Tiga tahun
berjalan telah banyak momen-momen yang berhubungan dengan aktivitas belajar
mengajar yang terjadi di lembaga saya. Ada 100 orang di desa kecil di pulau kecil yang
bernama Beitung yang mau belajar Bahasa Inggris di lembaga ini. Mereka masih
anak-anak usia sekolah, masih sangat lama bagi mereka untuk diwajibkan
menggunakan Bahasa Inggris nantinya. Kalaupun untuk berkomunikasi dengan turis,
jumlah bule yang datang berwisata ke Belitung masih bisa dihitung dengan jari.
Lalu apa yang membuat mereka begitu antusias mengikuti kelas ini?
#Guru Bahasa
Inggris Merangkap Guru Bimbel

Para siswa yang ada di foto samping ini adalah mereka yang sedang mengikuti
bimbingan belajar untuk persiapan menghadapi ujian nasional. Begitulah di
awal-awal karir saya sebagai guru Bahasa Inggris saya justru diberi kepercayaan
oleh orang tua siswa untuk membantu anak-anak mereka mempersiapkan ujian.
Karena memang bimbel lebih populer di daerah saya ketimbang kursus Bahasa
Inggris. Meskipun begitu, saya akhirnya tetap pada tujuan awal yakni mengajar
Bahasa Inggris sepenuhnya sehingga konsentrasi saya terpusat di bidang ini. Ini
juga berkaitan dengan cita-cita saya sebagai guru Bahasa Inggris professional.
Saat itu saya sangat yakin dengan menjadi pengajar professional banyak siswa
akan merasa terbantu dalam peningkatan kemampuan Bahasa Inggris mereka. Ini
juga pada akhirnya membuat anak-anak lain termotivasi untuk ikut belajar Bahasa
Inggris, terlebih jika suasana belajar sangat mendukung bagi mereka.
#Fun Classes

Dari
situlah perhatian saya tertuju pada kelas-kelas Bahasa Inggris di lembaga
kursus ternama, yang saya yakin dijalankan dengan professional. Saya pun
berusaha semampu saya mewujudkan hal serupa di kelas saya. Seperti pada gambar
di samping ini siswa saya sedang belajar interaktif menggunakan komputer yang
memungkinkan mereka untuk mereview
materi yang telah mereka pelajari melalui games-games menarik.
Aktivitas inilah
yang sampai sekarang menjadi yang paling diminati di kalangan siswa, baik
anak-anak maupun remaja. Walaupun mereka harus antri menunggu giliran seperti
ini, tapi mereka tetap antusias menunggu sampai giliran mereka tiba. Waktu
menunggu mereka habiskan dengan ikut bermain, mengajari temannya cara bermain,
atau menulis sesuatu di papan tulis. Disinilah mereka bisa mengekspresikan
kebebasan dalam belajar.
Aktivitas
lainnya yakni yang menggunakan flashcards.
Bisa dikatakan di hampir semua kelas saya selalu menggunakan tools ini. Selain karena pada dasarnya
siswa suka melihat sesuatu dalam bentuk gambar, metode ini juga ampuh dalam
memancing productive skills siswa terutama
dalam hal speaking. Misalnya, saat
saya menyebutkan huruf M, saya meminta mereka untuk menepuk flashcard yang memiliki huruf M, lalu
menyebutkan kata untuk gambar tersebut,
yakni Moon. Sama seperti yang dilakukan oleh kelompok siswa remaja ini. Mereka
ini secara bergiliran menyebutkan kata-kata yang memiliki suara seperti yang
disimbolkan di dalam kartu di depan mereka. Aktivitas seperti ini akan
secara tidak langsung melatih pronunciation
mereka.
Aktivitas di kelas juga tidak terbatas pada penggunaan
flashcard saja. Banyak hal yang bisa
digunakan, salah satunya adalah kegiatan sehari-hari siswa. Seperti gambar di
bawah ini, siswa sedang praktek masak.
