Sebelum
mulai bercerita, saya ingin berterimakasih banyak pada teman-teman saya yang
telah banyak membantu mulai dari persiapan sampai selesai tes.
- Bli Arya Suadnya, Kadek Juniarsana, Kadek Sudirka
Mereka telah berbaik hati memberi
tempat menginap selama saya di Denpasar, merelakan motornya saya bawa
kemana-kemana, termasuk ke lokasi tes IELTS. Bahkan mereka rela uangnya saya pinjam untuk bayar pendaftaran IELTS hehe.
- Koko Zhendy Crissandi
Teman saya dari zaman kuliah ini
banyak memberi saran dalam persiapan tes IELTS, termasuk tips agar lolos
beasiswa ke luar negeri.
PERSIAPAN
Ada
satu hal yang patut diketahui sebelum memutuskan untuk mengambil tes IELTS,
yakni biaya tes yang lumayan menguras isi kantong. Tes IELTS yang saya ikuti
pada Desember 2015 bertarif 2,8 juta rupiah. Kalau skor yang ditargetkan
tercapai plus dengan skor tersebut bisa diterima di universitas di luar negeri
seperti di Amerika misalnya, rasanya tidak apa-apa mengeluarkan uang sebanyak
itu. Tapi, kalau skor tidak mencapai target selain menguras kantong sepertinya
akan menguras hati juga hehe. Makanya, ketika saya memutuskan untuk mengikuti
tes ini, saya berusaha mempersiapkan semaksimal mungkin agar hasilnya setimpal
dengan dana yang telah saya keluarkan. Berikut beberapa persiapan penting yang
saya lakukan:
Menentukan tanggal kapan akan mengikuti tes
Tes IELTS biasanya diadakan dua kali
dalam sebulan. Jadwal dan lokasi tes bisa di cek disini https://www.ielts.org/book-a-test/find-a-test-location. Sebelum memilih
tanggal yang diinginkan, penting untuk menyesuaikan dengan tujuan mengikuti tes
ini. Kalau hendak studi di luar negeri misalnya, perhatikan batas waktu
pendaftaran di kampus disana. Jangan sampai setelah mengikuti tes ternyata
pendaftaran sudah ditutup. Begitu pula jika hendak mengajukan beasiswa, perlu
diperhatikan tenggat waktu pendaftarannya.
Penting pula untuk diingat bahwa
pemilihan jadwal tes akan menentukan waktu persiapan dalam hal belajar.
Sebaiknya pilih jadwal yang memungkinkan untuk persiapan belajar. Sebagai
perbandingan, saya dengan level bahasa Inggris intermediate menghabiskan waktu belajar selama kurang lebih satu
bulan, intensif enam jam sehari, yang membuahkan hasil berupa skor IELTS 7. Kalau tidak yakin akan seberapa besar
kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki, saya sarankan untuk mengikuti semacam placement test di tempat kursus. Dengan
mengetahui level bahasa Inggris kita, akan mudah menentukan apakah kita sudah
siap atau tidak mengikuti tes IELTS. Kalau merasa sudah siap, akan mudah pula
untuk menentukan jadwal belajar untuk tes IELTS dan jadwal tes IELTS itu
sendiri.
Mencari informasi tentang tes IELTS
Di era internet seperti sekarang,
sangat mudah untuk mendapatkan informasi tentang tes IELTS. Dengan membuka
website resmi IELTS, kita bisa mendapatkan semua informasi yang berkaitan
dengan tes IELTS, mulai dari apa saja isi tes nya sampai bahan belajar untuk
tes. Informasi tersebut bisa dilihat di https://www.ielts.org/what-is-ielts/ielts-introduction.
Belajar
Ada dua macam belajar yang saya
maksud disini. Yang pertama adalah belajar bahasa Inggris, karena tes IELTS
adalah tes yang mengevaluasi kemampuan bahasa Inggris kita. Bagi yang merasa
kemampuan bahasa Inggris nya berada di bawah level intermediate, sebaiknya meluangkan waktu untuk belajar bahasa
Inggris terlebih dahulu. Kalau merasa mampu bisa belajar sendiri, atau belajar
dengan didampingi seorang guru. Yang penting diingat adalah dalam belajar
bahasa Inggris kita mesti terbiasa mendengar dan membaca dalam bahasa Inggris,
yang nantinya diikuti dengan praktik dalam menulis dan berbicara dalam bahasa
Inggris pula. Semuanya akan memberi kesempatan untuk memperdalam vocabulary,
grammar, dan pronunciation kita. Dan ketiga aspek tersebut masuk dalam kriteria
penilaian dalam tes IELTS.
