Sabtu, 27 Februari 2016

Pengalaman Pertama Tes IELTS

Sebelum mulai bercerita, saya ingin berterimakasih banyak pada teman-teman saya yang telah banyak membantu mulai dari persiapan sampai selesai tes.

  • Bli Arya Suadnya, Kadek Juniarsana, Kadek Sudirka
Mereka telah berbaik hati memberi tempat menginap selama saya di Denpasar, merelakan motornya saya bawa kemana-kemana, termasuk ke lokasi tes IELTS. Bahkan mereka rela uangnya saya pinjam untuk bayar pendaftaran IELTS hehe.

  •    Koko Zhendy Crissandi
Teman saya dari zaman kuliah ini banyak memberi saran dalam persiapan tes IELTS, termasuk tips agar lolos beasiswa ke luar negeri.


PERSIAPAN
Ada satu hal yang patut diketahui sebelum memutuskan untuk mengambil tes IELTS, yakni biaya tes yang lumayan menguras isi kantong. Tes IELTS yang saya ikuti pada Desember 2015 bertarif 2,8 juta rupiah. Kalau skor yang ditargetkan tercapai plus dengan skor tersebut bisa diterima di universitas di luar negeri seperti di Amerika misalnya, rasanya tidak apa-apa mengeluarkan uang sebanyak itu. Tapi, kalau skor tidak mencapai target selain menguras kantong sepertinya akan menguras hati juga hehe. Makanya, ketika saya memutuskan untuk mengikuti tes ini, saya berusaha mempersiapkan semaksimal mungkin agar hasilnya setimpal dengan dana yang telah saya keluarkan. Berikut beberapa persiapan penting yang saya lakukan:

Menentukan tanggal kapan akan mengikuti tes
Tes IELTS biasanya diadakan dua kali dalam sebulan. Jadwal dan lokasi tes bisa di cek disini https://www.ielts.org/book-a-test/find-a-test-location. Sebelum memilih tanggal yang diinginkan, penting untuk menyesuaikan dengan tujuan mengikuti tes ini. Kalau hendak studi di luar negeri misalnya, perhatikan batas waktu pendaftaran di kampus disana. Jangan sampai setelah mengikuti tes ternyata pendaftaran sudah ditutup. Begitu pula jika hendak mengajukan beasiswa, perlu diperhatikan tenggat waktu pendaftarannya.

Penting pula untuk diingat bahwa pemilihan jadwal tes akan menentukan waktu persiapan dalam hal belajar. Sebaiknya pilih jadwal yang memungkinkan untuk persiapan belajar. Sebagai perbandingan, saya dengan level bahasa Inggris intermediate menghabiskan waktu belajar selama kurang lebih satu bulan, intensif enam jam sehari, yang membuahkan hasil berupa skor IELTS 7.  Kalau tidak yakin akan seberapa besar kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki, saya sarankan untuk mengikuti semacam placement test di tempat kursus. Dengan mengetahui level bahasa Inggris kita, akan mudah menentukan apakah kita sudah siap atau tidak mengikuti tes IELTS. Kalau merasa sudah siap, akan mudah pula untuk menentukan jadwal belajar untuk tes IELTS dan jadwal tes IELTS itu sendiri.   


 Mencari informasi tentang tes IELTS
Di era internet seperti sekarang, sangat mudah untuk mendapatkan informasi tentang tes IELTS. Dengan membuka website resmi IELTS, kita bisa mendapatkan semua informasi yang berkaitan dengan tes IELTS, mulai dari apa saja isi tes nya sampai bahan belajar untuk tes. Informasi tersebut bisa dilihat di https://www.ielts.org/what-is-ielts/ielts-introduction.


