Niat untuk kembali mencoba melamar beasiswa saat itu muncul ketika salah seorang rekan yang lolos seleksi beasiswa Fulbright tahun 2015 menyarankan untuk mencoba beasiswa yang disponsori penuh oleh pemerintah Indonesia melalui Kementrian Keuangan dengan sebuah lembaga bernama LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) sebagai penyelenggara. Itulah kali pertama saya mengetahui informasi tentang beasiswa ini, walaupun memang kehadirannya yang terbilang sangat baru yakni sejak tahun 2012, berbeda dengan beasiswa Fulbright misalnya yang sudah lama dikenal oleh banyak pihak.
Mengingat kegagalan dalam mendapat beasiswa Fulbright di tahun tersebut dan tahun tahun sebelumnya, saya pun berjanji pada diri sendiri ketika itu bahwa ini adalah usaha terakhir untuk meraih beasiswa studi S2 ke luar negeri. Saya pun menyampaikan janji ini kepada orang orang terdekat termasuk kedua orang tua dan dosen yang sebelumnya memberi surat rekomendasi. Ini bukan berarti bahwa saya yakin akan lolos kali ini, mengingat seleksi yang harus diikuti kali ini lumayan jauh berbeda dengan seleksi beasiswa Fulbright. Berikut saya jabarkan perbedaan keduanya dari segi proses seleksi.
Fulbright
|
LPDP
|
1 buah essay Personal Statement 500 kata dalam Bahasa Inggris
|
3 buah essay tentang cita cita, kesuksesan terbesar, dan kontribusi bagi Indonesia, masing masing 500 kata dalam Bahasa Indonesia
|
Pelamar memilih universitas tujuan di Amerika Serikat
|
Pelamar memilih universitas dimanapun di seluruh dunia yang masuk dalam daftar 300 universitas terbaik di dunia.
|
Seleksi wawancara dilakukan oleh 5 orang yang semuanya akademisi.
|
Seleksi wawancara dilakukan oleh 3 orang, dengan komposisi 2 orang akademisi dan 1 orang psikolog
|
Perbedaan dalam hal lain bisa dilihat melalui laman resmi masing masing program beasiswa tersebut disini;
http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-magister-doktor-2/
https://www.aminef.or.id/grants-for-indonesians/fulbright-programs/scholarship/fulbright-masters-degree-scholarship/
Saya merasa cukup beruntung ketika itu di tahun 2015 saat mendapat informasi kegagalan beasiswa Fulbright kira-kira pada bulan Agustus, pendaftaran beasiswa LPDP sedang dibuka sampai awal Januari 2016. Jadilah ketika itu saya disibukkan dengan berkas berkas yang disyaratkan termasuk ketiga essay yang saya sebutkan di atas. Salah satu persyaratan yang lumayan menyita waktu ketika itu adalah surat tanda diterimanya saya di universitas yang diminati atau yang biasa disebut Letter of Acceptance (LoA). Institusi tujuan ketika itu sama dengan institusi yang saya minati saat ikut seleksi Fulbright, yakni SIT Graduate Institute yang berlokasi di negara bagian Vermont, USA. Dari informasi yang diperoleh di laman resmi kampus tersebut, ditambah dengan informasi dari alumni dari Indonesia yang kebetulan saya kenal ketika itu dari Facebook, membuat saya yakin untuk mengambil jurusan Master of TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages) disana.
Untuk bisa diterima dan mendapat LoA dari SIT Graduate Institute saya pun harus mengikuti proses seleksi. Salah satu dokumen yang disyaratkan adalah skor tes Bahasa Inggris IELTS dengan minimal skor keseluruhan 7. Saya pun ketika itu langsung berangkat ke Bali untuk mengikuti tes untuk pertama kalinya sekaligus melakukan persiapan tes selama satu bulan penuh dengan melatih skill reading, listening, writing, dan speaking secara otodidak melalui soal soal yang sering diujikan. Cerita lengkap mulai dari persiapan tes sampai akhirnya memperoleh skor yang diinginkan ada di cerita saya lainnya di blog ini. Syukurlah ketika itu saya berhasil meraih skor 7 sesuai dengan yang disyaratkan oleh kampus tujuan.
