Selasa, 09 Agustus 2016

Mengajar Banyak Mengajarkan (part 2: Class Activities)



Tiga tahun berjalan telah banyak momen-momen yang berhubungan dengan aktivitas belajar mengajar yang terjadi di lembaga saya. Ada 100 orang di desa kecil di pulau kecil yang bernama Beitung yang mau belajar Bahasa Inggris di lembaga ini. Mereka masih anak-anak usia sekolah, masih sangat lama bagi mereka untuk diwajibkan menggunakan Bahasa Inggris nantinya. Kalaupun untuk berkomunikasi dengan turis, jumlah bule yang datang berwisata ke Belitung masih bisa dihitung dengan jari. Lalu apa yang membuat mereka begitu antusias mengikuti kelas ini?


#Guru Bahasa Inggris Merangkap Guru Bimbel


Para siswa yang ada di foto samping ini adalah mereka yang sedang mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan menghadapi ujian nasional. Begitulah di awal-awal karir saya sebagai guru Bahasa Inggris saya justru diberi kepercayaan oleh orang tua siswa untuk membantu anak-anak mereka mempersiapkan ujian. Karena memang bimbel lebih populer di daerah saya ketimbang kursus Bahasa Inggris. Meskipun begitu, saya akhirnya tetap pada tujuan awal yakni mengajar Bahasa Inggris sepenuhnya sehingga konsentrasi saya terpusat di bidang ini. Ini juga berkaitan dengan cita-cita saya sebagai guru Bahasa Inggris professional. Saat itu saya sangat yakin dengan menjadi pengajar professional banyak siswa akan merasa terbantu dalam peningkatan kemampuan Bahasa Inggris mereka. Ini juga pada akhirnya membuat anak-anak lain termotivasi untuk ikut belajar Bahasa Inggris, terlebih jika suasana belajar sangat mendukung bagi mereka.


#Fun Classes


Dari situlah perhatian saya tertuju pada kelas-kelas Bahasa Inggris di lembaga kursus ternama, yang saya yakin dijalankan dengan professional. Saya pun berusaha semampu saya mewujudkan hal serupa di kelas saya. Seperti pada gambar di samping ini siswa saya sedang belajar interaktif menggunakan komputer yang memungkinkan mereka untuk mereview materi yang telah mereka pelajari melalui games-games menarik.


Aktivitas inilah yang sampai sekarang menjadi yang paling diminati di kalangan siswa, baik anak-anak maupun remaja. Walaupun mereka harus antri menunggu giliran seperti ini, tapi mereka tetap antusias menunggu sampai giliran mereka tiba. Waktu menunggu mereka habiskan dengan ikut bermain, mengajari temannya cara bermain, atau menulis sesuatu di papan tulis. Disinilah mereka bisa mengekspresikan kebebasan dalam belajar.


Aktivitas lainnya yakni yang menggunakan flashcards. Bisa dikatakan di hampir semua kelas saya selalu menggunakan tools ini. Selain karena pada dasarnya siswa suka melihat sesuatu dalam bentuk gambar, metode ini juga ampuh dalam memancing productive skills siswa terutama dalam hal speaking. Misalnya, saat saya menyebutkan huruf M, saya meminta mereka untuk menepuk flashcard yang memiliki huruf M, lalu menyebutkan  kata untuk gambar tersebut, yakni MoonSama seperti yang dilakukan oleh kelompok siswa remaja ini. Mereka ini secara bergiliran menyebutkan kata-kata yang memiliki suara seperti yang disimbolkan di dalam kartu di depan mereka. Aktivitas seperti ini akan secara tidak langsung melatih pronunciation mereka.

Aktivitas di kelas juga tidak terbatas pada penggunaan flashcard saja. Banyak hal yang bisa digunakan, salah satunya adalah kegiatan sehari-hari siswa. Seperti gambar di bawah ini, siswa sedang praktek masak.



Di usia siswa seperti ini aktivitas yang mereka gemari terutama siswa perempuan adalah bermain masak-masakan. Dan jadilah waktu itu saya memiliki ide melibatkan aktivitas ini dalam kelas mereka. Para siswa saat itu sedang belajar vocabulary yang berhubungan dengan food and drinks. Aktivitas seperti ini akan melatih mereka menggunakan kata-kata yang telah mereka pelajari sebelumnya, secara real dan menyenangkan tentunya.

#Class Routines
Saya pikir semua kelas menerapkan semacam aturan yang ditujukan untuk ditaati oleh siswa, bahkan termasuk guru nya juga. Tata tertib yang berlaku di kelas saya kurang lebih sama dengan kelas-kelas pada umumnya, yang selalu bertujuan untuk kelancaran proses belajar. Namun yang akan saya jabarkan disini adalah semacam tradisi yang berlaku di kelas saya, yang tidak hanya wajib untuk diikuti tetapi pada saat yang sama menciptakan suasana seru bagi siswa.

Gambar ini mengisyaratkan bahwa saya menginginkan siswa, termasuk saya sendiri untuk menggunakan Bahasa Inggris kapan dan dimanapun melihat gambar ini. Hal ini saya lakukan agar siswa terbiasa menggunakan kata, kalimat, atau ungkapan Bahasa Inggris yang mereka tahu ataupun yang telah mereka pelajari. Bagi siswa baru gambar ini yang paling mereka tidak ingin lihat. Lalu dimana sisi serunya?? Ketika siswa keceplosan menggunakan bahasa selain Bahasa Inggris, mereka “didenda” sebesar Rp 500,-. Uang denda ini nantinya akan dikembalikan ke mereka untuk dibelikan makanan atau minuman. Sementara di kelas anak-anak dendanya adalah makanan ringan misalnya wafer. Saat kelas selesai makanan ini mereka makan bersama-sama.