Belajar yang kedua adalah belajar
untuk tes itu sendiri. Format tes IELTS dari dulu sampai sekarang selalu sama,
jadi yang perlu kita pelajari disini adalah strategi menguasai tes tersebut. Sama
seperti saat kita akan mengikuti Ujian Nasional matematika. Kita mungkin sudah
jago dalam mengerjakan soal matematika, tapi kita tetap perlu belajar
mengerjakan soal yang biasanya keluar dalam UN tersebut.
Sama dengan belajar bahasa Inggris,
belajar untuk tes IELTS juga bisa dilakukan sendiri jika dirasa mampu, atau
belajar di lembaga kursus. Saya sendiri sebenarnya sudah mendaftar di salah
satu tempat kursus di Jakarta untuk mengikuti yang namanya kursus IELTS Preparation, namun dikarenakan
jadwal yang tidak memungkinkan untuk diikuti, saya terpaksa belajar sendiri. http://www.dcielts.com/ inilah yang banyak menyediakan bahan belajar bagi saya, termasuk tips
jitu untuk menghadapi tes IELTS. Untung nya juga saya mendaftar tes IELTS di
IALF yang memungkinkan saya untuk belajar di perpustakaannya secara gratis satu
minggu sebelum tes. Disana saya bisa belajar menggunakan buku terbitan dari si
pembuat tes IELTS itu sendiri, yang kalau di toko buku harga nya bisa mencapai
sekitar tiga ratus ribu rupiah. Lumayan kan bisa menghemat pengeluaran heehe.
Terakhir yang paling penting diingat
dalam belajar, termasuk belajar untuk tes IELTS adalah kita harus konsisten dan
disiplin. Saya sempat merasa jenuh selama proses belajar ini. Bagaimana tidak
selama satu bulan saya melakukan hal yang sama, pagi jam 8 mulai belajar sampai
jam 12 siang. Jam 1 saya lanjut belajar lagi sampai jam 5 sore. Tapi ya balik
lagi karena sudah komitmen biar mendapat skor yang diinginkan inilah satu-satunya
yang harus saya lakukan. Saya bahkan sempat mendapat ajakan teman untuk
memancing. Tapi karena waktu itu saya masih belajar untuk tes IELTS dengan
yakin saya tolak. Dan barulah setelah tes saya pergi memancing sepuasnya hehe.
Persiapan Lainnya
Persiapan Lainnya
Kalau sudah menentukan waktu dan
tempat untuk tes IELTS, termasuk waktu dan tempat untuk belajar, langkah
berikutnya mungkin lebih tergantung ke pribadi masing-masing. Misalnya saya
yang menginginkan istirahat yang nyaman dan cukup di malam sebelum mengikuti
tes, memilih menginap di hotel meskipun teman saya sudah berbaik hati
memberikan tempat menginap di rumah atau kos nya. Seorang teman bahkan
menyarankan saya minum susu beruang (bukan susu dari beruang ya heehe) di pagi
hari sebelum tes dimulai. Walaupun mungkin susu sapi biasa sudah cukup, tapi
paling tidak dengan minum susu kita mendapat nutrisi yang cukup untuk mengikuti
tes.
Di malam hari sebelum tes, usahakan
tidur yang cukup mengingat kita harus sudah berada di lokasi tes sekitar jam 7
pagi. Karena terlambat sedikit pun kita tidak boleh mengikuti tes. Persiapkan
semua alat tulis yang akan dibawa, termasuk kartu identitas. Pastikan pula
pakaian yang akan kita kenakan di hari tes sudah tersedia malam itu juga.
Pagi harinya, jangan lupa sarapan
secukupnya ditambah dengan susu beruang hehe. Pakailah pakaian yang rapi dan
nyaman digunakan. Agar lebih percaya diri lagi luangkan waktu untuk berdoa agar
Tuhan memberikan kelancaran dan kesuksesan untuk tes yang akan kita ikuti.
HARI-H TES
Pagi
itu hari Sabtu, 5 Desember 2015 tepat jam 7 pagi saya sudah tiba di IALF Bali
untuk mengikuti tes IELTS. Disana sudah ada beberapa peserta tes yang sedang
menunggu tes dimulai. Saya menghampiri beberapa dari mereka dan mengajak
ngobrol, satu orang adalah lulusan SMA yang ingin kuliah di Aussie, dan satunya
lagi perawat yang ingin melamar kerja di Aussie juga. Dengan yang terakhir ini
saya banyak mendapat cerita pengalamannya saat sebelumnya mengikuti tes ini.
Setengah
jam kemudian kami semua peserta tes dipanggil oleh panitia. Kami berkumpul di
depan sebuah ruangan dan mendapat penjelasan tentang proses tes ini nantinya.
Setelah itu kami masuk ke sebuah ruangan tempat kami memasuki tahap pertama tes
yakni penyerahan bukti identitas dan pengambilan pas foto. Untunglah sehari
sebelum tes saya sudah potong rambut di sebuah barbershop namanya Jeg Bagus
yang artinya Bagus Sekali dan memang hasil potongan nya memuaskan haha.
