Selasa, 09 Agustus 2016

Mengajar Banyak Mengajarkan (part 2: Class Activities)



Tiga tahun berjalan telah banyak momen-momen yang berhubungan dengan aktivitas belajar mengajar yang terjadi di lembaga saya. Ada 100 orang di desa kecil di pulau kecil yang bernama Beitung yang mau belajar Bahasa Inggris di lembaga ini. Mereka masih anak-anak usia sekolah, masih sangat lama bagi mereka untuk diwajibkan menggunakan Bahasa Inggris nantinya. Kalaupun untuk berkomunikasi dengan turis, jumlah bule yang datang berwisata ke Belitung masih bisa dihitung dengan jari. Lalu apa yang membuat mereka begitu antusias mengikuti kelas ini?


#Guru Bahasa Inggris Merangkap Guru Bimbel


Para siswa yang ada di foto samping ini adalah mereka yang sedang mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan menghadapi ujian nasional. Begitulah di awal-awal karir saya sebagai guru Bahasa Inggris saya justru diberi kepercayaan oleh orang tua siswa untuk membantu anak-anak mereka mempersiapkan ujian. Karena memang bimbel lebih populer di daerah saya ketimbang kursus Bahasa Inggris. Meskipun begitu, saya akhirnya tetap pada tujuan awal yakni mengajar Bahasa Inggris sepenuhnya sehingga konsentrasi saya terpusat di bidang ini. Ini juga berkaitan dengan cita-cita saya sebagai guru Bahasa Inggris professional. Saat itu saya sangat yakin dengan menjadi pengajar professional banyak siswa akan merasa terbantu dalam peningkatan kemampuan Bahasa Inggris mereka. Ini juga pada akhirnya membuat anak-anak lain termotivasi untuk ikut belajar Bahasa Inggris, terlebih jika suasana belajar sangat mendukung bagi mereka.


#Fun Classes


Dari situlah perhatian saya tertuju pada kelas-kelas Bahasa Inggris di lembaga kursus ternama, yang saya yakin dijalankan dengan professional. Saya pun berusaha semampu saya mewujudkan hal serupa di kelas saya. Seperti pada gambar di samping ini siswa saya sedang belajar interaktif menggunakan komputer yang memungkinkan mereka untuk mereview materi yang telah mereka pelajari melalui games-games menarik.


Aktivitas inilah yang sampai sekarang menjadi yang paling diminati di kalangan siswa, baik anak-anak maupun remaja. Walaupun mereka harus antri menunggu giliran seperti ini, tapi mereka tetap antusias menunggu sampai giliran mereka tiba. Waktu menunggu mereka habiskan dengan ikut bermain, mengajari temannya cara bermain, atau menulis sesuatu di papan tulis. Disinilah mereka bisa mengekspresikan kebebasan dalam belajar.


Aktivitas lainnya yakni yang menggunakan flashcards. Bisa dikatakan di hampir semua kelas saya selalu menggunakan tools ini. Selain karena pada dasarnya siswa suka melihat sesuatu dalam bentuk gambar, metode ini juga ampuh dalam memancing productive skills siswa terutama dalam hal speaking. Misalnya, saat saya menyebutkan huruf M, saya meminta mereka untuk menepuk flashcard yang memiliki huruf M, lalu menyebutkan  kata untuk gambar tersebut, yakni MoonSama seperti yang dilakukan oleh kelompok siswa remaja ini. Mereka ini secara bergiliran menyebutkan kata-kata yang memiliki suara seperti yang disimbolkan di dalam kartu di depan mereka. Aktivitas seperti ini akan secara tidak langsung melatih pronunciation mereka.

Aktivitas di kelas juga tidak terbatas pada penggunaan flashcard saja. Banyak hal yang bisa digunakan, salah satunya adalah kegiatan sehari-hari siswa. Seperti gambar di bawah ini, siswa sedang praktek masak.