Gambar di samping ini lebih tepatnya merupakan aturan khusus untuk saya sendiri sebagai pengajar. Sebelumnya, saya sering memperpanjang jadwal belajar siswa. Walaupun hanya lewat lima menit siswa terkadang protes, karena saya lah yang kurang bisa mengatur waktu. Dengan jam ini, saya bisa mengeset waktu saat saya harus menyudahi kelas. Dan sepertinya saat yang paling ditunggu siswa adalah ketika alarm jam ini berbunyi.

Ini juga yag paling ditunggu oleh siswa saya. Setelah kelas selesai mereka keluar ruangan dan berkumpul di lobby untuk mengisi daftar hadir menggunakan cap jari lalu membayar class fee sebesar Rp 6.500,-. sebagian besar tidak membawa uang pas sehingga mereka pasti punya kembalian. Uang kembalian ini dapat mereka ganti dengan semangka segar ini yang bernilai Rp 500,- per potong. Mereka juga bisa menggantinya dengan permen. Bagi saya, ini sekaligus sebagai bisnis kecil. Dari keuntungan “menjual” semangka dan permen tersebut sedikit banyak bisa menambah uang kas hehe.


#Students Play

Ide awal mengadakan semacam pementasan ini saya dapat dari buku panduan mengajar terbitan Oxford University Press. Tujuannya sebenarnya sederhana sekali. Sebagai pengajar, pertunjukan ini akan menjadi tolak ukur keberhasilan saya dalam mengajar. Bagi siswa, ini adalah kesempatan mereka mempraktekkan langsung materi yang telah mereka pelajari dalam konteks yang real meskipun dalam bentuk akting. Di sisi lain orang tua mereka akan melihat ini sebagai bukti seberapa banyak putra putri mereka telah belajar Bahasa Inggris. Harapannya setelah pentas tersebut siswa dan orang tua akan merasakan Bahasa Inggris yang telah dipelajari bisa digunakan dalam kesempatan seperti ini walaupun di kehidupan sehari-hari mereka jarang menggunakannya. Ini juga bisa dikatakan sebagai final result atas semua usaha, biaya, dan waktu yang telah siswa, guru, dan orang tua habiskan selama program belajar mengajar. Karena kita pasti akan bersemangat melakukan sesuatu, termasuk belajar Bahasa Inggris, jika ada hasil yang jelas bukan??

Ada berapa kisah menarik selama proses persiapan sampai di hari setelah pementasan drama Bahasa Inggris ini. Dalam hal mempersiapkan naskah drama saya tidak menemukan masalah berarti karna jalan cerita ketiga kisah yakni Cinderella, the Ant and the Dove, Pinokio, adalah cerita dongeng yang familiar bagi semua kalangan. Hanya saja saya lumayan repot mempersiapkan dialog karna harus disesuaikan dengan fitur-fitur bahasa yang telah dipelajari siswa saya. Ini sangat penting agar siswa bisa menerapkan materi belajar mereka. Hal lain yang juga lumayan merepotkan adalah persiapan kostum. Saat itu saya usahakan bagaimanapun caranya untuk menekan biaya pembelian bahan kostum. Untunglah orang tua siswa cukup kooperatif meminjamkan beberapa perlengkapan. Siswa sendiri juga ikut sukarela membuat properti seperti daun dan pohon. Siswa dan orang tua sangat antusias untuk hal ini.

Menjelang pementasan drama ini, ada sedikit “drama” diantara para pemain yakni siswa sendiri. Ada satu diantara mereka yang menyatakan tidak mau ikut pementasan karena malu. Sudah membujuknya dengan berbagai cara masih belum berhasil. Saya sempat bingung mencari pemain pengganti ketika itu, karena pasti tidak semua punya kemampuan seperti siswa tersebut. Beruntung ada seorang yang dulunya pernah menjadi siswa saya dan berhenti belajar Bahasa Inggris dikarenakan suatu hal, bersedia mengggantikan nya. Dan waktu itu nyaris tanpa bujuk rayu karena pertama kali ia ditawarkan ia langsung menyanggupi.


Saat hari H pun drama serupa terjadi pada satu lagi pemain. Ia sempat berselisih dengan seorang penonton dan karena usianya masih anak-anak ia ngambek dan mengatakan tidak akan ikut pentas. Jadilah para pemain lain membujuk anak ini dan setelah beberapa usaha ia akhirnya mau kembali mengikuti pentas.


Setelah pentas selesai pun masih ada “drama” lainnya. Video hasil rekaman saat pentas hasilnya sangat buruk. Bukan dari kualitas videonya, tapi suara yang ada didalamnya. Ini menjadi catatan evaluasi penting bagi saya. Akibat tidak adanya pengeras suara saat itu, suara pemain drama tidak terdengar di video, yang ada hanyalah suara audio visual dan beberapa suara riuh penonton. Untuk kebutuhan dokumentasi video yang akan dimuat dalam CD untuk siswa, dan juga upload video ini ke Youtube, tidak mungkin menggunakan video hasil rekaman tersebut. Solusinya???? Saya terpaksa merekam ulang pentas drama ini dengan settingan dan kostum serta cerita yang sama. Hanya bedanya kali ini tidak ada yang menonton karena untuk kebutuhan rekaman saja. Kembali saya bersyukur dalam hal ini karena siswa masih antusias terlibat dalam proses pengambilan video.

Pada intinya saya banyak mendapat support dalam menyelenggarakan pertunjukan ini. Mulai dari kalangan siswa sendiri yang semuanya menjadi pemain drama, teman-teman mereka pun ikut membantu misalnya menjadi operator audio ataupun tim dokumentasi. Orang tua pun sangat mendukung kegiatan ini. Mereka mengizinkan siswa datang hampir tiap hari baik ke kelas maupun lokasi pentas untuk latihan sebelum pementasan. Pada akhirnya saya juga melihat saat pentas penonton yang hadir tidak hanya orang tua siswa maupun teman-temannya, tapi juga warga sekitar. Ini tentunya akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi siswa karena telah menunjukkan kemampuan mereka di depan umum.