Setelah
semua proses identifikasi dilewati (seperti kasus kriminal saja hehe) kami
meninggalkan ruangan berikut dengan tas kami. Yang boleh kami bawa ke ruangan
tes hanya alat tulis, kartu identitas, dan air minum, itupun jika air kemasan
labelnya harus dilepas.
Selanjutnya
kami berjalan menuju sebuah ruangan besar di lantai dua tempat tes akan
berlangsung. Di sana sudah ada panitia yang akan mengecek kembali identitas
kami dan meminta kami masuk ke ruangan satu per satu. Ruangan seperti ballroom hotel ini sudah berisi kursi
seperti kursi kuliah lengkap dengan nama dan nomor peserta. Jarak antar kursi
sudah diatur sedemikian rupa untuk mencegah aksi contek mencontek, karena
memang dilarang dalam tes ini. Ketika semua peserta sudah ada di ruangan,
panitia membacakan peraturan selama tes, kurang lebih sama dengan aturan saat
tes atau ujian sekolah pada umumnya. Terakhir panitia menulis di papan jam tes
ini dimulai dan tes akan selesai, dimulai dengan tes Listening, Reading, dan
Writing. Tes terakhir yakni Speaking
dilakukan di ruangan terpisah.
Tes Listening dan Reading
Seperti biasa di awal tes ini tidak ada
kesulitan berarti. Barulah di bagian berikutnya sampai terakhir ada saja yang
sulit dikerjakan sehingga ada beberapa bagian yang saya lewatkan lalu saya isi
belakangan. Padahal belum tentu kita ingat apa yang tadi disebutkan oleh si
pembicara di audio. Tapi untunglah ada yang masih saya ingat dan dibantu juga
oleh penguasaan materi dan sedikit logika juga hehe. Untuk tips dan trik
menghadapi tes ini, bisa dilihat disini http://www.dcielts.com/, saya jamin akan sangat
membantu.
Tes
Reading kurang lebih sama, mudah di
awal lalu sulit di akhir. Kali ini juga saya berhasil mengerjakan semua,
walaupun tidak yakin akan benar semua hehe. Untuk tips dan trik nya juga ada di http://www.dcielts.com/
Tes Writing
Berbekal
latihan selama beberapa hari terakhir sebelum tes, saya tidak menemukan
kesulitan berarti dalam mengerjakan tes ini, selain dari jumlah kata yang bagi
saya masih kurang dari persyaratan. Mengikuti tips di http://www.dcielts.com/ saya mengerjakan Writing bagian kedua terlebih dahulu
dengan pertimbangan poinnya lebih besar dari bagian pertama. Waktu itu saya
merasa beruntung mendapat topik tentang dampak media sosial bagi siswa sekolah,
topik yang familiar bagi saya selain karena profesi sebagai seorang guru.
Setelah menulis (mungkin kurang dari) 500 kata selama 40 menit, waktu yang
tersisa 20 menit lagi saya gunakan untuk mengerjakan bagian pertama yakni
menulis deskripsi dari sebuah diagram dalam 250 kata. Sebenarnya kalau banyak
latihan dan tahu strategi nya saya yakin bisa mengerjakan tes ini dan mendapat
hasil maksimal. Sekali lagi http://www.dcielts.com/ akan sangat membantu dalam hal ini.
Tes Speaking
Tiap
peserta mendapat waktu yang berbeda-beda untuk tes ini, berbeda dengan tiga tes
sebelumnya yang diikuti serentak. Saya yang mendapat jadwal pukul 12.30
mendapat waktu jeda 30 menit sebelum tes ini dimulai karena tes Writing selesai tepat pukul 12.00.
Sebenarnya waktu yang ada bisa saya gunakan untuk makan siang di warteg dekat
IALF. Tapi saya tunda dengan asumsi makan akan lebih terasa nikmat kalau
setelah semua tes terlewati. Toh speaking hanya berdurasi sekitar 15
menit jadi masih bisa menahan lapar.
Waktu
setengah jam lalu saya sengaja isi dengan mengobrol dengan peserta lain
terutama yang bukan orang Indonesia yang jadwalnya sama dengan saya namun
lokasi tes di ruangan yang berbeda. Salah satunya adalah dengan seorang warga
negara Selandia Baru yang mengikuti tes IELTS karena akan melamar kerja di
Aussie. Lumayan lah selain saya sambil melatih speaking saya, kami sempat
saling berbagi cerita saat mengikuti rangkaian tes sebelumnya. Tak terasa waktu
pun cepat berlalu, saya lalu dipanggil panitia untuk bersiap-siap dan menunggu
di depan ruangan tes. Tak lama kemudian nama saya dipanggil kembali untuk
disuruh masuk ke dalam ruangan. Disana sudah ada seorang native speaker, sepertinya orang Australia, yang nantinya akan
menilai kemampuan speaking saya. Ia
lalu mempersilakan saya duduk dan mulai mewawancarai saya.