Dokumen berikutnya yang dipersiapkan adalah dua buah essay yang kurang lebih seperti Personal Statement yang berisi tentang latar belakang pendidikan dan profesi kita sebagai pelamar, rencana studi termasuk mata kuliah yang ingin diambil, dan rencana kedepan setelah lulus kuliah, semuanya dalam Bahasa Inggris. Proses inilah yang menurut saya memakan waktu sangat lama ketika itu, karena mengharuskan saya melakukan literature review terkait kondisi pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia. Saya ingat sekali ketika itu keseharian dipenuhi dengan bacaan artikel tentang pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia, termasuk menuangkan apa yang didapat dari bacaan tersebut ke dalam essay dalam Bahasa Inggris yang tentunya tidak mudah dan sangat menguras waktu dan tenaga. Beban pikiran ketika itu juga ditambah dengan kesibukan mencari informasi tambahan tentang jurusan yang hendak diambil di kampus tujuan dengan menghubungi ketua jurusan kampus melalui email.

Usaha tersebut pun akhirnya membuahkan hasil. Satu minggu setelah mengumpulkan semua persyaratan, tanggal 15 Januari 2016 saya pun menerima surat LoA pertanda diterimanya di kampus SIT Graduate Institute di USA. Kabar baik lainnya adalah kampus tersebut juga menjadi kampus yang direkomendasikan oleh panitia beasiswa Fulbright kepada rekan saya yang ketika itu lolos seleksi. Saya senang bukan main saat itu. LoA sudah ditangan, ini berarti tinggal menyerahkan semua dokumen persyaratan beasiswa LPDP. Mengenai surat rekomendasi, saya juga merasa beruntung ketika itu. Sehubungan dengan status ketika itu sedang tidak bekerja, saya diperbolehkan untuk mendapat surat rekomendasi dari tokoh masyarakat di tempat saya tinggal. Jadilah ketika itu saya datang ke rumah guru SD terdahulu untuk meminta bantuan kepada Beliau. Dengan senang hati beliau mamberikan surat malam itu juga, terlebih ketika tahu saya sudah mendapat surat penerimaan di salah satu kampus di Amerika. Semua dokumen sudah lengkap dan dikumpulkan secara online melalui akun pelamar LPDP saya, tinggal menunggu selama satu bulan pengumuman seleksi administrasi tersebut.
Ada kejadian lucu ketika saya menerima pemberitahuan kelolosan seleksi berkas LPDP. Ketika mendapat pemberitahuan melalui SMS terlebih dahulu, saya pun langsung membuka email untuk melihat apakah nama saya ada di daftar nama nama yang lolos seleksi. Setelah berdoa sebentar sebelum membuka pengumuman, alangkah kagetnya ketika melihat tidak ada nama saya di dalam daftar. Saya kembali memastikan, dengan hanya melihat nama-nama yang berawalan huruf I tapi tetap tidak ada. Berpikir ada kesalahan penulisan nama, saya pun melihat nama-nama yang berawalan huruf W dengan asumsi nama saya terdaftar sebagai Wayan Darya tanpa ada huruf I di depan nya. Masih tetap sama. Tubuh saya lemas, tapi jantung masih berdetak kencang. Lalu secara tidak sengaja saya melihat tabel tersebut lebih ke bawah lagi, dan ternyata yang saya lihat sebelumnya adalah daftar pelamar yang lolos seleksi untuk tujuan universitas dalam negeri atau yang dikenal dengan istilah DN. Jantung makin berdetak cepat, dan ketika melihat urutan nama dengan awalan I disitulah saya baru melihat nama saya yang termasuk dalam daftar peserta dengan tujuan universitas luar negeri atau LN. Waktu itu saya mendaftar dengan tujuan universitas di USA, yakni University of Southern California (USC). Mengapa bukan SIT Graduate Institute? Belakangan baru saya tahu bahwa SIT tidak termasuk dalam daftar 300 universitas top dunia sesuai syarat LPDP. Dari namanya saja sudah jelas SIT pasti tidak termasuk di dalamnya karna statusnya yang masih sebagai institusi yang tidak berafiliasi dengan universitas manapun.