 Belajar
Ada dua macam belajar yang saya maksud disini. Yang pertama adalah belajar bahasa Inggris, karena tes IELTS adalah tes yang mengevaluasi kemampuan bahasa Inggris kita. Bagi yang merasa kemampuan bahasa Inggris nya berada di bawah level intermediate, sebaiknya meluangkan waktu untuk belajar bahasa Inggris terlebih dahulu. Kalau merasa mampu bisa belajar sendiri, atau belajar dengan didampingi seorang guru. Yang penting diingat adalah dalam belajar bahasa Inggris kita mesti terbiasa mendengar dan membaca dalam bahasa Inggris, yang nantinya diikuti dengan praktik dalam menulis dan berbicara dalam bahasa Inggris pula. Semuanya akan memberi kesempatan untuk memperdalam vocabulary, grammar, dan pronunciation kita. Dan ketiga aspek tersebut masuk dalam kriteria penilaian dalam tes IELTS.

Belajar yang kedua adalah belajar untuk tes itu sendiri. Format tes IELTS dari dulu sampai sekarang selalu sama, jadi yang perlu kita pelajari disini adalah strategi menguasai tes tersebut. Sama seperti saat kita akan mengikuti Ujian Nasional matematika. Kita mungkin sudah jago dalam mengerjakan soal matematika, tapi kita tetap perlu belajar mengerjakan soal yang biasanya keluar dalam UN tersebut.

Sama dengan belajar bahasa Inggris, belajar untuk tes IELTS juga bisa dilakukan sendiri jika dirasa mampu, atau belajar di lembaga kursus. Saya sendiri sebenarnya sudah mendaftar di salah satu tempat kursus di Jakarta untuk mengikuti yang namanya kursus IELTS Preparation, namun dikarenakan jadwal yang tidak memungkinkan untuk diikuti, saya terpaksa belajar sendiri. http://www.dcielts.com/ inilah yang banyak menyediakan bahan belajar bagi saya, termasuk tips jitu untuk menghadapi tes IELTS. Untung nya juga saya mendaftar tes IELTS di IALF yang memungkinkan saya untuk belajar di perpustakaannya secara gratis satu minggu sebelum tes. Disana saya bisa belajar menggunakan buku terbitan dari si pembuat tes IELTS itu sendiri, yang kalau di toko buku harga nya bisa mencapai sekitar tiga ratus ribu rupiah. Lumayan kan bisa menghemat pengeluaran heehe.

Terakhir yang paling penting diingat dalam belajar, termasuk belajar untuk tes IELTS adalah kita harus konsisten dan disiplin. Saya sempat merasa jenuh selama proses belajar ini. Bagaimana tidak selama satu bulan saya melakukan hal yang sama, pagi jam 8 mulai belajar sampai jam 12 siang. Jam 1 saya lanjut belajar lagi sampai jam 5 sore. Tapi ya balik lagi karena sudah komitmen biar mendapat skor yang diinginkan inilah satu-satunya yang harus saya lakukan. Saya bahkan sempat mendapat ajakan teman untuk memancing. Tapi karena waktu itu saya masih belajar untuk tes IELTS dengan yakin saya tolak. Dan barulah setelah tes saya pergi memancing sepuasnya hehe.

Persiapan Lainnya
Kalau sudah menentukan waktu dan tempat untuk tes IELTS, termasuk waktu dan tempat untuk belajar, langkah berikutnya mungkin lebih tergantung ke pribadi masing-masing. Misalnya saya yang menginginkan istirahat yang nyaman dan cukup di malam sebelum mengikuti tes, memilih menginap di hotel meskipun teman saya sudah berbaik hati memberikan tempat menginap di rumah atau kos nya. Seorang teman bahkan menyarankan saya minum susu beruang (bukan susu dari beruang ya heehe) di pagi hari sebelum tes dimulai. Walaupun mungkin susu sapi biasa sudah cukup, tapi paling tidak dengan minum susu kita mendapat nutrisi yang cukup untuk mengikuti tes.

