar uang muka atau deposit sebesar kurang lebih Rp 9.000.000,- segera setelah mendapat pengumuman bahwa pengajuan kami diterima. Inilah saat dimana saya lumayan panik ketika itu, berhubung pembayaran deposit harus dilakukan melalui kartu kredit dan saya tidak pernah punya kartu tersebut. Sempat meminta bantuan ke beberapa teman yang mungkin punya kartu ini, tapi hasilnya nihil. Saya bahkan sempat berencana melakukan pembayaran melalui transfer antar rekening, tapi ternyata ini tidak memungkinkan dikarenakan biaya transfer yang sangat besar berhubung transfer dilakukan ke rekening luar negeri. Belakangan saya baru tahu bahwa selain kartu kredit, kartu debit sebenarnya juga bisa dipakai untuk melakukan pembayaran seperti ini. Jadilah waktu itu saya cukup menggunakan kartu ATM karena kartu ini bisa dipakai sepanjang memiliki logo VISA atau Mastercard.
Berikutnya yang saya persiapkan tiada lain dan tiada bukan adalah tiket pesawat dari Belitung ke Jakarta dan dari Jakarta ke London. Biaya penerbangan ini sepenuhnya ditanggung oleh LPDP, dengan pembelian tiket pesawat saya lakukan sendiri terlebih dahulu untuk nanti akan diganti oleh LPDP. Waktu itu saya membeli tiket Jakarta-London seharga kurang lebih Rp 9.000.000,-, harga yang terhitung mahal sebenarnya karena saya melakukan pembelian kurang lebih 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan. Hal itu bukan tanpa alasan, saya mesti menunggu status pengajuan visa Inggris terlebih dahulu. Karena jika pengajuan ditolak, tentulah akan sia-sia tiket yang sudah saya beli. Belakangan saya tahu bahwa memang pengajuan visa Inggris tidak selamanya selalu diterima, yang berarti kita tidak boleh berkunjung ke Inggris baik untuk studi maupun sekedar berwisata tergantung dari jenis visa yang diajukan.
Persiapan terakhir berkaitan dengan kebutuhan sehari hari. Mulai dari pakaian, yang tidak terlalu banyak saya bawa dari Indonesia. Awalnya saat di Jakarta saya berencana sekalian membeli baju hangat, karena perjalanan ke Inggris akan tiba saat mulai memasuki musim dingin disana. Namun saya akhirnya memutuskan untuk membeli nya sekalian saat di London nanti, selain harganya yang akan lebih murah dibanding membeli di Indonesia, saya juga menjadi tidak perlu khawatir bagasi yang dibawa tidak melebihi batas yang dibolehkan yakni 30kg.

Selanjutnya saya juga mempersiapkan bahan bahan masakan yang saya pikir akan diperlukan saat masa masa awal tinggal di London dan sulit ditemukan di London. Saat itu saya membawa bumbu jadi seperti bumbu nasi goreng, bumbu ayam goreng, dan bumbu pecel. Ada juga beberapa sachet sambal terasi yang masuk di koper, selain juga kue nastar yang dibuat khusus oleh adik saya sebagai bekal selama di London jadi lumayan menghemat biaya pembelian snack. Makanan Asia seperti Chinese Food memang tersedia banyak di London yang merupakan kota metropolitan dengan populasi dari berbagai bangsa bangsa di dunia, dan belakangan setelah tiba di London saya baru tahu bahwa bumbu jadi seperti yang saya bawa banyak tersedia di supermarket Asia di London yakni tepatnya di kawasan China Town. Jangan ditanya makanan yang membuat kangen kalau sedang di luar negeri yakni mi instan, banyak dan bisa ditemukan dengan mudah di London. Tapi jangan berharap harganya akan sama dengan di Indonesia, karena satu bungkus mi instan harga nya kurang lebih 30 cents atau sekitar Rp 6.000,-. Lain pula jika kangen dengan tempe, harganya bisa mencapai Rp 70.000,- per buah dibandingkan di Indonesia yang hanya Rp 7.000,-.
Karena London bisa dikatakan ibukota nya dunia, jadi makanan khas negara negara di dunia banyak tersedia di London. Bahkan restoran yang menyajikan makanan Indonesia pun ada disini. Saya sendiri biasa memasak makanan untuk sehari hari, walau hanya dengan lauk dari ikan, ayam, atau sayuran dengan memakai bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai. Tidak seenak makanan di rumah sendiri tentunya, tapi tentu lebih enak dari makanan yang dibeli di luar seperti sandwich atau burger. Di awal saya memang belum terbiasa dengan makanan cepat saji seperti itu, tapi seiring waktu lidah sudah bisa menerima tumpukan roti yang didalamnya berisi ikan atau daging dan sayuran. Itulah mengapa saya pikir bumbu jadi dari Indonesia cukup membantu saya di awal awal tinggal di London karena memakan sandwich misalnya tentu akan terasa sangat tidak enak.
Dari keseluruhan rangkaian proses mulai dari masa melamar beasiswa sampai akhirnya siap berangkat ke Inggris, terasa sekali begitu panjang tahapan yang harus dilalui. Mungkin mirip panjangnya dengan waktu perjalanan dari Jakarta ke London yakni sekitar 13 jam lamanya, itupun jika menumpangi pesawat Garuda yang telah membuka rute langsung Jakarta-London PP. Namun, jika dibuat dalam daftar pengalaman dan kesan dari perjalanan studi ini, panjangnya juga akan menyaingi panjang proses seleksi dan pendaftaran universitas serta panjang perjalanan penerbangan kesana.