LPDP sebenarnya punya kebijakan untuk pindah universitas, dalam artian bahwa kita bisa mengganti universitas tujuan sesuai dengan saat pertama mendaftar dengan universitas tujuan yang baru, asal tetap masuk dalam daftar 300 universitas top dunia tadi, atau kalaupun tidak termasuk di daftar pilihan universitas tersebut harus mendapat rekomendasi dari dosen pembimbing ataupun dari Atase Pendidikan KBRI di negara tujuan studi. Hal ini sempat saya lakukan ketika itu, karena sangat yakin SIT Graduate Institute adalah pilihan yang tepat terlebih karena sudah mendapat LoA. Saya pun mengontak pihak KBRI terkait masalah ini, namun ternyata tidak diijinkan untuk memilih SIT sebagai tujuan studi. Sempat berkonsultasi dengan orang tua, mereka pun menyarankan untuk mengganti universitas tujuan, karena menurut mereka sebaiknya saya berkuliah di kampus yang terletak di pusat kota, seperti kalau di Amerika kota tujuan nya adalah New York atau Los Angeles. Saya memahami maksud mereka, bahwa dengan latar belakang tempat tinggal agak di pelosok tentulah lebih baik melihat ‘dunia baru’ di kota. Belakangan setelah akhirnya menempuh studi di pusat kota seperti London barulah saya mengerti akan dampak positif yang saya peroleh dari berkuliah disana. Memang pada akhirnya berkuliah dimanapun selalu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, karena juga banyak universitas top dunia yang berlokasi jauh dari pusat kota, sebut saja misalnya University of Oxford yang lumayan jauh dari pusat kota London, Inggris, atau Harvard University yang berlokasi jauh dari New York, USA. Bagaimanapun juga yang paling berperan penting adalah individu yang melakukan studi dimanapun itu, karena menurut saya adalah yang terpenting bagaimana memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memaksimalkan pengalaman menempuh studi. Cerita lengkap saya tentang pengalaman berkuliah di kota besar seperti London bisa dilihat di blog saya ini juga.
Kembali lagi ke proses seleksi, tahap selanjutnya adalah mengikuti seleksi wawancara yang berlokasi di Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) di daerah Bintaro, Jakarta. Lokasi ini memang sengaja dipilih yang terdekat dengan domisili kita sebagai pelamar. Dalam hal keberangkatan ke lokasi wawancara, ada sedikit perbedaan antara beasiswa LPDP dan Fulbright. Jika seperti sebelumnya yang saya sampaikan bahwa biaya transportasi menuju dan dari lokasi wawancara beasiswa Fulbright sepenuhnya ditanggung oleh panitia, lain halnya dengan LPDP yang tidak memberi tanggungan transportasi. Jadilah saya ketika itu berangkat ke Jakarta dengan biaya sendiri, termasuk biaya akomodasi. Saya kebetulan menemukan hotel yang lumayan murah dan dekat sekali dengan STAN, hanya dengan naik angkot sekitar kurang lebih 5 menit. Jarak yang dekat ini sangat membantu dalam mengatur waktu untuk menghadiri wawancara.
Tiba di Jakarta H-1 wawancara, saya saat itu sengaja menyempatkan diri mengecek lokasi wawancara agar saat hari H tidak mengalami kebingungan mencari ruangan seleksi. Selesai survey, saya naik angkot menuju hotel tempat menginap untuk check-in dan beristirahat. Hari itu saya fokuskan untuk berlatih wawancara, dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang biasa ditanyakan dalam wawancara beasiswa LPDP. Beruntung ketika itu ada rekan yang juga hendak mengikuti seleksi wawancara di Makassar berbaik hati memberikan ‘contoh soal’ yang biasa digunakan dalam seleksi. Saya pertama kali bertemu dengan dia saat mengikuti tes IELTS di Bali ketika ia saat itu sedang mengikuti IELTS training di IALF Bali. Setelah merasa cukup berlatih karena sebelumnya juga sudah sempat beberapa kali melakukan hal yang sama sebelum berangkat ke Jakarta, saya pun memilih untuk istirahat malam itu. Saya berusaha agar mendapat istirahat yang cukup hari itu agar memiliki stamina yang baik dalam seleksi keesokan harinya. Tak lupa saya mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat demi mencegah masalah kesehatan yang bisa saja timbul saat hari seleksi.
Oh ya seleksi wawancara yang saya maksud disini adalah salah satu komponen dari keseluruhan seleksi tahap kedua setelah seleksi administratif yang diistilahkan sebagai seleksi substantif. Adapun seleksi ini terdiri dari tiga bagian yakni;
- Essay on the spot.
Pelamar diharuskan membuat essay dalam Bahasa Inggris, jika tujuan studi di luar negeri, dalam 250 kata. Peserta diminta membuat tulisan yang berisi tanggapan tentang isu tertentu dan terkini yang diberikan oleh panitia saat itu juga. Waktu yang diberikan adalah 15 menit.
Saat seleksi ini saya mendapat topik tentang kebijakan pemberlakuaan bebas visa kunjungan ke Indonesia. Saya merasa lumayan beruntung mendapat topik ini karena bisa menjabarkan relevansi isu ini dengan isu pariwisata, dan pengalaman saya berkuliah di Bali sebelumnya selama 4 tahun lumayan cukup membantu saya dalam menulis dampak dampak pariwisata sebagai akibat dari kunjungan wisatawan luar negeri.