Pentas drama ini adalah pentas yang kedua bagi siswa khususnya bagi siswa anak. Mereka sebelumnya sudah pernah saya libatkan dalam pentas serupa dengan tema cerita sehari-hari dalam rangka menyambut World Children Day ketika itu. Meskipun saat itu hanya menampilkan satu cerita yag juga diisi kuis dan lomba berhadiah, terjadi drama yang juga cukup membuat panik. Beberapa menit sebelum pentas dimulai listrik tiba-tiba padam, tiada angin tiada hujan. Beruntung lagi saya mendapat bantuan pinjaman jenset dari orang tua siswa yang kebetulan rumahnya dekat dengan lokasi pementasan. Dukungan dari orang tua semacam ini lah yang membuat saya bersemangat untuk mengadakan pentas kedua yang lebih besar di tahun berikutnya.  

#Tourists Interview
Ada satu lagi aktivitas yang berhubungan dengan kelas Bahasa Inggris ini yang juga bertujuan sama dengan pementasan drama di atas. Kegiatan ini mungkin yang paling real bisa siswa lakukan karena berhubungan langsung dengan tujuan mereka belajar Bahasa Inggris yakni bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris terutama dengan bule bule yang berkunjung ke daerah mereka.

Kegiatan ini tidak hanya berupa semacam meet and greet saja tapi juga praktik kemampuan berkomunikasi yang siswa telah pelajari. Siswa minimal menanyakan pertanyaan yang berisi konten tata bahasa. Untuk itu, saya membuat format wawancara dalam bentuk pengisian formulir, sehingga otomatis siswa menggunakan pertanyaan yang biasa mereka latih untuk jawab selama belajar. Tidak lupa saya mengharuskan aktivitas ini mereka rekam dalam bentuk video agar bisa dievalusi nantinya.


Ini salah satu foto dari kegiatan siswa wawancara dengan turis. Bisa terlihat siswa walau agak malu berfoto dengan bule tapi inilah yang mereka inginkan sejak dulu, bisa dan berani berbicara dengan turis asing, terlebih melakukan tanya jawab seperti dalam wawancara ini. Dengan adanya foto ini, siswa menjadi semakin semangat belajar, bahkan bisa memotivasi anak-anak lainnnya untuk ikut belajr Bahasa Inggris. Orang tua siswa juga melihat ini sebagai bukti bahwa putra putri mereka memang belajar Bahasa Inggris untuk dipakai da diterapkan.

Saya juga kembali melihat antusias luar biasa dari siswa untuk kegiatan ini. Seperti terlihat di gambar, lokasi dimana mereka akan banyak bertemu turis adalah pantai, yang berjarak kurang lebih 15 km dari rumah mereka. Ada siswa yang bahkan rela bolak-balik ke pantai tersebut karena belum berhasil bertemu turis mengingat belum begitu banyak turis asing yang berkunjung ke pantai Belitung ini. Bahkan terjadi persaingan kecil ketika itu di kalangan siswa sehingga mereka harus gerak cepat untuk bertemu turis. Tapi sekali lagi, dengan semangat mereka yang tinggi, hal tersebut bukan lah kendala. Siswa lain pun lebih bersemangat terutama yang baru belajar Bahasa Inggris dan tidak sabar menyelesaikan satu level agar bisa bertemu dan ngobrol dengan turis seperti ini.    

#Keep Learning
Sederet aktivitas belajar baik di dalam maupun di luar kelas yang dilakukan siswa sebenarnya mengisyaratkan agar siswa terus belajar dan berlatih kapan dan dimanapun ada kesempatan. Karena belajar bahasa erat kaitannya dengan latihan dan praktek terus menerus. Itulah yang selalu saya ingatkan pada siswa, agar mereka tetap belajar dan berlatih bahkan di luar kelas sekalipun. Dan salah satu tugas pengajar seperti saya adalah membimbing dan mengarahkan agar proses belajar berlanjut sampai di luar kelas, karena sebenarnya waktu 1,5 jam per hari jauh dari cukup untuk belajar Bahasa Inggris.

Jumat, 24 Juni 2016

Mengajar Banyak Mengajarkan (part 1: About the School)

Semoga teman-teman paham maksud judul di atas ya hehe. Versi lengkapnya adalah ”Mengajar Bahasa Inggris Banyak Mengajarkan Saya Tentang Banyak Hal”. Sangat beruntung bagi saya ketika mendapat pelajaran berharga dari sebuah pengalaman. Naah dalam tulisan kali ini saya akan mengupas banyak tentang pengalaman tak terlupakan tersebut yang berkaitan dengan profesi saya yakni sebagai guru Bahasa Inggris.

#Nama dan Logo Lembaga Kursus

Logo di samping ini bisa jadi merupakan simbol dari awal mula karir saya sebagai Bahasa Inggris. Hal pertama yang saya persiapkan adalah logo ini, mencoba mendesain sendiri menggunakan photo editor. Logo inilah yang nantinya menjadi logo resmi lembaga kursus saya, walaupun ada sedikit perubahan saat hari jadi ketiga.


Banyak yang bertanya, bahkan sampai sekarang, apa maksud dibalik nama WD Professional English Course ini. Teman-teman pasti bisa menebak, nama WD adalah singkatan dari nama saya sendiri. WD juga kebetulan adalah nama organisasi pencinta alam yang saya ikuti saat masih kuliah. Ini juga sebagai ungkapan terimakasih saya atas pengalaman berharga dan tak terlupakan selama saya bergabung di organisasi tersebut. Untuk Professional English Course, saya ingin menekankan makna professional sebagai visi saya mewujudkan tempat belajar yang, walaupun berlokasi di desa kecil, dijalankan secara professional, dengan pengajar yang berkompeten di bidang nya, termasuk bahan ajar yang sesuai dengan tujuan belajar siswa.