Akhir kata semoga cerita ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Terimakasih.    

Pengalaman dengan Beasiswa IELSP, Fulbright dan LPDP (bagian 1)


Beasiswa IELSP
  • Mengikuti Jejak Seorang Teman Kuliah
Adalah Negeri Paman Sam yang ketika itu menjadi tujuan dari mimpi saya ke luar negeri, dan saat itu adalah pertama kalinya saya berkeinginan menginjakkan kaki disana. Kira-kira tahun 2010, ada salah seorang teman kuliah saya di Jurusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang baru saja kembali dari kursus singkatnya di Iowa State University, USA, di bidang American Studies. Saat itu ia terpilih bersama beberapa mahasiswa S1 dari daerah lainnya di Indonesia untuk mengikuti kuliah singkat selama dua bulan di Amerika sebagai bagian dari program bernama IELSP (Indonesian English Language Study Program). Program ini disponsori oleh pemerintah USA dengan lembaga bernama the Institute for International Education (IIE) sebagai penyelenggara, mulai dari seleksi sampai keberangkatan peserta yang terpilih. Yang juga membuat program ini diminati adalah semua biaya terkait keikutsertaan di program ini gratis tanpa dipungut biaya sedikitpun.
Betapa tidak, setelah mendengar cerita dari teman saya tersebut sontak pikiran saya langsung tertuju untuk melakukan hal yang sama. Saya ingat sekali obrolan kami ketika itu di sebuah kantin dekat kampus telah menginspirasi saya untuk segera mengikuti seleksi program yang sama. Teman saya ini pun langsung menyarankan untuk mengontak salah satu dosen kami yang bisa diminta bantuan untuk memberi surat rekomendasi yang merupakan salah satu syarat untuk mengikuti seleksi. Saya pun dengan semangat mempersiapkan semua dokumen yang disyaratkan. Bisa dikatakan inilah pengalaman pertama saya mengikuti seleksi beasiswa ke luar negeri, walaupun usaha saya tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang saya inginkan. 
  • Kegagalan Pertama