- Focus Group Discussion (FGD)
Untuk mengikuti seleksi ini, saya dan lima peserta lain dikelompokkan menjadi sebuah grup yang nantinya diminta untuk mendiskusikan sebuah topik yang juga berkaitan dengan isu isu terkini yang ditentukan oleh panitia. Diskusi berlangsung dalam waktu 30 menit dan dilakukan dengan menggunakan Bahasa Inggris. Di ruangan tempat kami berdiskusi ada 1 orang moderator dan 1 orang psikolog.
Menurut informasi yang saya baca di internet yang merupakan cerita dan pengalaman para peserta yang sebelumnya sudah mengikuti seleksi ini, seorang psikolog ditempatkan di ruangan tempat kami berdiskusi sebagai bagian dari proses penilaian. Konon kabarnya psikolog tersebut bisa mengetahui kepribadian kita dari cara kita menyampaikan pendapat, mendengarkan pendapat orang lain, menyanggah, menginterupsi, ataupun mengarahkan jalannya pembicaraan dalam diskusi tersebut. Saya sedikit banyak paham bagaimana etika berdiskusi yang baik, dan syukurlah hal itu bisa saya lakukan saat seleksi. Adapun topik yang kami bahas saat itu adalah tentang kebijakan outsourcing dalam sistem perekrutan tenaga kerja di Indonesia. Saya memang sempat sebelumnya membaca berita terkait isu ini, dan itu sedikit banyak membantu dalam menyampaikan pandangan akan isu ini.
- Interview
Tibalah waktunya seleksi terakhir yakni wawancara. Saya masih ingat ketika itu sebelum tiba giliran dipanggil, saya diminta untuk mengumpulkan berkas berkas yang saat pendaftaran awal sudah dikumpulkan secara online. Namun masih ada satu berkas yang belum bisa saya kumpulkan saat itu yakni SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Karena terkendala beberapa hal yang sebenarnya adalah akibat kelalaian saya sendiri, saya baru bisa mengurus surat tersebut H-1 keberangkatan saya ke Jakarta sehingga berakibat saya tidak bisa mendapatkan SKCK hari itu juga. Saya sempat panik ketika itu, walaupun akhirnya panitia membolehkan untuk mengumpulkan secara online surat tersebut belakangan.
Urusan administrasi ulang tersebut selesai, tibalah giliran untuk mengikuti wawancara. Saya masuk ke ruangan besar yang di dalam nya juga ada sejumlah peserta lain yang sedang diwawancara. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, ada tiga orang pewawancara pada saat itu dan salah satunya adalah seorang psikolog. Pertanyaan yang diberikan tentu sebagian besar tentang rencana studi kita dan latar belakang pendidikan dan profesi sesuai dengan apa yang ada di curriculum vitae milik kita. Pertanyaan lainnya juga seputar pengalaman berorganisasi baik selama kuliah dan selesai kuliah. Ada juga pertanyaan seputar latar belakang keluarga saya yang merantau dari Bali ke Belitung dengan ikut serta dalam program transmigrasi tahun 1990 silam. Untuk pertanyaan yang diajukan oleh psikolog, saya tidak ingat persis, namun yang bisa diingat adalah saya merasa telah memberi jawaban yang memuaskan dan tentunya apa adanya.
Dari keseluruhan proses seleksi substantif ini, saya sebenarnya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti apa yang membuat seorang pelamar bisa lolos seleksi. Bagi saya pribadi, sepanjang kita memilki niat yang tulus untuk mengabdi dan berkontribusi bagi masyarakat Indonesia melalui ilmu yang nanti didapat setelah selesai studi, saya yakin semuanya akan berjalan dengan baik dan dengan dibarengi dengan doa kita pasti akan merasa yakin dengan jawaban jawaban kita saat wawancara. Berkaitan dengan essay on the spot dan FGD, wawasan yang luas dengan paham isu isu terkini yang sekaligus menandakan bahwa kita paham dan peka dengan kondisi lingkungan di sekitar kita, akan sangat membantu dalam melewati kedua proses seleksi tersebut. Memiliki etika yang baik saat berdiskusi juga sangat membantu kesuksesan dalam mengikuti seleksi FGD.