#Bahan Ajar

Dengan prinsip professional itulah, salah satu hal yang saya persiapkan adalah bahan ajar dari penerbit yang berkompeten di bidang pengajaran Bahasa Inggris. Maka jatuhlah pilihan saya waktu itu pada buku terbitan Oxford University Press, karena memang setelah saya cek di website banyak sekali seri buku yang dipersiapkan khusus untuk mereka yang ingin belajar Bahasa Inggris. Buku dari penerbit ini pula yang saya gunakan saat self-study sebelumnya. Karena merasa telah sukses meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya, buku tersebut saya anggap cocok untuk dipakai oleh siswa saya nantinya.

Sudah menentukan buku yang akan dipakai dalam belajar mengajar, saya lalu berpikir apakah bisa buku ini dipakai oleh siswa saya, karena buku sekelas itu harganya bisa tiga kali lipat lebih dari buku terbitan lokal. Setelah berpikir lama, dengan prinsip tidak akan mengorbankan kualitas belajar mengajar, saya memutuskan tetap menggunakan buku tersebut walau akhirnya melalui cara yang bisa dikatakan ilegal. Format pdf dari buku tersebut yang saya dapatkan sebelumnya di internet saya cetak lalu saya bagikan kepada siswa. Bahkan dalam unduhan tersebut saya sekaligus mendapat file audio yang bisa saya gunakan dlam kelas listening, termasuk teacher’s book yang menjadi panduan saya dalam mengajar. Walaupun semua itu bisa saya lakukan dengan mudah dan gratis, dalam hati kecil saya berkata bahwa di masa depan saya tidak akan mempraktikan ini lagi, dan beralih menggunakan buku yang asli tepat di saat lembaga kursus saya sudah memiliki izin operasional. Jadi karena di masa awal saya belum punya legalitas, jadi rasanya tidak apa-apa menggunakan bahan ajar yang ilegal hehe.


#Gedung

Nama dan logo lembaga sudah, bahan ajar juga sudah, persiapan berikutnya adalah tempat. Kembali kali ini saya bisa dikatakan sangat beruntung karena ada satu ruangan kosong di rumah saya yang dulunya ditempati oleh buruh yang bekerja untuk bapak saya. Ruangan ini juga telah memiliki sekat sehingga dalam satu ruangan terlihat memiliki dua bagian. Satu bagian lalu saya ubah menjadi ruangan kelas, dan bagian satu lagi menjadi ruangan semacam lobby. Gambar di samping ini adalah halaman di luar dari ruangan tersebut. Bisa dilihat disana saya memang sengaja mendesain seperti sebuah taman. Saya masih ingat tanaman yang di sebelah kanan itu saya dapat dari hasil meminta dari kebun di kampung sebelah. Sementara paving-paving itu menggunakan batu-bata yang saya dapatkan di sebuah eks-pabrik arang. Siswa pun sempat ikut bergotong royong mengangkut batu bata tersebut. Batu bata, termasuk tanaman hias saya peroleh secara gratis, kecuali kursi taman yang agak panjang itu. Sebuah papan nama juga terlihat mencolok di gambar ini. Saya buat dengan menggunakan cetakan spanduk dan papan dari triplek yang saya buat sendiri. Ada juga lampu taman di atasnya, yang saya buat dari tempat tissue berwarna merah sehingga cahaya lampu terkesan warm gitu lah hehe. Semua ini tujuannya sederhana juga, agar siswa betah dan ingin selalu kembali ke kelas, selain juga memberikan nuansa nyaman bagi mereka terutama saat menunggu giliran masuk kelas.


Seperti inilah penampakan luar kelas saat malam hari. Salah satu teman malah mengatakan ini terlihat seperti warung remang-remang haha. Kebetulan memang ruangan ini berada di bagian belakang rumah saya, dan menghadap ke halaman belakang. Jadi kalau dari jalan tempat ini tidak akan terlihat. Yang ada hanya neonbox yang saya pasang di pinggir jalan. Pengambilan gambar pas sekali ya pas bulan purnama hehe.




Sebelumnya saya menggunakan papan nama biasa seperti yang saya pasang di halaman kelas, dan menggunakan kayu sebagai tiang nya. Yaah begitulah semuanya masih sangat sederhana dulu, terbuat dari bahan yang murah meriah, bahkan diantaranya hasil daur ulang barang-barang tak terpakai, seperti lampu taman yang tadi saya sebutkan. Barulah setelah beberapa bulan kelas berjalan, saya membeli kelengkapan, salah satunya neonbox ini walaupun harganya jutaan rupiah.




Untuk ruangan kelas, gambar yang di sebelah kiri adalah tampak ruangan saat tahun pertama kelas berjalan. Di gambar ini juga sudah tak terlihat sekat yang tadi sebelumnya saya sebutkan, karena sudah saya robohkan agar ruangan terasa lapang walaupun tidak ada lagi bagian khusus lobi. Karena saat itu belum ada papan semacam papan mading, gambar-gambar yang saya pakai saat mengajar, termasuk gambar-gambar buatan siswa saya tempel di dinding menggunakan lem khusus agar tidak merusak lapisan cat dinding. Thanks to PLC lembaga kursus tempat saya mengajar sebelumnya, saya jadi tahu penggunaan lem serbaguna itu.





Di tahun kedua, beberapa hari sebelum perayaan hari jadi kedua lembaga kursus ini, saya dan siswa kembali bergotong royong mendekor ruangan kelas agar terwujud suasana baru dalam belajar. Jadilah ruangan kelas seperti gambar di sebelah kanan. Saat itu saya juga mulai memakai karpet untuk melapisi lantai agar tercipta suasana nyaman dan sejuk di dalam kelas. Bisa dilihat disana papan tulis dengan ukuran yang agak kecil, menyesuaikan ruangan kelas yang memang kecil. Tapi dari papan mini itu

telah tercipta banyak momen-momen belajar yang tidak bisa dilupakan oleh saya dan mungkin siswa siswa sendiri.