Ya, usaha pertama saya untuk mendapatkan beasiswa ke Amerika berhenti setelah saya tahu bahwa saya tidak mendapat panggilan untuk mengikuti wawancara yang merupakan tahap berikutnya setelah seleksi dokumen. Kabar buruk tersebut bahkan saya ketahui dari dosen pemberi surat rekomendasi yang menanyakan lewat pesan singkat ketidakhadiran saya saat seleksi wawancara. Rasa kecewa tentu saja menghampiri ketika itu. Saya pun langsung memberi tahu teman saya perihal ketidakberhasilan ini. Ada juga salah seorang teman yang juga saya kabari, dia sempat saya mintai tolong untuk mengantarkan salah satu dokumen persyaratan ke pihak penyelenggara di Bali. Tak terkecuali Ibu saya, yang saya telpon ketika hendak mengikuti tes TOEFL ITP dengan maksud meminta dukungan dan doa restu. Masih terkenang di benak saya di pagi hari sebelum tes dimulai saya sengaja minum segelas susu sesuai saran yang saya peroleh di internet, dan meminum susu tersebut saya lakukan sambil berbicara dengan Ibu saya lewat telpon. Walau akhirnya tidak lolos ke tahap interview, meski telah dibarengi dengan usaha dan doa dari orang tua dan sahabat, termasuk konsumsi susu di pagi hari menjelang tes, paling tidak kegagalan yang telah saya dapatkan memberi pelajaran berharga untuk langkah langkah selanjutnya.
Beasiswa Fulbright
  • Usaha Pertama
Tahun 2012 adalah kali pertama saya mencoba  mengikuti seleksi penerima beasiswa Fulbright yang juga disponsori oleh pemerintah Amerika bagi lulusan S1 yang ingin melanjutkan studi S2 di Negeri Paman Sam itu. Di tahun yang sama saya sudah mulai mengajar Bahasa Inggris di lembaga yang saya dirikan di desa tempat saya tinggal di Belitung. Rasanya waktu itu saya memperoleh informasi tentang beasiwa ini dari postingan seorang teman di Facebook. Tenggat waktu pengumpulan berkas persyaratan ketika itu adalah pertengahan April dan saya mengirim semua berkas lewat pos dari Belitung ke kantor AMINEF (American Indonesian Educational Foundation) di Jakarta yang merupakan lembaga yang ditunjuk sebagai penyelenggara proses seleksi. Untuk surat rekomendasi tahun ini kembali saya meminta bantuan kepada salah satu dosen saya saat kuliah S1 dulu, dosen yang sama yang memberikan surat rekomendasi untuk saya saat melamar beasiswa IELSP. Namun sayang kembali lagi saya harus menyampaikan kabar buruk kepada Beliau karna saya kembali gagal di tahap awal seleksi dokumen beasiswa Fulbright. Walaupun begitu dosen saya ini tetap menyarankan agar saya tidak putus asa dan tetap mencoba kembali di kesempatan lain.
  • Usaha Kedua
Di tahun berikutnya yakni tahun 2013 saya kembali mengikuti seleksi beasiswa Fulbright. Kali ini, mungkin karna berkaca dari pengalaman gagal sebelumnya, saya tidak terlalu mengikuti informasi terbaru tentang beasiswa ini seolah-olah tidak akan pernah mencoba untuk melamar kembali. Niat untuk itu pun bahkan muncul setelah mengirim email kepada dosen saya sebelumnya dan saat itu email tersebut sama sekali tidak bertujuan untuk meminta surat rekomendasi. Email tersebut  tertanggal 1 April 2013, dan dibalas hari itu juga oleh dosen saya dengan kembali menyarankan untuk melamar kembali beasiswa Fulbright. Saya pun lalu melihat website AMINEF untuk mencari informasi tentang jadwal seleksi. Seperti di tahun sebelumnya, seleksi awal berkas juga berakhir pertengahan April 2013. Sebetulnya ada rasa tidak nyaman untuk meminta bantuan lagi pada dosen saya tersebut untuk memberikan surat rekomendasi sebagai salah satu syarat untuk melamar beasiswa ini. Oleh karna itulah, dilatarbelakangi oleh keraguan karna rasa tidak nyaman tadi, saya baru menyampaikan maksud untuk kembali melamar beasiswa Fulbright pada tanggal 9 April 2013, enam hari sebelum tenggat waktu pengumpulan berkas persyaratan. Jadilah dalam waktu enam hari tersebut saya kelabakan mempersiapkan ini itu, meskipun salah satu syarat yang penting juga yakni Personal Statement yang isinya essay maksimal 500 kata tentang diri kita sendiri dan alasan memilih studi lanjut di Amerika sudah saya persiapkan dan tinggal sedikit penyuntingan dari essay sebelumnya yang sudah dibuat. Semua dokumen lalu saya kirim 3 hari menjelang batas waktu pengumpulan, kecuali surat rekomendasi yang dikirim langsung oleh dosen saya melalui email ke AMINEF. Pihak panitia memang membolehkan pengiriman dokumen selain surat lamaran melewati batas waktu walaupun hal ini sebenarnya tidak disarankan.
Kurang lebih dua bulan berselang, saya masih ingat sekali ketika itu melihat email masuk melalui smartphone saya yang sedang diisi daya nya di dekat jendela ruangan tempat biasa mengajar. Tanggal 27 Juni 2013, alangkah bahagianya saat itu melihat nama saya di email tersebut sebagai salah satu dari beberapa orang yang belakangan saya ketahui berasal dari regional Sumatera yang terpilih untuk mengikuti seleksi berikutnya yakni wawancara di Jakarta. Dalam keadaan senang bukan kepalang, saya langsung menelpon kedua orang tua yang ketika itu sedang berada di Bali untuk memberitahu perihal undangan untuk mengikuti wawancara di kantor AMINEF di Jakarta tanggal 10 Juli 2013. Memang ini adalah ibarat berita besar terlebih karena di tahun sebelumnya gagal untuk lolos ke tahap wawancara. Masih teringat ketika itu salah satu orang yang mewawancarai saya, dari total lima orang pewawancara, mengatakan bahwa dengan berhasil lolos sampai ke tahap wawancara adalah hal yang luar biasa mengingat peminat beasiswa Fulbright di Indonesia sangat banyak namun hanya beberapa saja yang akhirnya diundang untuk mengikuti wawancara.
Entah hal ini disampaikan karena saya ketika itu terlihat belum berpeluang untuk lolos seleksi wawancara, saya tidak begitu tahu. Dari pertanyaan yang diajukan, sepertinya terlihat tidak ada ketertarikan akan kepribadian ataupun rencana studi saya. Jawaban yang saya berikan ketika itu sepertinya kurang meyakinkan bagi pewawancara. Memang rasanya saya tidak terlalu banyak meluangkan waktu untuk mempersiapkan wawancara tersebut, misalnya saja mencari informasi yang mendalam tentang universitas tujuan saya di Amerika. Saya memang hanya bisa menduga-duga, namun yang pasti adalah saya harus menerima kenyataan tidak mendapat email pemberitahuan tentang kelolosan yang waktu itu terjadwal bulan Agustus. Rekan saya yang juga berasal dari propinsi Bangka Belitung langsung menanyakan perihal email dari AMINEF tersebut. Mereka yang saat itu berprofesi sebagai dosen di Universitas Bangka Belitung di Pangkal Pinang dengan berbaik hati menasehati untuk tidak putus asa dan terus berusaha untuk meraih kesempatan belajar di Amerika. Mereka juga waktu itu bercerita tentang perjuangan mereka sebelumnya dalam mengikuti seleksi beasiswa seperti ini yang juga tak jarang menemui kegagalan sampai berkali-kali.
Di balik kegagalan kedua tersebut, ada cerita menarik yang rasanya perlu saya sampaikan di tulisan ini karena pengalaman menarik tersebut bahkan tak terlupakan sampai saat ini. Pertama adalah pengalaman ketika pertama kali datang ke kota Jakarta. Memang kota ini bisa ditempuh hanya dalam waktu kurang dari satu jam dari tempat saya tinggal dengan menggunakan pesawat, namun rasanya hanya perlu bepergian ke kota tersebut jika ada urusan tertentu saja. Dan memang kebetulan keberangkatan ke Jakarta waktu itu sepenuhnya dibiayai oleh AMINEF. Tiket pesawat pun sudah disiapkan sehingga tinggal menunggu hari keberangkatan termasuk kepulangan saja. Nah disinilah pengalaman menarik itu terjadi. Mungkin karena panitia AMINEF beranggapan bahwa di propinsi tempat saya tinggal yakni Bangka Belitung hanya ada satu bandara yakni Bandara Depati Amir. Mungkin juga panitia berpikiran bahwa Bangka dan Belitung terletak dalam satu kawasan, padahal terpisah oleh laut dengan waktu tempuh yang bisa memakan waktu sekitar 4 jam lamanya. Jadilah ketika itu saya dikirimkan tiket elektronik dengan rute Depati Amir-Soekarno Hatta PP. Tentu tidak mungkin berangkat ke Jakarta via Pangkal Pinang yang notabene terletak di Pulau Bangka, selain juga mempertimbangkan efisiensi waktu. Saya pun memutuskan untuk tetap berangkat dari Bandara Hananjoedin di Belitung ke Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta dan memesan sendiri tiket pesawat. Hal ini tentunya dilakukan setelah berkonsultasi dengan pihak panitia karena mereka tetap menanggung biaya yang saya keluarkan sendiri tersebut.
Tiba di Jakarta satu hari sebelum jadwal wawancara, hal-hal tak terlupakan saya alami ketika waktu itu menumpang di kosan salah seorang teman baik yang juga dulu berkuliah di Universitas Udayana dan saat itu sedang bekerja di kantor bank BCA di daerah Slipi. Pagi hari sekitar jam 10 bis Damri dari Bandara Soekarno-Hatta berhenti tepat di sebelah kantor tempat teman saya bekerja. Saya memang berniat untuk menemui nya terlebih dahulu di kantor nya sekalian untuk mengambil kunci kos nya. Betapa kagetnya dia ketika itu, melihat saya duduk seorang diri di tempat yang bahkan bukan tempat duduk di luar gedung tinggi tempat dia bekerja, terlihat seperti pengamen kata dia karna kebetulan waktu itu saya berpakaian dengan memakai jaket hoodie warna hitam dengan tas yang mungkin terlihat lusuh. Sangat jauh berbeda dengan penampilan nya yang ketika itu sangat rapi dengan kemeja yang terlihat formal dan seperti berkelas. Dia pun menyarankan untuk menunggu di dalam lobby gedung, namun akhirnya saya memutuskan untuk berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan di dekat gedung BCA. Sekedar melihat-lihat toko toko di dalam mall tersebut, saya lalu menemui teman saya kembali tepat saat jam makan siang yang memungkinkan baginya untuk mengantar saya ke kosannya. Kami pun menaiki bis kota yang bagi saya terkesan pengap dan berdebu dengan kondisi jalanan Jakarta yang ramai dibawah terik sinar matahari siang itu. Untunglah jarak tempuh ke kos nya tidak terlalu jauh, dan dalam beberapa menit kami pun sampai di tujuan. Kos tersebut dilengkapi dengan fasilitas WI-FI, yang ketika itu masih merupakan hal yang langka tidak seperti saat ini dengan ketersediaan jaringan internet cepat di hampir sebagian besar tempat umum. Selang beberapa menit teman saya lalu bergegas kembali ke kantor nya untuk kembali bekerja.