Saya memang tidak yakin 100% bahwa akan lolos seleksi LPDP ketika itu, namun saya merasa sudah melakukan yang terbaik mulai dari persiapan sampai hari H seleksi. Dan saat mendapat pemberitahuan tentang kelolosan satu bulan kemudian, saya senang bukan main setelah menerima email yang berisi pernyataan lulus seleksi substantif. Saya masih ingat sekali malam itu tepat di hari dimana pengumuman kelulusan harusnya sudah keluar, jam 9 malam saya mengecek berulang ulang email namun email dari LPDP tak kunjung muncul. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur malam itu, dan saat sudah hendak menarik selimut, tiba tiba notifikasi email di smartphone berbunyi. Jantung saya berdetak kencang, walau belum yakin sepenuhnya itu adalah email dari panitia LPDP. Dan setelah dibuka terlihat tulisan dengan kata ‘LULUS’ yang cukup besar. Saya senang luar biasa, lalu bergegas menemui Ibu dan Ayah saya yang sedang menonton TV saat itu. Saya memberitahu mereka berita baik ini, dan baru kali itu saya melihat mereka sangat senang. Saya ingat sekali Ayah saya saking senang nya sampai-sampai mengatakan ini kepada ibu saya ‘Ibu, anak mu lulus`. Ungkapan yang rasanya tidak pernah saya dengar ia ucapkan sebelumnya. Jadilah malam itu saya tidur dengan hati yang senang bahkan sampai melihat kembali email yang baru saja dibaca. Dalam hati saya mengucap syukur tak terkira atas kebesaran Tuhan yang kali ini memberikan kesempatan untuk meraih beasiswa belajar ke luar negeri.
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, mencoba mengikuti seleksi beasiswa ke luar negeri di tahun 2015 waktu itu adalah usaha terakhir yang saya janjikan. Saya bahkan sempat mengucapkan janji ini pada salah seorang teman di kampung, bahwa jika kali ini lolos saya akan mengajaknya mancing di kolam ikan nila milik Ayah saya di kebun, untuk selanjutnya dipanggang dan dinikmati bersama. Dengan berita kelulusan tersebut, saya pun memenuhi janji saya. Acara syukuran tersebut saya lakukan dengan anak anak yang pernah belajar di lembaga kursus saya yang waktu itu jumlahnya kurang lebih 80 orang.

Para ibu tetangga pun saya minta bantuan untuk memnbuat kue serta mempersiapkan bumbu untuk ikan nila yang sebelumnya sudah dipanggang. Tepat saat H-6 keberangkatan ke London, saya dan anak anak tersebut bersama-sama menikmati makanan yang disajikan saat itu sebagai ungkapan rasa syukur atas yang telah saya dapat. Di akhir acara mereka pun bergantian memberi ucapan selamat dan mendoakan kesuksesan studi saya.
- Persiapan Keberangkatan (PK)

Tahap terakhir yang harus saya lewati dalam proses seleksi beasiswa ini adalah Persiapan Keberangkatan atau yang lebih dikenal dengan PK. Saya tergabung dalam PK-63 yang berarti program ini sudah dilangsungkan sebanyak 63 kali sampai April 2016. Ada 100 orang lebih penerima beasiswa LPDP dengan tujuan dalam dan luar negeri yang mengikuti PK di Wisma Hijau Jakarta selama 6 hari. Disinilah saya bertemu dengan orang orang dengan tujuan yang sama dengan saya walau berbeda ketertarikan bidang studi dan universitas tujuan. Saya merasa sangat beruntung bisa dipertemukan dengan orang orang yang menurut saya adalah orang orang hebat di bidang nya masing masing yang terpilih dari serangkain seleksi untuk mendapat jaminan belajar ke universitas terbaik di dunia berkat komitmen mereka dalam berkontribusi bagi Tanah Air Indonesia. Disinilah saya berjumpa dengan orang orang professional yang diantaranya sudah berkali kali membawa nama baik Indonesia ke kancah internasional melalui ide kreatif dan kemampuan akademik nya. Disini juga saya bertemu dengan orang orang yang dengan tulus mengabdikan tenaga dan waktu mereka untuk kepentingan orang banyak. Selain itu, saya dan semua yang mengikuti kegiatan itu diberikan pembekalan dalam bentuk motivasi dan semangat mengabdi untuk Indonesia melalui tokoh tokoh nasional misalnya yang saat itu hadir adalah mantan Menteri Luar Negeri Bapak Dino Patti Djalal. Ada juga tokoh tokoh inspiratif lainnya yang meluangkan waktunya untuk berbagi cerita tentang karya karya mereka untuk negeri Indonesia yang tercinta. Di hari terakhir kami pun dilibatkan dalam kegiatan pentas seni budaya Indonesia dan outbond untuk mempererat ikatan kami sesama penerima beasiswa LPDP. Sungguh merupakan pengalaman yang berharga bisa ikut serta dalam kegiatan ini dengan dikelilingi oleh orang orang penuh inspirasi. Tentu diharapkan saya dan penerima beasiswa LPDP lainnya mempunyai semangat yang sama untuk berkarya terutama dengan ilmu dan pengalaman yang nanti didapat selesai studi demi Indonesia yang lebih baik di masa depan.