Di usia
siswa seperti ini aktivitas yang mereka gemari terutama siswa perempuan adalah
bermain masak-masakan. Dan jadilah waktu itu saya memiliki ide melibatkan
aktivitas ini dalam kelas mereka. Para siswa saat itu sedang belajar vocabulary yang berhubungan dengan food and drinks. Aktivitas seperti ini
akan melatih mereka menggunakan kata-kata yang telah mereka pelajari
sebelumnya, secara real dan
menyenangkan tentunya.
#Class Routines
Saya pikir
semua kelas menerapkan semacam aturan yang ditujukan untuk ditaati oleh siswa,
bahkan termasuk guru nya juga. Tata tertib yang berlaku di kelas saya kurang
lebih sama dengan kelas-kelas pada umumnya, yang selalu bertujuan untuk
kelancaran proses belajar. Namun yang akan saya jabarkan disini adalah semacam
tradisi yang berlaku di kelas saya, yang tidak hanya wajib untuk diikuti tetapi
pada saat yang sama menciptakan suasana seru bagi siswa.
Gambar ini mengisyaratkan
bahwa saya menginginkan siswa, termasuk saya sendiri untuk menggunakan Bahasa
Inggris kapan dan dimanapun melihat gambar ini. Hal ini saya lakukan agar siswa
terbiasa menggunakan kata, kalimat, atau ungkapan Bahasa Inggris yang mereka
tahu ataupun yang telah mereka pelajari. Bagi siswa baru gambar ini yang paling
mereka tidak ingin lihat. Lalu dimana sisi serunya?? Ketika siswa keceplosan
menggunakan bahasa selain Bahasa Inggris, mereka “didenda” sebesar Rp 500,-.
Uang denda ini nantinya akan dikembalikan ke mereka untuk dibelikan makanan
atau minuman. Sementara di kelas anak-anak dendanya adalah makanan ringan misalnya
wafer. Saat kelas selesai makanan ini mereka makan bersama-sama.
Gambar di samping
ini lebih tepatnya merupakan aturan khusus untuk saya sendiri sebagai pengajar.
Sebelumnya, saya sering memperpanjang jadwal belajar siswa. Walaupun hanya
lewat lima menit siswa terkadang protes, karena saya lah yang kurang bisa
mengatur waktu. Dengan jam ini, saya bisa mengeset waktu saat saya harus
menyudahi kelas. Dan sepertinya saat yang paling ditunggu siswa adalah ketika
alarm jam ini berbunyi.
Ini juga
yag paling ditunggu oleh siswa saya. Setelah kelas selesai mereka keluar
ruangan dan berkumpul di lobby untuk mengisi daftar hadir menggunakan cap jari
lalu membayar class fee sebesar Rp
6.500,-. sebagian besar tidak membawa uang pas sehingga mereka pasti punya
kembalian. Uang kembalian ini dapat mereka ganti dengan semangka segar ini yang
bernilai Rp 500,- per potong. Mereka juga bisa menggantinya dengan permen. Bagi
saya, ini sekaligus sebagai bisnis kecil. Dari keuntungan “menjual” semangka
dan permen tersebut sedikit banyak bisa menambah uang kas hehe.
#Students Play
Ide awal mengadakan
semacam pementasan ini saya dapat dari buku panduan mengajar terbitan Oxford
University Press. Tujuannya sebenarnya sederhana sekali. Sebagai pengajar,
pertunjukan ini akan menjadi tolak ukur keberhasilan saya dalam mengajar. Bagi siswa,
ini adalah kesempatan mereka mempraktekkan langsung materi yang telah mereka
pelajari dalam konteks yang real meskipun dalam bentuk akting. Di sisi lain
orang tua mereka akan melihat ini sebagai bukti seberapa banyak putra putri
mereka telah belajar Bahasa Inggris. Harapannya setelah pentas tersebut siswa
dan orang tua akan merasakan Bahasa Inggris yang telah dipelajari bisa
digunakan dalam kesempatan seperti ini walaupun di kehidupan sehari-hari mereka
jarang menggunakannya. Ini juga bisa dikatakan sebagai final result atas semua usaha, biaya, dan waktu yang telah siswa,
guru, dan orang tua habiskan selama program belajar mengajar. Karena kita pasti
akan bersemangat melakukan sesuatu, termasuk belajar Bahasa Inggris, jika ada
hasil yang jelas bukan??