Malam harinya, teman saya ini menyempatkan diri untuk membantu dalam berlatih wawancara. Saya pun diminta waktu itu untuk sekalian memakai pakaian yang akan dipakai keesokan harinya untuk wawancara. Dia juga sangat berbaik hati memberi baju kemeja nya yang menurutnya lebih layak dipakai untuk sebuah wawancara. Tak lupa dasi hitam miliknya pun ia berikan saat itu. Dia bahkan meminta saya untuk memakai pembersih muka miliknya malam itu agar ikut membantu menunjang penampilan yang maksimal untuk wawancara. Mungkin benar adanya saat itu saya datang ke kota besar sekelas Jakarta dengan wajah yang kusam, tentulah akan memberi kesan kurang baik di hadapan pewawancara. Kebaikan teman saya ini tidak berhenti sampai disitu. Ia bahkan terus mengirimi pesan singkat mulai dari saya meninggalkan kosannya untuk berangkat ke lokasi wawancara di kawasan Sudirman sampai proses wawancara selesai. Hal itu juga sehubungan dengan keadaan saya yang belum begitu familiar dengan sistem transportasi di Jakarta. Saya sungguh berterimakasih atas apa yang telah ia lakukan untuk mendukung keikutsertaan saya dalam wawancara beasiswa Fulbright, walau dengan berat hati saya akhirnya memberi kabar buruk kepadanya tentang kegagalan di seleksi kali ini.