Kegiatan PK selesai, saya kembali ke Belitung untuk melakukan persiapan lainnya. Saya bahkan saat itu masih belum menentukan universitas tujuan setelah tidak mendapat ijin untuk berkuliah di SIT Graduate Institute, USA. Masih tetap ingin melanjutkan kuliah di negeri Paman Sam, saya lalu mendaftar di dua universitas disana yakni Columbia University di New York dan University of Southern California (USC) di Los Angeles. Namun sayang, Columbia menolak lamaran saya karna ada nilai skill IELTS saya di bawah 7, sementara USC tidak memberikan alasan spesifik penolakan nya pada lamaran saya. Saya pun kembali putar otak. Saya lalu membuat semacam daftar universitas tujuan saya di Amerika dan Inggris beserta keunggulan dan kelemahan masing masing institusi disana yang menyediakan jurusan pengajaran Bahasa Inggris atau TESOL. Dari serangkaian pertimbangan matang, akhirnya saya menjatuhkan pilihan saya ke University College London (UCL) yang tepat berlokasi di jantung kota London. Proses seleksi untuk bisa diterima di universitas ini juga mengharuskan pengumpulan berkas seperti essay Personal Statement dan skor tes IELTS secara online. Selain karena lokasi nya yang tentunya akan memberi kesempatan dalam berbagai hal, saya juga mempertimbangkan reputasi kampus ini terutama dalam hal pendidikan, mengingat jurusan saya adalah pendidikan Bahasa Inggris. Reputasinya yang bagus tentu ditunjang oleh tenaga pengajar termasuk professor disana yang semuanya punya pengalaman dan keahlian di bidang yang saya minati. Belum lagi sumber belajar mulai dari buku sampai jurnal tersedia lengkap. Hal itu pun saya temukan di kampus ini. Untuk pengalaman lengkap saya selama studi dapat dilihat di blog saya ini. Seperti yang saya utarakan sebelumnya semua kesempatan besar tersebut akan kembali lagi ke individu masing-masing, yakni bagaimana memanfaatkannya selama menempuh studi disana. Inilah yang menjadi kewajiban bagi saya dan rekan rekan saya lainnya yang menempuh studi terutama di luar negeri.
Dimulai dengan persiapan fisik, tentunya saya sudah melewati serangkaian tes kesehatan, baik yang disyaratkan LPDP maupun saat mengajukan visa Inggris. Hal utama dari tes kesehatan ini memastikan saya bebas dari penyakit TBC, termasuk bebas narkoba. Saya sempat mengalami masalah kesehatan tepat dua minggu setelah menyelesaikan program Persiapan Keberangkatan (PK) di Jakarta. Bulan April ketika itu tubuh saya terjangkit virus cacar air dan selama dua minggu penuh saya mengisolasi diri di kamar untuk mencegah penyebaran virus ke orang orang di sekitar. Berkat ketulusan Ibu saya yang merawat di rumah ketika itu, dan obat yang diberikan oleh dokter termasuk obat tradisional yang diracik oleh Ibu saya, saya pun sembuh dan bisa beraktifitas secara normal, walau dalam keadaan bekas cacar berwarna hitam di sekujur tubuh saya yang lumayan membuat kurang percaya diri. Bekas cacar ini pun terlihat ketika saya berfoto untuk pembuatan paspor bulan Juni 2016, dan sudah lumayan memudar saat di foto untuk pembuatan visa bulan Juli. Saya memang sebelumnya belum pernah terjangkit cacar, jadi sempat terpikir juga bahwa ada untungnya ‘dianugerahi’ dengan virus cacar ini sebelum menempuh studi S2. Tidak terbayang jika beberapa hari sebelum berangkat ke London saya baru mengalami sakit ini. Memang seperti yang saya utarakan penyakit ini dikatakan sebagai ‘anugerah’ karena memang begitu adanya jika menurut budaya Bali. Penyakit ini dalam istilah Bali disebut dengan ‘medewa’ yang berarti ada ‘dewa’ yang sedang berada di tubuh saya saat itu. Itulah mengapa saat itu Ibu saya rutin membuat sesajen dengan maksud diberikan kepada ‘dewa’ yang sedang berada di tubuh saya. Saya bahkan selalu diingatkan untuk tidak mengeluh karena ini adalah anugerah dari sang dewa.