Di usia siswa seperti ini aktivitas yang mereka gemari terutama siswa perempuan adalah bermain masak-masakan. Dan jadilah waktu itu saya memiliki ide melibatkan aktivitas ini dalam kelas mereka. Para siswa saat itu sedang belajar vocabulary yang berhubungan dengan food and drinks. Aktivitas seperti ini akan melatih mereka menggunakan kata-kata yang telah mereka pelajari sebelumnya, secara real dan menyenangkan tentunya.

#Class Routines
Saya pikir semua kelas menerapkan semacam aturan yang ditujukan untuk ditaati oleh siswa, bahkan termasuk guru nya juga. Tata tertib yang berlaku di kelas saya kurang lebih sama dengan kelas-kelas pada umumnya, yang selalu bertujuan untuk kelancaran proses belajar. Namun yang akan saya jabarkan disini adalah semacam tradisi yang berlaku di kelas saya, yang tidak hanya wajib untuk diikuti tetapi pada saat yang sama menciptakan suasana seru bagi siswa.

Gambar ini mengisyaratkan bahwa saya menginginkan siswa, termasuk saya sendiri untuk menggunakan Bahasa Inggris kapan dan dimanapun melihat gambar ini. Hal ini saya lakukan agar siswa terbiasa menggunakan kata, kalimat, atau ungkapan Bahasa Inggris yang mereka tahu ataupun yang telah mereka pelajari. Bagi siswa baru gambar ini yang paling mereka tidak ingin lihat. Lalu dimana sisi serunya?? Ketika siswa keceplosan menggunakan bahasa selain Bahasa Inggris, mereka “didenda” sebesar Rp 500,-. Uang denda ini nantinya akan dikembalikan ke mereka untuk dibelikan makanan atau minuman. Sementara di kelas anak-anak dendanya adalah makanan ringan misalnya wafer. Saat kelas selesai makanan ini mereka makan bersama-sama.



Gambar di samping ini lebih tepatnya merupakan aturan khusus untuk saya sendiri sebagai pengajar. Sebelumnya, saya sering memperpanjang jadwal belajar siswa. Walaupun hanya lewat lima menit siswa terkadang protes, karena saya lah yang kurang bisa mengatur waktu. Dengan jam ini, saya bisa mengeset waktu saat saya harus menyudahi kelas. Dan sepertinya saat yang paling ditunggu siswa adalah ketika alarm jam ini berbunyi.

Ini juga yag paling ditunggu oleh siswa saya. Setelah kelas selesai mereka keluar ruangan dan berkumpul di lobby untuk mengisi daftar hadir menggunakan cap jari lalu membayar class fee sebesar Rp 6.500,-. sebagian besar tidak membawa uang pas sehingga mereka pasti punya kembalian. Uang kembalian ini dapat mereka ganti dengan semangka segar ini yang bernilai Rp 500,- per potong. Mereka juga bisa menggantinya dengan permen. Bagi saya, ini sekaligus sebagai bisnis kecil. Dari keuntungan “menjual” semangka dan permen tersebut sedikit banyak bisa menambah uang kas hehe.


#Students Play

Ide awal mengadakan semacam pementasan ini saya dapat dari buku panduan mengajar terbitan Oxford University Press. Tujuannya sebenarnya sederhana sekali. Sebagai pengajar, pertunjukan ini akan menjadi tolak ukur keberhasilan saya dalam mengajar. Bagi siswa, ini adalah kesempatan mereka mempraktekkan langsung materi yang telah mereka pelajari dalam konteks yang real meskipun dalam bentuk akting. Di sisi lain orang tua mereka akan melihat ini sebagai bukti seberapa banyak putra putri mereka telah belajar Bahasa Inggris. Harapannya setelah pentas tersebut siswa dan orang tua akan merasakan Bahasa Inggris yang telah dipelajari bisa digunakan dalam kesempatan seperti ini walaupun di kehidupan sehari-hari mereka jarang menggunakannya. Ini juga bisa dikatakan sebagai final result atas semua usaha, biaya, dan waktu yang telah siswa, guru, dan orang tua habiskan selama program belajar mengajar. Karena kita pasti akan bersemangat melakukan sesuatu, termasuk belajar Bahasa Inggris, jika ada hasil yang jelas bukan??