Di malam hari sebelum tes, usahakan tidur yang cukup mengingat kita harus sudah berada di lokasi tes sekitar jam 7 pagi. Karena terlambat sedikit pun kita tidak boleh mengikuti tes. Persiapkan semua alat tulis yang akan dibawa, termasuk kartu identitas. Pastikan pula pakaian yang akan kita kenakan di hari tes sudah tersedia malam itu juga.

Pagi harinya, jangan lupa sarapan secukupnya ditambah dengan susu beruang hehe. Pakailah pakaian yang rapi dan nyaman digunakan. Agar lebih percaya diri lagi luangkan waktu untuk berdoa agar Tuhan memberikan kelancaran dan kesuksesan untuk tes yang akan kita ikuti.

HARI-H TES

Pagi itu hari Sabtu, 5 Desember 2015 tepat jam 7 pagi saya sudah tiba di IALF Bali untuk mengikuti tes IELTS. Disana sudah ada beberapa peserta tes yang sedang menunggu tes dimulai. Saya menghampiri beberapa dari mereka dan mengajak ngobrol, satu orang adalah lulusan SMA yang ingin kuliah di Aussie, dan satunya lagi perawat yang ingin melamar kerja di Aussie juga. Dengan yang terakhir ini saya banyak mendapat cerita pengalamannya saat sebelumnya mengikuti tes ini.

Setengah jam kemudian kami semua peserta tes dipanggil oleh panitia. Kami berkumpul di depan sebuah ruangan dan mendapat penjelasan tentang proses tes ini nantinya. Setelah itu kami masuk ke sebuah ruangan tempat kami memasuki tahap pertama tes yakni penyerahan bukti identitas dan pengambilan pas foto. Untunglah sehari sebelum tes saya sudah potong rambut di sebuah barbershop namanya Jeg Bagus yang artinya Bagus Sekali dan memang hasil potongan nya memuaskan haha.

Setelah semua proses identifikasi dilewati (seperti kasus kriminal saja hehe) kami meninggalkan ruangan berikut dengan tas kami. Yang boleh kami bawa ke ruangan tes hanya alat tulis, kartu identitas, dan air minum, itupun jika air kemasan labelnya harus dilepas.

Selanjutnya kami berjalan menuju sebuah ruangan besar di lantai dua tempat tes akan berlangsung. Di sana sudah ada panitia yang akan mengecek kembali identitas kami dan meminta kami masuk ke ruangan satu per satu. Ruangan seperti ballroom hotel ini sudah berisi kursi seperti kursi kuliah lengkap dengan nama dan nomor peserta. Jarak antar kursi sudah diatur sedemikian rupa untuk mencegah aksi contek mencontek, karena memang dilarang dalam tes ini. Ketika semua peserta sudah ada di ruangan, panitia membacakan peraturan selama tes, kurang lebih sama dengan aturan saat tes atau ujian sekolah pada umumnya. Terakhir panitia menulis di papan jam tes ini dimulai dan tes akan selesai, dimulai dengan tes Listening, Reading, dan Writing. Tes terakhir yakni Speaking dilakukan di ruangan terpisah.

Tes Listening dan Reading
Seperti biasa di awal tes ini tidak ada kesulitan berarti. Barulah di bagian berikutnya sampai terakhir ada saja yang sulit dikerjakan sehingga ada beberapa bagian yang saya lewatkan lalu saya isi belakangan. Padahal belum tentu kita ingat apa yang tadi disebutkan oleh si pembicara di audio. Tapi untunglah ada yang masih saya ingat dan dibantu juga oleh penguasaan materi dan sedikit logika juga hehe. Untuk tips dan trik menghadapi tes ini, bisa dilihat disini http://www.dcielts.com/, saya jamin akan sangat membantu.