Cerita menarik selanjutnya adalah tentang kepulangan kembali ke Belitung. Karena tiket pesawat sudah dibelikan oleh panitia dengan rute Soekarno Hatta-Depati Amir, saya tetap pulang dengan tiket ini dengan tetap membeli tiket pesawat rute lanjutan Depati Amir (Bangka)-Hananjoedin (Belitung), tentunya dengan biaya yang sudah ditanggung panitia. Dari lokasi wawancara saya bersama dua orang rekan dari Bangka yang juga mengikuti wawancara ketika itu berangkat naik taksi ke Bandara Soetta. Tiba di Bandara Depati Amir, rekan saya tersebut dijemput oleh keluarga nya masing masing, dan tinggal saya yang akan melanjutkan penerbangan ke Belitung. Dan tibalah saat ketika saya menerima pemberitahuan bahwa pesawat yang hendak saya tumpangi tidak jadi berangkat hari itu dikarenakan kendala teknis. Alhasil saya mendapat kompensasi menginap di salah satu hotel berbintang di Pangkal Pinang. Rasa kesal karena tidak jadi berangkat hari itu lumayan tergantikan oleh kenyamanan beristirahat di kamar hotel yang sangat besar yang saya pikir harga per malam nya hampir satu juta rupiah. Keesokan harinya, karena pesawat yang melayani rute Bangka-Belitung masih mengalami kendala teknis, saya lalu memutuskan untuk pergi ke Belitung lewat laut dengan menumpangi kapal. Entah kebetulan atau bagaimana, di kapal tersebut saya menjumpai dua orang wanita yang juga terpaksa naik kapal ke Belitung, bukan karena pesawat nya tidak jadi terbang seperti kasus yang saya alami, tapi karena salah membeli tiket pesawat. Hampir serupa dengan panitia AMINEF yang membelikan saya tiket pesawat, mereka juga berpikiran bahwa Belitung dan Bangka berada di satu kawasan dengan hanya satu bandar udara sehingga justru membeli tiket ke Bangka dan bukan ke Belitung. Dari cerita para traveller tersebut, termasuk cerita perjalanan saya sendiri, paling tidak hal yang saya ceritakan kembali ke orang lain adalah tidak hanya tentang kegagalan saya meraih beasiwa, namun juga cerita di balik semua proses yang saya ikuti.
  • Usaha Ketiga 
Usaha ketiga saya lakukan di tahun 2015, melewati kesempatan di tahun 2014. Saya tidak ingat pasti mengapa memutuskan untuk tidak melamar beasiswa Fulbright di tahun 2014, mungkin kah masih trauma dengan kegagalan sebelumnya saya juga tidak tahu pasti. Terlebih lagi di tahun tersebut saya begitu disibukkan dengan kegiatan mengajar sekaligus mengelola lembaga kursus yang saya dirikan. Tahun 2014 juga adalah tahun yang bersejarah bagi lembaga kursus yang saya dirikan karna tepat pada hari jadi ketiga lembaga ini sudah secara resmi beroperasi, diikuti dengan penggunaan bahan ajar yang ‘legal’ ditambah pula dengan penambahan jumlah siswa yang berminat belajar Bahasa Inggris. Di tahun itu pula ruangan baru tempat belajar berdiri ditambah pula dengan adanya dua orang yang memberikan tambahan tenaga dalam hal urusan administrasi. Cerita lengkapnya bisa dilihat di tulisan saya sebelumnya.
Meski saya melewati satu tahun tanpa mengikuti proses seleksi, tidak berarti memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan segalanya di tahun 2015. Kegagalan kembali terjadi, dan kali ini perjuangan juga harus berakhir di tahap wawancara. Perbedaan dengan persiapan seleksi tahun 2013 adalah kali ini saya merasa sudah memilki alasan yang kuat untuk melanjutkan studi di institusi tujuan di Amerika.  Dilatarbelakangi oleh pengalaman mengajar yang telah melebihi dua tahun ketika itu, alasan melanjutkan studi di bidang pengajaran Bahasa Inggris sangat terkait erat dengan masalah masalah yang saya temui saat mengajar dan bagaimana institusi tujuan menawarkan mata kuliah yang bisa  diambil untuk memperkuat skill mengajar yang nantinya bisa digunakan untuk membantu siapapun yang sedang belajar Bahasa Inggris termasuk berbagi dengan para guru lain di Indonesia. Entah cara penyampaian kepada pewawancara ketika itu yang belum maksimal, atau alasan studi yang sebenarnya belum bisa diterima, atau ada alasan lain saya tidak pernah tahu. Saya bahkan mengirim email kepada pihak AMINEF terkait hal ini namun mereka menyatakan bahwa pihak panitia tidak dapat memberi tahu hal tersebut.

Walau kegagalan demi kegagalan yang saya alami, rasanya ada hikmah dari ketidakberhasilan mendapat beasiswa studi S2 di Amerika. Salah satunya adalah mungkin berkaitan dengan kesempatan berikutnya ketika berhasil mendapat beasiswa LPDP. Saya begitu bersyukur ketika pada akhirnya tergabung dalam ikatan para penerima beasiswa ini yang menurut saya adalah orang orang yang hebat di bidang nya masing masing dan yang paling penting adalah mereka yang memiliki komitmen untuk mengabdi sepenuhnya bagi Tanah Air Indonesia, mengingat semua biaya studi ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Ini bukan berarti para penerima beasiswa Fulbright tidak memilki jiwa dan semangat yang sama dengan penerima beasiwa LPDP, namun yang jelas sedari awal mengikuti proses seleksi hal yang bisa saya pastikan adalah LPDP betul betul menekankan semangat untuk menjadi bagian dari proses pembangunan di Indonesia. Jika sebelumnya berhasil mendapat beasiswa Fulbright, saya yakin pasti ada hal positif dan semangat yang saya dapat walau mungkin dalam bentuk lain. Pada akhirnya, inti dari semua ini adalah rasa syukur atas kesempatan yang sangat berarti setelah mendapat kesempatan studi di Inggris melalui beasiwa beasiswa LPDP.