Ada berapa
kisah menarik selama proses persiapan sampai di hari setelah pementasan drama
Bahasa Inggris ini. Dalam hal mempersiapkan naskah drama saya tidak menemukan
masalah berarti karna jalan cerita ketiga kisah yakni Cinderella, the Ant and
the Dove, Pinokio, adalah cerita dongeng yang familiar bagi semua kalangan.
Hanya saja saya lumayan repot mempersiapkan dialog karna harus disesuaikan
dengan fitur-fitur bahasa yang telah dipelajari siswa saya. Ini sangat penting
agar siswa bisa menerapkan materi belajar mereka. Hal lain yang juga lumayan
merepotkan adalah persiapan kostum. Saat itu saya usahakan bagaimanapun caranya
untuk menekan biaya pembelian bahan kostum. Untunglah orang tua siswa cukup
kooperatif meminjamkan beberapa perlengkapan. Siswa sendiri juga ikut sukarela
membuat properti seperti daun dan pohon. Siswa dan orang tua sangat
antusias untuk hal ini.
Menjelang
pementasan drama ini, ada sedikit “drama” diantara para pemain yakni siswa
sendiri. Ada satu diantara mereka yang menyatakan tidak mau ikut pementasan
karena malu. Sudah membujuknya dengan berbagai cara masih belum berhasil. Saya
sempat bingung mencari pemain pengganti ketika itu, karena pasti tidak semua punya
kemampuan seperti siswa tersebut. Beruntung ada seorang yang dulunya pernah
menjadi siswa saya dan berhenti belajar Bahasa Inggris dikarenakan suatu hal,
bersedia mengggantikan nya. Dan waktu itu nyaris tanpa bujuk rayu karena
pertama kali ia ditawarkan ia langsung menyanggupi.

Saat hari H
pun drama serupa terjadi pada satu lagi pemain. Ia sempat berselisih dengan
seorang penonton dan karena usianya masih anak-anak ia ngambek dan mengatakan tidak akan ikut pentas. Jadilah para pemain
lain membujuk anak ini dan setelah beberapa usaha ia akhirnya mau kembali mengikuti pentas.
Setelah
pentas selesai pun masih ada “drama” lainnya. Video hasil rekaman saat pentas
hasilnya sangat buruk. Bukan dari kualitas videonya, tapi suara yang ada
didalamnya. Ini menjadi catatan evaluasi penting bagi saya. Akibat tidak adanya
pengeras suara saat itu, suara pemain drama tidak terdengar di video, yang ada
hanyalah suara audio visual dan beberapa suara riuh penonton. Untuk kebutuhan
dokumentasi video yang akan dimuat dalam CD untuk siswa, dan juga upload video
ini ke Youtube, tidak mungkin menggunakan video hasil rekaman tersebut.
Solusinya???? Saya terpaksa merekam ulang pentas drama ini dengan settingan dan
kostum serta cerita yang sama. Hanya bedanya kali ini tidak ada yang menonton
karena untuk kebutuhan rekaman saja. Kembali saya bersyukur dalam hal ini
karena siswa masih antusias terlibat dalam proses pengambilan video.

Pentas drama ini adalah pentas yang kedua bagi siswa khususnya bagi
siswa anak. Mereka sebelumnya sudah pernah saya libatkan dalam pentas serupa
dengan tema cerita sehari-hari dalam rangka menyambut World Children Day ketika
itu. Meskipun saat itu hanya menampilkan satu cerita yag juga diisi kuis dan
lomba berhadiah, terjadi drama yang juga cukup membuat panik. Beberapa menit
sebelum pentas dimulai listrik tiba-tiba padam, tiada angin tiada hujan.