Tes Reading kurang lebih sama, mudah di awal lalu sulit di akhir. Kali ini juga saya berhasil mengerjakan semua, walaupun tidak yakin akan benar semua hehe. Untuk tips dan trik nya juga ada di http://www.dcielts.com/

Tes Writing
Berbekal latihan selama beberapa hari terakhir sebelum tes, saya tidak menemukan kesulitan berarti dalam mengerjakan tes ini, selain dari jumlah kata yang bagi saya masih kurang dari persyaratan. Mengikuti tips di http://www.dcielts.com/ saya mengerjakan Writing bagian kedua terlebih dahulu dengan pertimbangan poinnya lebih besar dari bagian pertama. Waktu itu saya merasa beruntung mendapat topik tentang dampak media sosial bagi siswa sekolah, topik yang familiar bagi saya selain karena profesi sebagai seorang guru. Setelah menulis (mungkin kurang dari) 500 kata selama 40 menit, waktu yang tersisa 20 menit lagi saya gunakan untuk mengerjakan bagian pertama yakni menulis deskripsi dari sebuah diagram dalam 250 kata. Sebenarnya kalau banyak latihan dan tahu strategi nya saya yakin bisa mengerjakan tes ini dan mendapat hasil maksimal. Sekali lagi http://www.dcielts.com/ akan sangat membantu dalam hal ini.

Tes Speaking
Tiap peserta mendapat waktu yang berbeda-beda untuk tes ini, berbeda dengan tiga tes sebelumnya yang diikuti serentak. Saya yang mendapat jadwal pukul 12.30 mendapat waktu jeda 30 menit sebelum tes ini dimulai karena tes Writing selesai tepat pukul 12.00. Sebenarnya waktu yang ada bisa saya gunakan untuk makan siang di warteg dekat IALF. Tapi saya tunda dengan asumsi makan akan lebih terasa nikmat kalau setelah semua tes terlewati. Toh speaking hanya berdurasi sekitar 15 menit jadi masih bisa menahan lapar.

Waktu setengah jam lalu saya sengaja isi dengan mengobrol dengan peserta lain terutama yang bukan orang Indonesia yang jadwalnya sama dengan saya namun lokasi tes di ruangan yang berbeda. Salah satunya adalah dengan seorang warga negara Selandia Baru yang mengikuti tes IELTS karena akan melamar kerja di Aussie. Lumayan lah selain saya sambil melatih speaking saya, kami sempat saling berbagi cerita saat mengikuti rangkaian tes sebelumnya. Tak terasa waktu pun cepat berlalu, saya lalu dipanggil panitia untuk bersiap-siap dan menunggu di depan ruangan tes. Tak lama kemudian nama saya dipanggil kembali untuk disuruh masuk ke dalam ruangan. Disana sudah ada seorang native speaker, sepertinya orang Australia, yang nantinya akan menilai kemampuan speaking saya. Ia lalu mempersilakan saya duduk dan mulai mewawancarai saya.

Speaking bagian pertama saya mendapat pertanyaan sederhana dan umum seputar keluarga, teman dan pekerjaan saya. Di bagian kedua saya diminta untuk berbicara maksimal dua menit tentang sebuah topik. Saya tidak menduga akan mendapat topik tersebut, dan dari latihan yang saya lakukan sebelumnya tidak ada yang berhubungan kesana. Tapi untunglah saya bisa melakukannya dengan cukup bagus menurut saya heehe. Di bagian ketiga saya kembali diwawancara dengan beberapa pertanyaan yang masih berhubungan dengan topik di bagian kedua. Sempat juga saya mendapat pertanyaan yang berhubungan dengan bahasa, tidak jauh dengan bidang di pekerjaan saya. Jadi secara keseluruhan saya bisa melewati tes ini dengan baik, dan kalau masalah hasil saya serahkan kepada Yang Kuasa.   