Persiapan lainnya yang saya lakukan tentunya adalah yang berkaitan dengan dokumen seperti paspor dan visa. Waktu itu adalah pertama kali saya membuat paspor karena memang sebelumnya belum pernah bepergian ke luar negeri. Untunglah proses pembuatan paspor lumayan cepat dan bisa dilakukan di kantor imigrasi di daerah domisili saya di Belitung. Biaya nya juga tidak terlalu banyak yakni kurang lebih Rp 300.000,- dan pembayarannya dilakukan di bank BNI.
Lain halnya dengan pembuatan visa Inggris, yang mengharuskan saya melakukan perjalanan ke Jakarta lagi. Dokumen yang disyaratkan juga lumayan banyak. Total biaya pengajuannya termasuk biaya asuransi kesehatan dan tes kesehatan TBC adalah kurang lebih Rp 10.000.000,-. Pengumpulan berkas dan wawancara waktu itu dilakukan di sebuah plaza di daerah Kuningan. Proses wawancara sejatinya waktu itu akan dilakukan dalam Bahasa Inggris langsung dengan orang Inggris, namun karena satu dan lain hal saya hanya diberikan beberapa pertanyaan seputar rencana studi saya oleh seorang staff orang Indonesia yang sekaligus melakukan pengambilan foto dan sidik jari. Kurang lebih 1 jam proses pengurusan visa pun selesai, saya melanjutkan agenda hari itu untuk mengambil kontrak LPDP. Kontrak ini sendiri kurang lebih berisi tentang komitmen kita untuk bersungguh sungguh menjalankan kewajiban sebagai penerima beasiswa LPDP yang melakukan studi S2 di luar negeri. Kewajiban utama tentulah berkomitmen menyelesaikan studi tepat waktu dan kembali ke tanah air untuk mengabdikan ilmu yang telah didapat.

Hal lain yang saya persiapkan adalah tempat tinggal saat di London nanti. Saya lumayan beruntung ketika itu karena pihak universitas dalam hal ini University College London (UCL) sudah menyediakan akomodasi khusus untuk mahasiswa S2, selain juga akomodasi lain yang bahkan bukan milik universitas yang menjadi rekomendasi mereka. Hal ini tentu sangat membantu saya dan rekan lain yang tidak begitu paham dalam hal mencari tempat tinggal disana, terlebih tempat tinggal ini harus sudah dipastikan sebelum berangkat ke London, walau mungkin hanya sementara. Oleh karena itu ada beberapa rekan yang memilih tinggal di Wisma Indonesia yang berlokasi tidak terlalu jauh dari pusat kota London, untuk selanjutnya mencari akomodasi yang lebih cocok sesuai keinginan. Biaya tinggal di akomodasi yang dikelola oleh orang Indonesia ini adalah kurang lebih Rp 250.000,- per malam, jadi lumayan murah untuk tempat tinggal sementara beberapa hari. Ada juga rekan yang kebetulan memilki kenalan dengan orang Indonesia yang memang sudah tinggal disana dan kebetulan menawarkan satu kamar di rumahnya untuk disewa dalam jangka waktu beberapa bulan atau satu tahun.
Lain halnya dengan saya dan beberapa rekan lain yang cukup beruntung karena pengajuan secara online yang kami lakukan untuk bisa tinggal di akomodasi kampus diterima, sehingga kami tidak perlu repot lagi mencari tempat tinggal melalui agen tertentu. Lebih beruntung lagi karena biaya akomodasi per bulan nya terhitung murah untuk lokasi London yang terkenal dengan biaya tempat tinggal yang mahal, dan waktu tempuh hanya kurang lebih 15 menit dengan kereta api bawah Tanah (Underground) atau 25 menit dengan bus. Biaya per bulan waktu itu adalah kurang lebih Rp 8.000.000,-, dan kami harus membayar uang muka atau deposit sebesar kurang lebih Rp 9.000.000,- segera setelah mendapat pengumuman bahwa pengajuan kami diterima. Inilah saat dimana saya lumayan panik ketika itu, berhubung pembayaran deposit harus dilakukan melalui kartu kredit dan saya tidak pernah punya kartu tersebut. Sempat meminta bantuan ke beberapa teman yang mungkin punya kartu ini, tapi hasilnya nihil. Saya bahkan sempat berencana melakukan pembayaran melalui transfer antar rekening, tapi ternyata ini tidak memungkinkan dikarenakan biaya transfer yang sangat besar berhubung transfer dilakukan ke rekening luar negeri. Belakangan saya baru tahu bahwa selain kartu kredit, kartu debit sebenarnya juga bisa dipakai untuk melakukan pembayaran seperti ini. Jadilah waktu itu saya cukup menggunakan kartu ATM karena kartu ini bisa dipakai sepanjang memiliki logo VISA atau Mastercard.