Beruntung lagi saya mendapat bantuan pinjaman jenset dari orang tua siswa yang kebetulan
rumahnya dekat dengan lokasi pementasan. Dukungan dari orang tua semacam ini
lah yang membuat saya bersemangat untuk mengadakan pentas kedua yang lebih
besar di tahun berikutnya.
#Tourists Interview
Ada satu
lagi aktivitas yang berhubungan dengan kelas Bahasa Inggris ini yang juga
bertujuan sama dengan pementasan drama di atas. Kegiatan ini mungkin yang
paling real bisa siswa lakukan karena berhubungan langsung dengan tujuan mereka
belajar Bahasa Inggris yakni bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris terutama
dengan bule bule yang berkunjung ke daerah mereka.
Kegiatan
ini tidak hanya berupa semacam meet and
greet saja tapi juga praktik kemampuan berkomunikasi yang siswa telah
pelajari. Siswa minimal menanyakan pertanyaan yang berisi konten tata bahasa.
Untuk itu, saya membuat format wawancara dalam bentuk pengisian formulir,
sehingga otomatis siswa menggunakan pertanyaan yang biasa mereka latih untuk
jawab selama belajar. Tidak lupa saya mengharuskan aktivitas ini mereka rekam
dalam bentuk video agar bisa dievalusi nantinya.

Ini salah
satu foto dari kegiatan siswa wawancara dengan turis. Bisa terlihat siswa walau
agak malu berfoto dengan bule tapi inilah yang mereka inginkan sejak dulu, bisa
dan berani berbicara dengan turis asing, terlebih melakukan tanya jawab seperti
dalam wawancara ini. Dengan adanya foto ini, siswa menjadi semakin semangat
belajar, bahkan bisa memotivasi anak-anak lainnnya untuk ikut belajr Bahasa
Inggris. Orang tua siswa juga melihat ini sebagai bukti bahwa putra putri mereka
memang belajar Bahasa Inggris untuk dipakai da diterapkan.
Saya juga
kembali melihat antusias luar biasa dari siswa untuk kegiatan ini. Seperti
terlihat di gambar, lokasi dimana mereka akan banyak bertemu turis adalah
pantai, yang berjarak kurang lebih 15 km dari rumah mereka. Ada siswa yang
bahkan rela bolak-balik ke pantai tersebut karena belum berhasil bertemu turis
mengingat belum begitu banyak turis asing yang berkunjung ke pantai Belitung
ini. Bahkan terjadi persaingan kecil ketika itu di kalangan siswa sehingga
mereka harus gerak cepat untuk bertemu turis. Tapi sekali lagi, dengan semangat
mereka yang tinggi, hal tersebut bukan lah kendala. Siswa lain pun lebih
bersemangat terutama yang baru belajar Bahasa Inggris dan tidak sabar
menyelesaikan satu level agar bisa bertemu dan ngobrol dengan turis seperti ini.
#Keep Learning
Sederet aktivitas belajar baik di dalam maupun di luar kelas yang dilakukan siswa sebenarnya mengisyaratkan agar siswa terus belajar dan berlatih kapan dan dimanapun ada kesempatan. Karena belajar bahasa erat kaitannya dengan latihan dan praktek terus menerus. Itulah yang selalu saya ingatkan pada siswa, agar mereka tetap belajar dan berlatih bahkan di luar kelas sekalipun. Dan salah satu tugas pengajar seperti saya adalah membimbing dan mengarahkan agar proses belajar berlanjut sampai di luar kelas, karena sebenarnya waktu 1,5 jam per hari jauh dari cukup untuk belajar Bahasa Inggris.









