Lagu Via Vallen sebagai penyemangat
“Yo yo ayo, yo ayo yo yo ayo”. Awal karir ku di Jakarta ketika itu bertepatan dengan perhelatan akbar Asian Games. Lagu tema yang dinyanyikan Via Vallen itulah yang rasanya menjadi penyemangat hari hari karena sering sekali lagu ini diputar dimana mana ketika itu.
3 September 2018 adalah hari pertama aku bertemu mahasiswa dalam sebuah acara pembukaan masa pengenalan kehidupan kampus. Pagi itu matahari bersinar cerah sekali, seakan menjadi penyemangat ku dalam menjalani tugas sebagai dosen.
Mengapa perlu disemangati? Jawabannya aku ketahui segera setelah aku bertemu pertama kali dengan dosen lain yang lebih senior. Ketika ngobrol dengan mereka dalam topik apapun selalu kesimpulannya adalah dibutuhkannya semangat perubahan dari dosen muda.
Dilema sebagai dosen muda
Menjadi dosen baru bagiku juga terasa seperti menjadi tenaga baru bagi institusi tempatku bekerja. Tugas yang dulunya diemban oleh dosen senior kini menjadi tanggung jawab dosen muda. Aku bersyukur telah dipercaya mengemban amanah ini. Selain itu, tugas ini memberiku kesempatan mengasah ilmu dan kemampuan yang aku punya.
Seperti misalnya ketika diminta untuk memandu kuliah perdana 2018/2019 dengan Najela Shihab sebagai pembicara. Ini adalah kali pertama aku menjadi moderator dalam acara seminar sekaligus diskusi seperti ini. Berkat tugas ini aku makin menyadari bahwa kesuksesan pendidikan sangat memerlukan peran serta banyak pihak. Walau terdengar sulit untuk diwujudkan, tapi toh ada yang telah berhasil melakukannya. Hal ini aku ketahui setelah mempelajari profil pembicara kuliah perdana ini.
Hal baru lainnya yang pernah aku lakukan adalah saat tenaga pengajar bahasa asing dari Kementrian Pertahanan melakukan observasi di kelas ku untuk melihat proses pengajaran bahasa. Aku juga diminta untuk datang ke kantor mereka dalam rangka memberikan lokakarya tentang penggunaan teknologi dalam pengajaran bahasa. Kembali aku bersyukur atas kepercayaan dari institusi ku dalam mengemban tugas ini. Berkat tugas ini aku berkesempatan memahami lebih dalam tentang teknologi informasi dan penggunaannya dalam kelas bahasa.
Dilema sebagai dosen non-PNS
Ini adalah aktivitas tambahan ku di luar tugas sebagai dosen. Aku mengajar persiapan tes IELTS bagi dosen. Pekerjaan ini aku lakukan untuk mengisi waktu sebagai dosen tetap non-PNS. Waktu kerja ku sebenarnya hanya tiga hari, dua hari aku gunakan khusus untuk mengajar mahasiswa dan satu hari khusus untuk mengerjakan tugas penelitiian dan pengabdian.
Satu tahun berlalu aku semakin menyadari bahwa aku perlu tambahan hari kerja untuk memaksimalkan tugas sebagai dosen, terlebih karena ada tugas tambahan dari jurusan di luar tugas utama yakni Tri Dharma (mengajar, meneliti, mengabdi). Namun, aku kembali ke keadaan bahwa aku adalah dosen non-PNS yang karena kewajibannya terbatas membuat haknya pun terbatas pula.
Syukurlah aku dipercaya melakukan beberapa pekerjaan yang membuatku tidak berpikir keras untuk bertahan hidup di Jakarta menggunakan hak yang aku dapat saat ini. Terlebih pekerjaan tersebut aku lakukan berkaitan dengan peran ku sebagai dosen terutama urusan publikasi.
Dengan begini rasanya ada untungnya juga menjadi dosen non-PNS. Menjadi dosen dengan golongan tertentu sepertinya akan membuat ku banyak menghabiskan waktu untuk mengajar sehingga hanya ada sedikit kesempatan untuk penelitian dan pengabdian.
Seperti misalnya dengan kesempatan mengikuti seminar internasional ini aku bisa mendengar dan membaca tentang apa yang sedang menjadi topik pembicaraan para akademisi di luar sana. Aku juga bisa mendapat masukan untuk penelitian yang aku lakukan.
Tetap semangat
Entah sampai kapan semangat ini akan bertahan, namun yang pasti satu tahun bertugas di kampus ini aku masih memiliki mimpi mengharumkan nama institusi dari prestasi mahasiswa dan dosennya terutama yang berkaitan dengan kontribusi nya pada masyarakat. Aku masih semangat menyampaikan ide dan gagasan yang aku punya pada dosen lain maupun atasan ku, terlepas dari beragam respon yang aku dapatkan. Aku masih semangat belajar hal baru dari rekan dosen lain.
Kembali mengutip lagu Via Vallen yakni “terus fokus satu titik, hanya itu titik itu, tetap fokus kita kejar, dan raih bintang”. Semoga semangat ini terus ada sampai nanti.