Ada berapa kisah menarik selama proses persiapan sampai di hari setelah pementasan drama Bahasa Inggris ini. Dalam hal mempersiapkan naskah drama saya tidak menemukan masalah berarti karna jalan cerita ketiga kisah yakni Cinderella, the Ant and the Dove, Pinokio, adalah cerita dongeng yang familiar bagi semua kalangan. Hanya saja saya lumayan repot mempersiapkan dialog karna harus disesuaikan dengan fitur-fitur bahasa yang telah dipelajari siswa saya. Ini sangat penting agar siswa bisa menerapkan materi belajar mereka. Hal lain yang juga lumayan merepotkan adalah persiapan kostum. Saat itu saya usahakan bagaimanapun caranya untuk menekan biaya pembelian bahan kostum. Untunglah orang tua siswa cukup kooperatif meminjamkan beberapa perlengkapan. Siswa sendiri juga ikut sukarela membuat properti seperti daun dan pohon. Siswa dan orang tua sangat antusias untuk hal ini.

Menjelang pementasan drama ini, ada sedikit “drama” diantara para pemain yakni siswa sendiri. Ada satu diantara mereka yang menyatakan tidak mau ikut pementasan karena malu. Sudah membujuknya dengan berbagai cara masih belum berhasil. Saya sempat bingung mencari pemain pengganti ketika itu, karena pasti tidak semua punya kemampuan seperti siswa tersebut. Beruntung ada seorang yang dulunya pernah menjadi siswa saya dan berhenti belajar Bahasa Inggris dikarenakan suatu hal, bersedia mengggantikan nya. Dan waktu itu nyaris tanpa bujuk rayu karena pertama kali ia ditawarkan ia langsung menyanggupi.


Saat hari H pun drama serupa terjadi pada satu lagi pemain. Ia sempat berselisih dengan seorang penonton dan karena usianya masih anak-anak ia ngambek dan mengatakan tidak akan ikut pentas. Jadilah para pemain lain membujuk anak ini dan setelah beberapa usaha ia akhirnya mau kembali mengikuti pentas.


Setelah pentas selesai pun masih ada “drama” lainnya. Video hasil rekaman saat pentas hasilnya sangat buruk. Bukan dari kualitas videonya, tapi suara yang ada didalamnya. Ini menjadi catatan evaluasi penting bagi saya. Akibat tidak adanya pengeras suara saat itu, suara pemain drama tidak terdengar di video, yang ada hanyalah suara audio visual dan beberapa suara riuh penonton. Untuk kebutuhan dokumentasi video yang akan dimuat dalam CD untuk siswa, dan juga upload video ini ke Youtube, tidak mungkin menggunakan video hasil rekaman tersebut. Solusinya???? Saya terpaksa merekam ulang pentas drama ini dengan settingan dan kostum serta cerita yang sama. Hanya bedanya kali ini tidak ada yang menonton karena untuk kebutuhan rekaman saja. Kembali saya bersyukur dalam hal ini karena siswa masih antusias terlibat dalam proses pengambilan video.

Pada intinya saya banyak mendapat support dalam menyelenggarakan pertunjukan ini. Mulai dari kalangan siswa sendiri yang semuanya menjadi pemain drama, teman-teman mereka pun ikut membantu misalnya menjadi operator audio ataupun tim dokumentasi. Orang tua pun sangat mendukung kegiatan ini. Mereka mengizinkan siswa datang hampir tiap hari baik ke kelas maupun lokasi pentas untuk latihan sebelum pementasan. Pada akhirnya saya juga melihat saat pentas penonton yang hadir tidak hanya orang tua siswa maupun teman-temannya, tapi juga warga sekitar. Ini tentunya akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi siswa karena telah menunjukkan kemampuan mereka di depan umum.