(bersambung ke bagian 2)

Rabu, 15 November 2017

Pengalaman dan Kesan Kuliah di London


  • Sebuah Ungkapan Rasa Syukur
Sungguh sebuah anugerah sebenarnya bagi saya ketika mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah dengan beasiswa, keluar negeri pula. Dengan mengingat-ingat proses yang saya lalui jauh sebelum memulai studi ini, hanya rasa syukur yang terbesit di benak saya atas segala yang telah saya dapat. Saya ingat sekali sehari sebelum saya berangkat ke Jakarta untuk tes seleksi beasiswa saya melakukan persembahyangan ke pura ditemani oleh ibu saya dan persembahyangan itu dipimpin oleh pemangku pura, padahal persembahyangan bersama sebenarnya akan dilaksanakan keesokan harinya yakni di Hari Raya Galungan. Sehari sebelum pengumuman kelolosan beasiswa, saya juga mengikuti persembahyangan di pura dalam rangka Hari Raya Nyepi yang saat itu jatuh tepat saat terjadi gerhana matahari Maret 2016. Di hari keberangkatan saya ke London waktu itu bertepatan dengan Hari Raya Kuningan saya kembali mengikuti persembahyangan bersama di pura di kampung tempat saya tinggal. Dari rangkaian persembahyangan yang saya ikuti tersebut, saya sadar bahwa saya telah diberi beberapa kali kesempatan untuk memohon restu dan keberkahan kepada Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ketika mengetahui bahwa saya lolos seleksi beasiswa, lalu diterima di universitas tujuan di Inggris, dan terakhir studi saya berjalan lancar sampai selesai, rasa-rasanya kebaikan menghampiri saya tiada hentinya. Satu lagi ungkapan rasa syukur saya adalah ketika mendapat kesempatan berkunjung ke Swiss dan melihat pemandangan yang luar biasa indah. Saya sangat bersyukur ketika itu bisa melihat langsung keindahannya dan tak henti henti menyebut nama-Nya ketika melihat pemandangan bukit hijau bersama pohon cemaranya dan gunung bersalju termasuk menyentuh dan berjalan di atas salju untuk pertama kalinya. Benar benar ini adalah karunia Tuhan yang luar biasa.
  • Kesan Utama
Banyak yang bertanya tentang bagaimana rasanya tinggal dan belajar di luar negeri seperti London. Dengan cepat tentunya saya menjawab tinggal di London enak, banyak tempat main dan nongkrong terlebih karna London adalah kota metropolitan dan orang orang seluruh dunia datang ke London. Segala macam fasilititas publik seperti moda transportasi lengkap dan canggih, area terbuka hijau yang luas dan banyak, meseum yang sebagian besar gratis tanpa dipungut biaya masuk termasuk perpustakaan dengan koleksi buku yang beragam, internet yang cepat dan stabil, sampai supemarket dan restoran yang bahkan menyediakan makanan Asia termasuk Indonesia. Walau Inggris ketika saya berada sedang disorot oleh dunia akibat keputusan nya untuk keluar dari Uni Eropa atau yang lebih dikenal dengan Brexit, termasuk insiden bom bunuh diri dan beberapa penusukan warga di jalanan kota London, hal ini tidak berdampak negatif pada keberlangsungan studi saya termasuk mahasiswa Indonesia lainnya. Belum lagi Inggris dengan London sebagai ibu kotanya sudah dikenal sejak lama sebagai kiblat dari berbagai hal termasuk pendidikan. Siapa yang tidak pernah mendengar Oxford University. Universitas tertua kedua di dunia ini, termasuk universitas tua lainnya di Inggris telah menjadikan Negeri Ratu Elizabeth ini menjadi pusat pendidikan dan penelitian dunia. Nama nama ilmuwan yang kita jumpai di buku buku pelajaran sekolah, sampai nama nama peraih penghargaan bergengsi Nobel, merupakan alumni universitas yang ada di Inggris. Belum lagi Inggris adalah rumah bagi klub klub sepakbola tersohor seperti Manchester United, Chelsea, Arsenal, dan klub Inggris lainnya. Seandainya saja saya adalah penggemar sepakbola, sungguh berkunjung ke Inggris pastilah akan menjadi mimpi yang menjadi nyata. Jika berbicara tentang seni musik, banyak penyanyi ternama termasuk yang legendaris juga berasal dari Inggris. Saya bahkan sempat berkungjung ke Liverpool dimana band legendaris The Beatles lahir. Yang tak kalah penting, bahasa internasional yakni Bahasa Inggris tentunya berasal dari Inggris.