Di dalam kelas ini juga bisa dilihat ada sebuah lemari beserta isinya. Di lemari inilah saya menyimpan segala bentuk perlengkapan mengajar seperti flashcard, ataupun perlengkapan bermain seperti papan untuk permainan snakes and ladders. Terlihat pula di rak tengah terdapat alat-alat tulis seperti pensil, buku tulis, buku gambar, kotak pensil. Jadi ceritanya saya mengajar ini sambil jualan alat tulis hehe. Tapi bukan berarti proses jual beli terjadi saat kelas berlangsung. Saya selalu ingatkan siswa agar membeli perlengkapan sebelum kelas berlangsung, agar nantinya tidak mengganggu proses belajar mengajar.


Dari sedikit pemaparan tentang ”bisnis” sampingan saya tadi, sampai disini mungkin terbesit pertanyaan seputar dana yang saya gunakan untuk membangun kelas ini, apakah bersumber dari hasil niaga tersebut juga? Di awal saya tidak punya satu peser pun uang untuk mendirikan tempat belajar ini, karena status saya memang masih fresh graduate ketika itu. Alhasil, saya berinisiatif meminjam sejumlah uang dengan orang tua, waktu itu sebanyak 10 juta rupiah. Dana pinjaman itulah yang saya gunakan untuk membeli perlengkapan untuk tempat kursus ini, termasuk diantaranya kursi belajar, meja, kursi taman yang tadi saya sebutkan, dan pendingin ruangan. Dan benar adanya bahwa penghasilan kecil dari penjualan stationary tadi sedikit banyak bisa membantu saya melunasi pinjaman, selain dari uang biaya les yang dibayar oleh siswa.

Seiring waktu berjalan, jumlah siswa yang belajar di tempat saya makin bertambah. Itu berarti lembaga ini sudah memiliki penghasilan yang lebih dari sebelumnya. Tepat di tahun ketiga saya melakukan perubahan yang cukup besar, baik dari segi administrasi maupun fasilitas lembaga.


Saya kembali berterimakasih kepada bapak saya yang telah merelakan toko berserta gudangnya saya jadikan ruangan kelas beserta lobi yang terlihat seperti lobi hotel ini. Bahkan sofa yang ada di sana pun adalah hibah dari beliau. Berkat beliau pula kelas yang dulunya agak jauh berada di belakang rumah, kini tepat berada di depan sehingga terlihat dari luar. Oleh karena itu saya mendesain lobi ini semenarik mungkin berikut furnitur yang ada agar terlihat menarik. Saya bahkan mendesain sendiri meja resepsionis, memberi nya warna coklat kayu agar tetap ada kesan sejuk walaupun ruangan dominan berwarna oranye. Pun begitu dengan dinding di luar yang sebelumnya tertutup lalu saya rubuhkan sehingga menjadi terbuka seperti sekarang. Banyak yang bertanya maksud dari motif buble yang saya gunakan ini. Jadi ceritanya di tahun ketiga saya mulai menggunakan logo yang baru yang di dalamnya berisi lima buah bubble yang menandakan sekelompok orang yang sedang chatting. Dari situlah saya ingin menonjolkan ide ini lewat desain eksterior gedung ini.

Dan seperti inilah suasana di dalam ruangan kelas yang baru. Karena luas ruangan ini dua kali lebih besar dari ruangan sebelumnya, fasilitas di dalamnya pun ikut menyesuaikan. Papan tulis yang dulunya kecil saya ubah menjadi papan pengumuman yang berada di luar kelas, dan posisinya digantikan oleh dua papan besar ini. Kapasitas kelas yang besar juga membuat saya bisa mengajar 15 siswa sekaligus, berbeda dengan di kelas sebelumnya yang hanya bisa menampung maksimal delapan siswa. Untuk warna dinding kali ini saya melakukan perubahan yang sangat signifikan dari sebelumnya. Dinding saya warnai dengan warna kuning dan oranye, karena berdasarkan beberapa riset katanya warna cerah seperti ini bisa membantu siswa tetap fokus dan terjaga sehingga mereka tetap bersemangat di dalam kelas dalam kondisi apapun. Dari hasil penelitian ini lah saya baru menyadari warna dinding di kelas sebelumnya bernuansa teduh ditambah dengan karpet motif kayu tadi. Desain sejuk seperti itu lalu saya terapkan di kamar tidur saya hehe.

Segala hal yang berkaitan dengan lembaga kursus sudah saya ceritakan disini. Cerita selanjutnya yang juga ingin sekali saya bagikan, karena lebih banyak cerita seru dan berkesan tentunya, adalah tentang kegiatan belajar di lembaga ini. Jadi sampai ketemu di cerita berikutnya ya!!

Sabtu, 27 Februari 2016

Pengalaman Pertama Tes IELTS

Sebelum mulai bercerita, saya ingin berterimakasih banyak pada teman-teman saya yang telah banyak membantu mulai dari persiapan sampai selesai tes.

  • Bli Arya Suadnya, Kadek Juniarsana, Kadek Sudirka
Mereka telah berbaik hati memberi tempat menginap selama saya di Denpasar, merelakan motornya saya bawa kemana-kemana, termasuk ke lokasi tes IELTS. Bahkan mereka rela uangnya saya pinjam untuk bayar pendaftaran IELTS hehe.

  •    Koko Zhendy Crissandi
Teman saya dari zaman kuliah ini banyak memberi saran dalam persiapan tes IELTS, termasuk tips agar lolos beasiswa ke luar negeri.