Pentas drama ini adalah pentas yang kedua bagi siswa khususnya bagi siswa anak. Mereka sebelumnya sudah pernah saya libatkan dalam pentas serupa dengan tema cerita sehari-hari dalam rangka menyambut World Children Day ketika itu. Meskipun saat itu hanya menampilkan satu cerita yag juga diisi kuis dan lomba berhadiah, terjadi drama yang juga cukup membuat panik. Beberapa menit sebelum pentas dimulai listrik tiba-tiba padam, tiada angin tiada hujan. Beruntung lagi saya mendapat bantuan pinjaman jenset dari orang tua siswa yang kebetulan rumahnya dekat dengan lokasi pementasan. Dukungan dari orang tua semacam ini lah yang membuat saya bersemangat untuk mengadakan pentas kedua yang lebih besar di tahun berikutnya.  

#Tourists Interview
Ada satu lagi aktivitas yang berhubungan dengan kelas Bahasa Inggris ini yang juga bertujuan sama dengan pementasan drama di atas. Kegiatan ini mungkin yang paling real bisa siswa lakukan karena berhubungan langsung dengan tujuan mereka belajar Bahasa Inggris yakni bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris terutama dengan bule bule yang berkunjung ke daerah mereka.

Kegiatan ini tidak hanya berupa semacam meet and greet saja tapi juga praktik kemampuan berkomunikasi yang siswa telah pelajari. Siswa minimal menanyakan pertanyaan yang berisi konten tata bahasa. Untuk itu, saya membuat format wawancara dalam bentuk pengisian formulir, sehingga otomatis siswa menggunakan pertanyaan yang biasa mereka latih untuk jawab selama belajar. Tidak lupa saya mengharuskan aktivitas ini mereka rekam dalam bentuk video agar bisa dievalusi nantinya.


Ini salah satu foto dari kegiatan siswa wawancara dengan turis. Bisa terlihat siswa walau agak malu berfoto dengan bule tapi inilah yang mereka inginkan sejak dulu, bisa dan berani berbicara dengan turis asing, terlebih melakukan tanya jawab seperti dalam wawancara ini. Dengan adanya foto ini, siswa menjadi semakin semangat belajar, bahkan bisa memotivasi anak-anak lainnnya untuk ikut belajr Bahasa Inggris. Orang tua siswa juga melihat ini sebagai bukti bahwa putra putri mereka memang belajar Bahasa Inggris untuk dipakai da diterapkan.

Saya juga kembali melihat antusias luar biasa dari siswa untuk kegiatan ini. Seperti terlihat di gambar, lokasi dimana mereka akan banyak bertemu turis adalah pantai, yang berjarak kurang lebih 15 km dari rumah mereka. Ada siswa yang bahkan rela bolak-balik ke pantai tersebut karena belum berhasil bertemu turis mengingat belum begitu banyak turis asing yang berkunjung ke pantai Belitung ini. Bahkan terjadi persaingan kecil ketika itu di kalangan siswa sehingga mereka harus gerak cepat untuk bertemu turis. Tapi sekali lagi, dengan semangat mereka yang tinggi, hal tersebut bukan lah kendala. Siswa lain pun lebih bersemangat terutama yang baru belajar Bahasa Inggris dan tidak sabar menyelesaikan satu level agar bisa bertemu dan ngobrol dengan turis seperti ini.    

#Keep Learning
Sederet aktivitas belajar baik di dalam maupun di luar kelas yang dilakukan siswa sebenarnya mengisyaratkan agar siswa terus belajar dan berlatih kapan dan dimanapun ada kesempatan. Karena belajar bahasa erat kaitannya dengan latihan dan praktek terus menerus. Itulah yang selalu saya ingatkan pada siswa, agar mereka tetap belajar dan berlatih bahkan di luar kelas sekalipun. Dan salah satu tugas pengajar seperti saya adalah membimbing dan mengarahkan agar proses belajar berlanjut sampai di luar kelas, karena sebenarnya waktu 1,5 jam per hari jauh dari cukup untuk belajar Bahasa Inggris.

1 komentar:

  1. Bagaimana cara mempromosikan tempat les di daerah seperti tempat Mr mengajar? Tidak terlalu kota dan blm banyak turis sehingga minat masyarakat untuk les pun kurang. Terimakasih

    BalasHapus