Semua hal tentang Inggris tersebut lah yang membuat saya sangat antusias melanjutkan studi di Inggris dan berharap dapat memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin belajar di pusat pendidikan dunia tersebut. Kesempatan besar ini tentunya tiada lain dan tiada bukan berkat beasiswa yang saya dapatkan dari pemerintah Indonesia melalui sebuah lembaga yang bernaung di bawah Kementrian Keuangan RI yakni LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Mulai dari biaya kuliah, biaya hidup di London yang serba mahal terutama bagi kita orang Indonesia dengan perbedaan nilai mata uang yang tinggi dibanding mata uang Inggris yakni Poundsterling, semuanya ditanggung dan saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun bahkan biaya transportasi pulang pergi pun ditanggung.
  • Kewajiban Utama
Mungkin ada yang berfikir bahwa dengan mengenyam pendidikan di luar negeri di negara seperti di Inggris saya banyak menghabiskan waktu dengan jalan jalan keliling Eropa. Memang betul di sela sela libur setelah masa kuliah selesai saya sempat berkunjung ke enam negara eropa yakni Perancis, Belanda, Belgia, Spanyol, Italia, dan Swiss. Namun, itu hanyalah apa yang terlihat di media selama ini (Read: media sosial saya). ‘Plesiran’ itu hanya sebagian kecil dari aktivitas saya selama studi di Inggris, dan itu juga saya lakukan sebagai bentuk penghargaan bagi diri sendiri atas kerja keras selama perkuliahan. Uang yang dipakai adalah kumpulan tabungan dari jatah biaya hidup yang saya sisihkan setiap harinya. Perlu diketahui bahwa beasiswa yang saya terima yang nilainya hampir 1 miliar berasal dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat Indonesia kepada negara. Itu berarti uang yang saya pakai selama kuliah di London adalah uang milik rakyat Indonesia. Dengan kata lain saya berhutang pada rakyat Indonesia. Nah bagaimana saya membayarnya? Dengan komitmen. Saya berkomitmen dari awal kuliah untuk sungguh sungguh mengikuti perkuliahan termasuk mengikuti seminar atau talk yang banyak di selenggarakan oleh pihak kampus, dan mengerjakan tugas kuliah yang diberikan. Selain terdapat modul wajib yang harus saya ambil, saya juga bebas memilih dari sekian banyak modul pilihan. Ada dua modul yang saya pilih yakni berhubungan dengan pembuatan material bahan ajar dan pendidikan guru Bahasa Inggris. Dua bidang tersebut lah yang ingin saya tekuni setelah studi dengan harapan dapat berkontribusi sesuai bidang keilmuan saya. Progress perkuliahan juga saya laporkan ke LPDP sebagai bentuk pertanggungjawaban atas beasiswa yang saya terima.


Di sisi lain, saya tentunya membawa nama Indonesia ketika berada di Inggris, dan hal hal positif yang wajib saya lakukan agar memberi kesan baik bagi mahasiswa dari negara lain disana. Banyak teman teman kuliah saya yang mengaku salut dengan mahasiswa Indonesia di luar negeri karna ketekunan dan prestasi yang dimilikinya. Citra positif inilah yang dengan kukuh saya dan mahasiwa Indonesia lainnya berusaha pertahankan. Mahasiswa Indonesia juga dikenal sangat kompak, terbukti dengan banyaknya event event Indonesia seperti pertunjukan seni budaya yang dipelopori dan dimeriahkan orang orang Indonesia yang berada di luar negeri. Dengan keterlibatan saya di organisasi mahasiswa Indonesia seperti PPIUK, ada banyak kegiatan bertema Indonesia yang diselenggarakan di Inggris dimana saya menjadi panitia maupun peserta. Orang Indonesia di luar negeri juga dikenal mudah bergaul dengan warga negara lain. Saya sendiri berteman baik dengan mahasiswa lain seperti dari Tiongkok, Jepang, Korea, Amerika, termasuk Inggris sendiri. Tidak jarang setelah jam perkuliahan kami bertemu kembali saat makan malam di restoran negara masing masing. Untuk pertama kalinya saya makan sushi dan makanan Jepang lain di London meskipun restoran Jepang sebenarnya sudah banyak di Indonesia. Sungguh pengalaman yang luar biasa ketika memiliki teman internasional dari berbagai negara yang bahkan ikut berperan dalam kelancaran perkuliahan saya.
  • Kesan Lain
Kesan pertama berkaitan dengan cuaca disana yang sangat dingin terutama bagi kita orang Indonesia yang tinggal di daerah beriklim tropis dan selalu mendapat sinar matahari sepanjang tahun. Bagi saya yang pertama kali tinggal di negara dengan iklim yang berbeda, selain juga dalam keadaan jauh dari keluarga, belum lagi makanan yang dijual tidak seperti yang kita temui di negara asal tentunya sedikit banyak menggangu konsentrasi belajar. Di tengah kesulitan di masa masa awal kuliah tersebut, dengan cepat saya akhirnya bisa menyesuaikan diri berkat dukungan dari banyak pihak termasuk teman teman kuliah yang kompak mendukung proses belajar saya. Saya tidak ragu menceritakan kepada mereka jika ada masalah sampai yang personal sekalipun yang akan mengganggu fokus studi saya. Saya merasa beruntung di awal masa perkuliahan saya tinggal bersama dengan seorang teman orang Indonesia yang juga mengambil bidang studi yang sama. Dengan begitu, kami sering berdiskusi membicarakan apapun terkait perkuliahan kami. Tindakan saling support seperti ini menurut saya sangat penting terutama bagi mahasiswa asing seperti saya dengan suasana perkuliahan yang sangat berbeda dengan apa yang pernah dialami ketika di negara sendiri. Di apartemen tempat saya tinggal saya juga sering menghabiskan waktu senggang dengan masak makanan Indonesia bersama mahasiswa Indonesia lainnya yang tinggal disana, bahkan tak jarang kami main kartu untuk sekedar menghibur diri setelah penat mengerjakan tugas kuliah.

Berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, saya juga merasa sangat beruntung bisa belajar di Inggris. Pertama, kampus saya memiliki koleksi buku bacaan untuk kuliah yang sangat banyak dan lengkap, termasuk sumber bacaan online seperti jurnal yang bisa diakses secara gratis. Belum lagi kesempatan yang saya dapat untuk bertemu dan berteman dengan orang orang hebat dari seluruh Indonesia yang belajar di Inggris yang juga terpilih untuk mendapat beasiswa seperti LPDP dan Chavening. Dosen yang mengajar juga sangat professional. Di dalam kelas kami mahasiswa terus dipancing untuk berani mengungkapkan ide dan pendapat. Alhasil, diskusi kami di kelas diwarnai dengan keragaman karna mahasiswa dari negara Jepang misalnya tentunya punya pandangan dari perspektif yang berbeda dengan pandangan saya dan mahasiswa dari negara lain. Bahkan pandangan antar kami mahasiwa Indonesia bisa saja berbeda mengingat latar belakang pendidikan dan profesi kami yang berbeda. Tidak ada yang namanya pendapat yang salah yang mengundang cemoohan. Pendapat kita selalu dihargai sehingga tidak ada kecanggungan saat ditanyakan tentang pandangan kita. Itulah mengapa saya merasa setelah menyelesaikan studi ini rasanya dalam berbagai kesempatan saya merasa lebih berani untuk mengungkapkan pendapat atau pandangan pribadi saya.

Kesan berikutnya berkaitan dengan pandangan warga negara asing terhadap Indonesia. Ketika saya bercerita tentang Indonesia, mereka kagum dengan keragaman budaya yang kita miliki. Inilah yang ingin saya tekankan. Kita tentunya telah menerima sekian banyak pengaruh dari budaya bangsa bangsa lain di dunia di era globalisasi seperti sekarang dalam hal berpakaian misalnya atau kesenian seperti lagu lagu barat yang belakangan ini sangat familiar di sekitar kita. Perlu diketahui bahwa orang Barat sangat mengagumi kita orang Indonesia karna kita memiliki ciri khas dan identitas yang membedakan kita dengan bangsa lain. Oleh karena itu, saya pribadi sangat mendukung sebuah kegiatan keagamaan rutin di kampung saya di Belitung dan saya sangat senang ketika melihat anak anak sekolah semangat belajar kesenian lokal Bali terlebih itu diperuntukkan untuk aktivitas keagamaan seperti mekidung, membaca sloka, palawakya, dan lainnya. Orang luar begitu kagum dengan budaya kita. Saya beri contoh. Ketika kunjungan saya ke Eropa tepatnya ke Belgia saya sempat sembahyang di sebuah pura besar bernama Pura Santi Buana dan pura ini adalah satu satu nya di Eropa. Hal menarik nya adalah pura tersebut dibuat karna ada seorang warga Belgia yang sangat jatuh cinta dengan Bali setelah kunjungan nya ke Bali beberapa kali. Saking kagumnya dengan Bali dibuatlah pura disana, dan saat ini pura tersebut terletak di sebuah taman yang sangat luas dan menjadi objek wisata yang ramai pengunjung. Ini menunjukkan bahwa orang luar mengagumi budaya lokal kita. Oleh karna itu, kita patut bangga menjadi orang Indonesia termasuk sebagai orang Bali yang masih menjaga adat tradisi leluhur sampai sekarang, terlebih lagi anak anak sekolah yang saya perhatikan di lingkungan tempat saya tinggal sangat semangat mengikuti kegiatan kesenian lokal.

Kesan terakhir yang ingin saya sampaikan adalah ketika saya tahu bahwa benar hasil tidak membohongi sebuah usaha. Saya masih ingat usaha saya untuk mendapatkan beasiswa dan mengikuti tes agar bisa berkuliah di Inggris. Mulai dari tes Bahasa Inggris sampai tes wawancara untuk beasiswa. Saya pernah tiga kali gagal saat seleksi, tapi saya waktu itu yakin saya perlu usaha yang lebih keras lagi. Dan berkat dukungan dan doa banyak pihak, saya akhirnya bisa lolos seleksi dan bisa melanjutkan kuliah di Inggris. Jadi jika boleh berpesan, bagi kalian yang punya cita cita, apapun itu, terus perjuangkan jangan pernah menyerah. Belajarlah yang rajin mulai dari sekarang, kumpulkan prestasi sebanyak banyaknya sesuai bidang yang kalian suka.