PERSIAPAN
Ada satu hal yang patut diketahui sebelum memutuskan untuk mengambil tes IELTS, yakni biaya tes yang lumayan menguras isi kantong. Tes IELTS yang saya ikuti pada Desember 2015 bertarif 2,8 juta rupiah. Kalau skor yang ditargetkan tercapai plus dengan skor tersebut bisa diterima di universitas di luar negeri seperti di Amerika misalnya, rasanya tidak apa-apa mengeluarkan uang sebanyak itu. Tapi, kalau skor tidak mencapai target selain menguras kantong sepertinya akan menguras hati juga hehe. Makanya, ketika saya memutuskan untuk mengikuti tes ini, saya berusaha mempersiapkan semaksimal mungkin agar hasilnya setimpal dengan dana yang telah saya keluarkan. Berikut beberapa persiapan penting yang saya lakukan:

Menentukan tanggal kapan akan mengikuti tes
Tes IELTS biasanya diadakan dua kali dalam sebulan. Jadwal dan lokasi tes bisa di cek disini https://www.ielts.org/book-a-test/find-a-test-location. Sebelum memilih tanggal yang diinginkan, penting untuk menyesuaikan dengan tujuan mengikuti tes ini. Kalau hendak studi di luar negeri misalnya, perhatikan batas waktu pendaftaran di kampus disana. Jangan sampai setelah mengikuti tes ternyata pendaftaran sudah ditutup. Begitu pula jika hendak mengajukan beasiswa, perlu diperhatikan tenggat waktu pendaftarannya.

Penting pula untuk diingat bahwa pemilihan jadwal tes akan menentukan waktu persiapan dalam hal belajar. Sebaiknya pilih jadwal yang memungkinkan untuk persiapan belajar. Sebagai perbandingan, saya dengan level bahasa Inggris intermediate menghabiskan waktu belajar selama kurang lebih satu bulan, intensif enam jam sehari, yang membuahkan hasil berupa skor IELTS 7.  Kalau tidak yakin akan seberapa besar kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki, saya sarankan untuk mengikuti semacam placement test di tempat kursus. Dengan mengetahui level bahasa Inggris kita, akan mudah menentukan apakah kita sudah siap atau tidak mengikuti tes IELTS. Kalau merasa sudah siap, akan mudah pula untuk menentukan jadwal belajar untuk tes IELTS dan jadwal tes IELTS itu sendiri.   


 Mencari informasi tentang tes IELTS
Di era internet seperti sekarang, sangat mudah untuk mendapatkan informasi tentang tes IELTS. Dengan membuka website resmi IELTS, kita bisa mendapatkan semua informasi yang berkaitan dengan tes IELTS, mulai dari apa saja isi tes nya sampai bahan belajar untuk tes. Informasi tersebut bisa dilihat di https://www.ielts.org/what-is-ielts/ielts-introduction.


 Belajar
Ada dua macam belajar yang saya maksud disini. Yang pertama adalah belajar bahasa Inggris, karena tes IELTS adalah tes yang mengevaluasi kemampuan bahasa Inggris kita. Bagi yang merasa kemampuan bahasa Inggris nya berada di bawah level intermediate, sebaiknya meluangkan waktu untuk belajar bahasa Inggris terlebih dahulu. Kalau merasa mampu bisa belajar sendiri, atau belajar dengan didampingi seorang guru. Yang penting diingat adalah dalam belajar bahasa Inggris kita mesti terbiasa mendengar dan membaca dalam bahasa Inggris, yang nantinya diikuti dengan praktik dalam menulis dan berbicara dalam bahasa Inggris pula. Semuanya akan memberi kesempatan untuk memperdalam vocabulary, grammar, dan pronunciation kita. Dan ketiga aspek tersebut masuk dalam kriteria penilaian dalam tes IELTS.

Belajar yang kedua adalah belajar untuk tes itu sendiri. Format tes IELTS dari dulu sampai sekarang selalu sama, jadi yang perlu kita pelajari disini adalah strategi menguasai tes tersebut. Sama seperti saat kita akan mengikuti Ujian Nasional matematika. Kita mungkin sudah jago dalam mengerjakan soal matematika, tapi kita tetap perlu belajar mengerjakan soal yang biasanya keluar dalam UN tersebut.

Sama dengan belajar bahasa Inggris, belajar untuk tes IELTS juga bisa dilakukan sendiri jika dirasa mampu, atau belajar di lembaga kursus. Saya sendiri sebenarnya sudah mendaftar di salah satu tempat kursus di Jakarta untuk mengikuti yang namanya kursus IELTS Preparation, namun dikarenakan jadwal yang tidak memungkinkan untuk diikuti, saya terpaksa belajar sendiri. http://www.dcielts.com/ inilah yang banyak menyediakan bahan belajar bagi saya, termasuk tips jitu untuk menghadapi tes IELTS. Untung nya juga saya mendaftar tes IELTS di IALF yang memungkinkan saya untuk belajar di perpustakaannya secara gratis satu minggu sebelum tes. Disana saya bisa belajar menggunakan buku terbitan dari si pembuat tes IELTS itu sendiri, yang kalau di toko buku harga nya bisa mencapai sekitar tiga ratus ribu rupiah. Lumayan kan bisa menghemat pengeluaran heehe.

Terakhir yang paling penting diingat dalam belajar, termasuk belajar untuk tes IELTS adalah kita harus konsisten dan disiplin. Saya sempat merasa jenuh selama proses belajar ini. Bagaimana tidak selama satu bulan saya melakukan hal yang sama, pagi jam 8 mulai belajar sampai jam 12 siang. Jam 1 saya lanjut belajar lagi sampai jam 5 sore. Tapi ya balik lagi karena sudah komitmen biar mendapat skor yang diinginkan inilah satu-satunya yang harus saya lakukan. Saya bahkan sempat mendapat ajakan teman untuk memancing. Tapi karena waktu itu saya masih belajar untuk tes IELTS dengan yakin saya tolak. Dan barulah setelah tes saya pergi memancing sepuasnya hehe.