PENGUMUMAN HASIL TES
Saya sempat memperkirakan skor IELTS saya dengan melihat intensitas persiapan dan performa saya saat tes. Saat persiapan, saya lebih banyak melatih kemampuan writing dan speaking, dengan pertimbangan selama empat tahun sebelumnya saya sudah banyak mendengar audio dan membaca teks ataupun artikel dalam bahasa Inggris, namun kurang melatih skil writing dan speaking karena memang susah mendapat kesempatan berhubung tinggal di desa yang memberi peluang sangat kecil untuk menggunakan bahasa Inggris. Tapi justru disitu kebanggaannya, bisa mendapat skor IELTS dengan status very good walaupun hanya dari desa hehe.

Saat tes saya memang merasa ada beberapa soal yang saya jawab dengan salah sehingga perkiraan saya skor listening dan reading nya tidak lebih dari 7. Sementara untuk writing prediksi skor saya juga sama karena sepertinya jumlah kata yang saya tulis kurang dari persyaratan. Walaupun sebelumnya saya banyak sekali melakukan latihan sehingga buku tulis yang saya pakai untuk belajar dipenuhi dengan karangan-karangan dalam bentuk paragraf, termasuk kata-kata baru yang saya pelajari. Untuk speaking, selama latihan saya merekam pembicaraan saya dalam bentuk video sehingga nanti bisa saya putar kembali untuk mengetahui kekurangan saya agar bisa dikembangkan lagi. Dari rekaman itulah, beserta performa saya saat tes sebenarnya rasanya saya masih kurang fasih. Maka dari itu jika mendapat skor 7 pun saya merasa sudah sangat bagus.

Hari pengumuman tes pun tiba, tanggal 18 Desember 2015. Walaupun posisi saya sudah ada di Belitung saat itu, saya masih tetap bisa mengetahui hasil tes secara online. Dan disinilah terjadi sedikit drama hehe. Sistem online yang saya gunakan sangat akurat, sehingga salah satu huruf saja, atau keliru antara huruf besar dan huruf kecil saat memasukkan data hasil tidak bisa ditemukan. Lumayan mendebarkan saat itu, saya terus berdoa agar hasilnya sesuai target yakni 7, tapi setelah memasukkan data lalu menekan enter hasil tak kunjung muncul. Saya sampai mencari di google bagaimana cara mengatasi ini. Singkat cerita akhirnya saya putuskan untuk menghubungi pihak IALF dan staf nya dengan baik hati memberi petunjuk nya. Walaupun hasilnya baru saya ketahui 2 hari kemudian, apa yang saya lihat di layar LCD komputer saya saat itu membuat saya gembira. Skor saya secara keseluruhan 7, dengan skor masing masing Listening dan Reading adalah 7, writing dan speaking sebesar 6,5. Saya lalu mengucap syukur karena hasilnya sesuai target dan sesuai prediksi juga hehe. Kabar gembira ini lalu saya sampaikan ke beberapa teman yang sempat mengikuti kiprah saya sebelum tes hehe.

Dengan skor 7 ini lah, sambil menunggu hasil tes versi hardcopy dikirim ke alamat saya di Belitung, saya langsung mendaftar di salah satu kampus impian saya di Amerika untuk melanjutkan studi S2. Dan syukurlah pada pertengahan Januari 2016 saya mendapat pengumuman bahwa saya diterima setelah melalui proses yang banyak dan menyita banyak energi dan waktu. Cerita lengkap tentang ini akan saya tulis di post berikutnya yang juga berisi drama yang lebih seru lagi hehe.


Sekian dulu dan jumpa lagi! 

1 komentar:

  1. Pengalaman yang seru. Izin numpang lapak untuk menaruh informasi ya. Punya IPK 3.0, lulusan S-1 & dibawah 35 tahun? Kami menjamin anda untuk memperoleh IELTS 7.5 & mendapatkan beasiswa 100% diluar negeri. 3000+ alumni sejak 1996, kuliah di 4 benua. Untuk tes institusional IELTS gratis & info beasiswa: 0813 1663 4102

    BalasHapus