Berikutnya yang saya persiapkan tiada lain dan tiada bukan adalah tiket pesawat dari Belitung ke Jakarta dan dari Jakarta ke London. Biaya penerbangan ini sepenuhnya ditanggung oleh LPDP, dengan pembelian tiket pesawat saya lakukan sendiri terlebih dahulu untuk nanti akan diganti oleh LPDP. Waktu itu saya membeli tiket Jakarta-London seharga kurang lebih Rp 9.000.000,-, harga yang terhitung mahal sebenarnya karena saya melakukan pembelian kurang lebih 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan. Hal itu bukan tanpa alasan, saya mesti menunggu status pengajuan visa Inggris terlebih dahulu. Karena jika pengajuan ditolak, tentulah akan sia-sia tiket yang sudah saya beli. Belakangan saya tahu bahwa memang pengajuan visa Inggris tidak selamanya selalu diterima, yang berarti kita tidak boleh berkunjung ke Inggris baik untuk studi maupun sekedar berwisata tergantung dari jenis visa yang diajukan.
Persiapan terakhir berkaitan dengan kebutuhan sehari hari. Mulai dari pakaian, yang tidak terlalu banyak saya bawa dari Indonesia. Awalnya saat di Jakarta saya berencana sekalian membeli baju hangat, karena perjalanan ke Inggris akan tiba saat mulai memasuki musim dingin disana. Namun saya akhirnya memutuskan untuk membeli nya sekalian saat di London nanti, selain harganya yang akan lebih murah dibanding membeli di Indonesia, saya juga menjadi tidak perlu khawatir bagasi yang dibawa tidak melebihi batas yang dibolehkan yakni 30kg.

Selanjutnya saya juga mempersiapkan bahan bahan masakan yang saya pikir akan diperlukan saat masa masa awal tinggal di London dan sulit ditemukan di London. Saat itu saya membawa bumbu jadi seperti bumbu nasi goreng, bumbu ayam goreng, dan bumbu pecel. Ada juga beberapa sachet sambal terasi yang masuk di koper, selain juga kue nastar yang dibuat khusus oleh adik saya sebagai bekal selama di London jadi lumayan menghemat biaya pembelian snack. Makanan Asia seperti Chinese Food memang tersedia banyak di London yang merupakan kota metropolitan dengan populasi dari berbagai bangsa bangsa di dunia, dan belakangan setelah tiba di London saya baru tahu bahwa bumbu jadi seperti yang saya bawa banyak tersedia di supermarket Asia di London yakni tepatnya di kawasan China Town. Jangan ditanya makanan yang membuat kangen kalau sedang di luar negeri yakni mi instan, banyak dan bisa ditemukan dengan mudah di London. Tapi jangan berharap harganya akan sama dengan di Indonesia, karena satu bungkus mi instan harga nya kurang lebih 30 cents atau sekitar Rp 6.000,-. Lain pula jika kangen dengan tempe, harganya bisa mencapai Rp 70.000,- per buah dibandingkan di Indonesia yang hanya Rp 7.000,-.
Karena London bisa dikatakan ibukota nya dunia, jadi makanan khas negara negara di dunia banyak tersedia di London. Bahkan restoran yang menyajikan makanan Indonesia pun ada disini. Saya sendiri biasa memasak makanan untuk sehari hari, walau hanya dengan lauk dari ikan, ayam, atau sayuran dengan memakai bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai. Tidak seenak makanan di rumah sendiri tentunya, tapi tentu lebih enak dari makanan yang dibeli di luar seperti sandwich atau burger. Di awal saya memang belum terbiasa dengan makanan cepat saji seperti itu, tapi seiring waktu lidah sudah bisa menerima tumpukan roti yang didalamnya berisi ikan atau daging dan sayuran. Itulah mengapa saya pikir bumbu jadi dari Indonesia cukup membantu saya di awal awal tinggal di London karena memakan sandwich misalnya tentu akan terasa sangat tidak enak.
Dari keseluruhan rangkaian proses mulai dari masa melamar beasiswa sampai akhirnya siap berangkat ke Inggris, terasa sekali begitu panjang tahapan yang harus dilalui. Mungkin mirip panjangnya dengan waktu perjalanan dari Jakarta ke London yakni sekitar 13 jam lamanya, itupun jika menumpangi pesawat Garuda yang telah membuka rute langsung Jakarta-London PP. Namun, jika dibuat dalam daftar pengalaman dan kesan dari perjalanan studi ini, panjangnya juga akan menyaingi panjang proses seleksi dan pendaftaran universitas serta panjang perjalanan penerbangan kesana.
Akhir kata semoga cerita ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Terimakasih.