Persiapan Lainnya
Kalau sudah menentukan waktu dan tempat untuk tes IELTS, termasuk waktu dan tempat untuk belajar, langkah berikutnya mungkin lebih tergantung ke pribadi masing-masing. Misalnya saya yang menginginkan istirahat yang nyaman dan cukup di malam sebelum mengikuti tes, memilih menginap di hotel meskipun teman saya sudah berbaik hati memberikan tempat menginap di rumah atau kos nya. Seorang teman bahkan menyarankan saya minum susu beruang (bukan susu dari beruang ya heehe) di pagi hari sebelum tes dimulai. Walaupun mungkin susu sapi biasa sudah cukup, tapi paling tidak dengan minum susu kita mendapat nutrisi yang cukup untuk mengikuti tes.

Di malam hari sebelum tes, usahakan tidur yang cukup mengingat kita harus sudah berada di lokasi tes sekitar jam 7 pagi. Karena terlambat sedikit pun kita tidak boleh mengikuti tes. Persiapkan semua alat tulis yang akan dibawa, termasuk kartu identitas. Pastikan pula pakaian yang akan kita kenakan di hari tes sudah tersedia malam itu juga.

Pagi harinya, jangan lupa sarapan secukupnya ditambah dengan susu beruang hehe. Pakailah pakaian yang rapi dan nyaman digunakan. Agar lebih percaya diri lagi luangkan waktu untuk berdoa agar Tuhan memberikan kelancaran dan kesuksesan untuk tes yang akan kita ikuti.

HARI-H TES

Pagi itu hari Sabtu, 5 Desember 2015 tepat jam 7 pagi saya sudah tiba di IALF Bali untuk mengikuti tes IELTS. Disana sudah ada beberapa peserta tes yang sedang menunggu tes dimulai. Saya menghampiri beberapa dari mereka dan mengajak ngobrol, satu orang adalah lulusan SMA yang ingin kuliah di Aussie, dan satunya lagi perawat yang ingin melamar kerja di Aussie juga. Dengan yang terakhir ini saya banyak mendapat cerita pengalamannya saat sebelumnya mengikuti tes ini.

Setengah jam kemudian kami semua peserta tes dipanggil oleh panitia. Kami berkumpul di depan sebuah ruangan dan mendapat penjelasan tentang proses tes ini nantinya. Setelah itu kami masuk ke sebuah ruangan tempat kami memasuki tahap pertama tes yakni penyerahan bukti identitas dan pengambilan pas foto. Untunglah sehari sebelum tes saya sudah potong rambut di sebuah barbershop namanya Jeg Bagus yang artinya Bagus Sekali dan memang hasil potongan nya memuaskan haha.

Setelah semua proses identifikasi dilewati (seperti kasus kriminal saja hehe) kami meninggalkan ruangan berikut dengan tas kami. Yang boleh kami bawa ke ruangan tes hanya alat tulis, kartu identitas, dan air minum, itupun jika air kemasan labelnya harus dilepas.

Selanjutnya kami berjalan menuju sebuah ruangan besar di lantai dua tempat tes akan berlangsung. Di sana sudah ada panitia yang akan mengecek kembali identitas kami dan meminta kami masuk ke ruangan satu per satu. Ruangan seperti ballroom hotel ini sudah berisi kursi seperti kursi kuliah lengkap dengan nama dan nomor peserta. Jarak antar kursi sudah diatur sedemikian rupa untuk mencegah aksi contek mencontek, karena memang dilarang dalam tes ini. Ketika semua peserta sudah ada di ruangan, panitia membacakan peraturan selama tes, kurang lebih sama dengan aturan saat tes atau ujian sekolah pada umumnya. Terakhir panitia menulis di papan jam tes ini dimulai dan tes akan selesai, dimulai dengan tes Listening, Reading, dan Writing. Tes terakhir yakni Speaking dilakukan di ruangan terpisah.

Tes Listening dan Reading
Seperti biasa di awal tes ini tidak ada kesulitan berarti. Barulah di bagian berikutnya sampai terakhir ada saja yang sulit dikerjakan sehingga ada beberapa bagian yang saya lewatkan lalu saya isi belakangan. Padahal belum tentu kita ingat apa yang tadi disebutkan oleh si pembicara di audio. Tapi untunglah ada yang masih saya ingat dan dibantu juga oleh penguasaan materi dan sedikit logika juga hehe. Untuk tips dan trik menghadapi tes ini, bisa dilihat disini http://www.dcielts.com/, saya jamin akan sangat membantu.

Tes Reading kurang lebih sama, mudah di awal lalu sulit di akhir. Kali ini juga saya berhasil mengerjakan semua, walaupun tidak yakin akan benar semua hehe. Untuk tips dan trik nya juga ada di http://www.dcielts.com/

Tes Writing
Berbekal latihan selama beberapa hari terakhir sebelum tes, saya tidak menemukan kesulitan berarti dalam mengerjakan tes ini, selain dari jumlah kata yang bagi saya masih kurang dari persyaratan. Mengikuti tips di http://www.dcielts.com/ saya mengerjakan Writing bagian kedua terlebih dahulu dengan pertimbangan poinnya lebih besar dari bagian pertama. Waktu itu saya merasa beruntung mendapat topik tentang dampak media sosial bagi siswa sekolah, topik yang familiar bagi saya selain karena profesi sebagai seorang guru. Setelah menulis (mungkin kurang dari) 500 kata selama 40 menit, waktu yang tersisa 20 menit lagi saya gunakan untuk mengerjakan bagian pertama yakni menulis deskripsi dari sebuah diagram dalam 250 kata. Sebenarnya kalau banyak latihan dan tahu strategi nya saya yakin bisa mengerjakan tes ini dan mendapat hasil maksimal. Sekali lagi http://www.dcielts.com/ akan sangat membantu dalam hal ini.