Speaking bagian pertama saya mendapat
pertanyaan sederhana dan umum seputar keluarga, teman dan pekerjaan saya. Di
bagian kedua saya diminta untuk berbicara maksimal dua menit tentang sebuah
topik. Saya tidak menduga akan mendapat topik tersebut, dan dari latihan yang
saya lakukan sebelumnya tidak ada yang berhubungan kesana. Tapi untunglah saya
bisa melakukannya dengan cukup bagus menurut saya heehe. Di bagian ketiga saya
kembali diwawancara dengan beberapa pertanyaan yang masih berhubungan dengan
topik di bagian kedua. Sempat juga saya mendapat pertanyaan yang berhubungan
dengan bahasa, tidak jauh dengan bidang di pekerjaan saya. Jadi secara
keseluruhan saya bisa melewati tes ini dengan baik, dan kalau masalah hasil
saya serahkan kepada Yang Kuasa.
PENGUMUMAN HASIL TES
Saya sempat
memperkirakan skor IELTS saya dengan melihat intensitas persiapan dan performa
saya saat tes. Saat persiapan, saya lebih banyak melatih kemampuan writing dan speaking, dengan pertimbangan selama empat tahun sebelumnya saya
sudah banyak mendengar audio dan membaca teks ataupun artikel dalam bahasa
Inggris, namun kurang melatih skil writing
dan speaking karena memang susah
mendapat kesempatan berhubung tinggal di desa yang memberi peluang sangat kecil
untuk menggunakan bahasa Inggris. Tapi justru disitu kebanggaannya, bisa
mendapat skor IELTS dengan status very
good walaupun hanya dari desa hehe.
Saat
tes saya memang merasa ada beberapa soal yang saya jawab dengan salah sehingga
perkiraan saya skor listening dan reading nya tidak lebih dari 7.
Sementara untuk writing prediksi skor
saya juga sama karena sepertinya jumlah kata yang saya tulis kurang dari persyaratan.
Walaupun sebelumnya saya banyak sekali melakukan latihan sehingga buku tulis
yang saya pakai untuk belajar dipenuhi dengan karangan-karangan dalam bentuk
paragraf, termasuk kata-kata baru yang saya pelajari. Untuk speaking, selama latihan saya merekam
pembicaraan saya dalam bentuk video sehingga nanti bisa saya putar kembali
untuk mengetahui kekurangan saya agar bisa dikembangkan lagi. Dari rekaman
itulah, beserta performa saya saat tes sebenarnya rasanya saya masih kurang
fasih. Maka dari itu jika mendapat skor 7 pun saya merasa sudah sangat bagus.
Hari
pengumuman tes pun tiba, tanggal 18 Desember 2015. Walaupun posisi saya sudah
ada di Belitung saat itu, saya masih tetap bisa mengetahui hasil tes secara
online. Dan disinilah terjadi sedikit drama hehe. Sistem online yang saya
gunakan sangat akurat, sehingga salah satu huruf saja, atau keliru antara huruf
besar dan huruf kecil saat memasukkan data hasil tidak bisa ditemukan. Lumayan
mendebarkan saat itu, saya terus berdoa agar hasilnya sesuai target yakni 7,
tapi setelah memasukkan data lalu menekan enter
hasil tak kunjung muncul. Saya sampai mencari di google bagaimana cara mengatasi ini. Singkat cerita akhirnya saya
putuskan untuk menghubungi pihak IALF dan staf nya dengan baik hati memberi petunjuk
nya. Walaupun hasilnya baru saya ketahui 2 hari kemudian, apa yang saya lihat
di layar LCD komputer saya saat itu membuat saya gembira. Skor saya secara
keseluruhan 7, dengan skor masing masing Listening
dan Reading adalah 7, writing dan speaking sebesar 6,5. Saya lalu mengucap syukur karena hasilnya
sesuai target dan sesuai prediksi juga hehe. Kabar gembira ini lalu saya
sampaikan ke beberapa teman yang sempat mengikuti kiprah saya sebelum tes hehe.
Dengan
skor 7 ini lah, sambil menunggu hasil tes versi hardcopy dikirim ke alamat saya di Belitung, saya langsung
mendaftar di salah satu kampus impian saya di Amerika untuk melanjutkan studi
S2. Dan syukurlah pada pertengahan Januari 2016 saya mendapat pengumuman bahwa
saya diterima setelah melalui proses yang banyak dan menyita banyak energi dan
waktu. Cerita lengkap tentang ini akan saya tulis di post berikutnya yang juga
berisi drama yang lebih seru lagi hehe.
Sekian
dulu dan jumpa lagi!