Tes Speaking
Tiap peserta mendapat waktu yang berbeda-beda untuk tes ini, berbeda dengan tiga tes sebelumnya yang diikuti serentak. Saya yang mendapat jadwal pukul 12.30 mendapat waktu jeda 30 menit sebelum tes ini dimulai karena tes Writing selesai tepat pukul 12.00. Sebenarnya waktu yang ada bisa saya gunakan untuk makan siang di warteg dekat IALF. Tapi saya tunda dengan asumsi makan akan lebih terasa nikmat kalau setelah semua tes terlewati. Toh speaking hanya berdurasi sekitar 15 menit jadi masih bisa menahan lapar.

Waktu setengah jam lalu saya sengaja isi dengan mengobrol dengan peserta lain terutama yang bukan orang Indonesia yang jadwalnya sama dengan saya namun lokasi tes di ruangan yang berbeda. Salah satunya adalah dengan seorang warga negara Selandia Baru yang mengikuti tes IELTS karena akan melamar kerja di Aussie. Lumayan lah selain saya sambil melatih speaking saya, kami sempat saling berbagi cerita saat mengikuti rangkaian tes sebelumnya. Tak terasa waktu pun cepat berlalu, saya lalu dipanggil panitia untuk bersiap-siap dan menunggu di depan ruangan tes. Tak lama kemudian nama saya dipanggil kembali untuk disuruh masuk ke dalam ruangan. Disana sudah ada seorang native speaker, sepertinya orang Australia, yang nantinya akan menilai kemampuan speaking saya. Ia lalu mempersilakan saya duduk dan mulai mewawancarai saya.

Speaking bagian pertama saya mendapat pertanyaan sederhana dan umum seputar keluarga, teman dan pekerjaan saya. Di bagian kedua saya diminta untuk berbicara maksimal dua menit tentang sebuah topik. Saya tidak menduga akan mendapat topik tersebut, dan dari latihan yang saya lakukan sebelumnya tidak ada yang berhubungan kesana. Tapi untunglah saya bisa melakukannya dengan cukup bagus menurut saya heehe. Di bagian ketiga saya kembali diwawancara dengan beberapa pertanyaan yang masih berhubungan dengan topik di bagian kedua. Sempat juga saya mendapat pertanyaan yang berhubungan dengan bahasa, tidak jauh dengan bidang di pekerjaan saya. Jadi secara keseluruhan saya bisa melewati tes ini dengan baik, dan kalau masalah hasil saya serahkan kepada Yang Kuasa.   

PENGUMUMAN HASIL TES
Saya sempat memperkirakan skor IELTS saya dengan melihat intensitas persiapan dan performa saya saat tes. Saat persiapan, saya lebih banyak melatih kemampuan writing dan speaking, dengan pertimbangan selama empat tahun sebelumnya saya sudah banyak mendengar audio dan membaca teks ataupun artikel dalam bahasa Inggris, namun kurang melatih skil writing dan speaking karena memang susah mendapat kesempatan berhubung tinggal di desa yang memberi peluang sangat kecil untuk menggunakan bahasa Inggris. Tapi justru disitu kebanggaannya, bisa mendapat skor IELTS dengan status very good walaupun hanya dari desa hehe.

Saat tes saya memang merasa ada beberapa soal yang saya jawab dengan salah sehingga perkiraan saya skor listening dan reading nya tidak lebih dari 7. Sementara untuk writing prediksi skor saya juga sama karena sepertinya jumlah kata yang saya tulis kurang dari persyaratan. Walaupun sebelumnya saya banyak sekali melakukan latihan sehingga buku tulis yang saya pakai untuk belajar dipenuhi dengan karangan-karangan dalam bentuk paragraf, termasuk kata-kata baru yang saya pelajari. Untuk speaking, selama latihan saya merekam pembicaraan saya dalam bentuk video sehingga nanti bisa saya putar kembali untuk mengetahui kekurangan saya agar bisa dikembangkan lagi. Dari rekaman itulah, beserta performa saya saat tes sebenarnya rasanya saya masih kurang fasih. Maka dari itu jika mendapat skor 7 pun saya merasa sudah sangat bagus.

Hari pengumuman tes pun tiba, tanggal 18 Desember 2015. Walaupun posisi saya sudah ada di Belitung saat itu, saya masih tetap bisa mengetahui hasil tes secara online. Dan disinilah terjadi sedikit drama hehe. Sistem online yang saya gunakan sangat akurat, sehingga salah satu huruf saja, atau keliru antara huruf besar dan huruf kecil saat memasukkan data hasil tidak bisa ditemukan. Lumayan mendebarkan saat itu, saya terus berdoa agar hasilnya sesuai target yakni 7, tapi setelah memasukkan data lalu menekan enter hasil tak kunjung muncul. Saya sampai mencari di google bagaimana cara mengatasi ini. Singkat cerita akhirnya saya putuskan untuk menghubungi pihak IALF dan staf nya dengan baik hati memberi petunjuk nya. Walaupun hasilnya baru saya ketahui 2 hari kemudian, apa yang saya lihat di layar LCD komputer saya saat itu membuat saya gembira. Skor saya secara keseluruhan 7, dengan skor masing masing Listening dan Reading adalah 7, writing dan speaking sebesar 6,5. Saya lalu mengucap syukur karena hasilnya sesuai target dan sesuai prediksi juga hehe. Kabar gembira ini lalu saya sampaikan ke beberapa teman yang sempat mengikuti kiprah saya sebelum tes hehe.

Dengan skor 7 ini lah, sambil menunggu hasil tes versi hardcopy dikirim ke alamat saya di Belitung, saya langsung mendaftar di salah satu kampus impian saya di Amerika untuk melanjutkan studi S2. Dan syukurlah pada pertengahan Januari 2016 saya mendapat pengumuman bahwa saya diterima setelah melalui proses yang banyak dan menyita banyak energi dan waktu. Cerita lengkap tentang ini akan saya tulis di post berikutnya yang juga berisi drama yang lebih seru lagi hehe.


Sekian dulu dan jumpa lagi!