Senin, 27 November 2017

Pengalaman dengan Beasiswa IELSP, Fulbright dan LPDP (bagian 1)


Beasiswa IELSP
  • Mengikuti Jejak Seorang Teman Kuliah
Adalah Negeri Paman Sam yang ketika itu menjadi tujuan dari mimpi saya ke luar negeri, dan saat itu adalah pertama kalinya saya berkeinginan menginjakkan kaki disana. Kira-kira tahun 2010, ada salah seorang teman kuliah saya di Jurusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang baru saja kembali dari kursus singkatnya di Iowa State University, USA, di bidang American Studies. Saat itu ia terpilih bersama beberapa mahasiswa S1 dari daerah lainnya di Indonesia untuk mengikuti kuliah singkat selama dua bulan di Amerika sebagai bagian dari program bernama IELSP (Indonesian English Language Study Program). Program ini disponsori oleh pemerintah USA dengan lembaga bernama the Institute for International Education (IIE) sebagai penyelenggara, mulai dari seleksi sampai keberangkatan peserta yang terpilih. Yang juga membuat program ini diminati adalah semua biaya terkait keikutsertaan di program ini gratis tanpa dipungut biaya sedikitpun.
Betapa tidak, setelah mendengar cerita dari teman saya tersebut sontak pikiran saya langsung tertuju untuk melakukan hal yang sama. Saya ingat sekali obrolan kami ketika itu di sebuah kantin dekat kampus telah menginspirasi saya untuk segera mengikuti seleksi program yang sama. Teman saya ini pun langsung menyarankan untuk mengontak salah satu dosen kami yang bisa diminta bantuan untuk memberi surat rekomendasi yang merupakan salah satu syarat untuk mengikuti seleksi. Saya pun dengan semangat mempersiapkan semua dokumen yang disyaratkan. Bisa dikatakan inilah pengalaman pertama saya mengikuti seleksi beasiswa ke luar negeri, walaupun usaha saya tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang saya inginkan. 
  • Kegagalan Pertama

Ya, usaha pertama saya untuk mendapatkan beasiswa ke Amerika berhenti setelah saya tahu bahwa saya tidak mendapat panggilan untuk mengikuti wawancara yang merupakan tahap berikutnya setelah seleksi dokumen. Kabar buruk tersebut bahkan saya ketahui dari dosen pemberi surat rekomendasi yang menanyakan lewat pesan singkat ketidakhadiran saya saat seleksi wawancara. Rasa kecewa tentu saja menghampiri ketika itu. Saya pun langsung memberi tahu teman saya perihal ketidakberhasilan ini. Ada juga salah seorang teman yang juga saya kabari, dia sempat saya mintai tolong untuk mengantarkan salah satu dokumen persyaratan ke pihak penyelenggara di Bali. Tak terkecuali Ibu saya, yang saya telpon ketika hendak mengikuti tes TOEFL ITP dengan maksud meminta dukungan dan doa restu. Masih terkenang di benak saya di pagi hari sebelum tes dimulai saya sengaja minum segelas susu sesuai saran yang saya peroleh di internet, dan meminum susu tersebut saya lakukan sambil berbicara dengan Ibu saya lewat telpon. Walau akhirnya tidak lolos ke tahap interview, meski telah dibarengi dengan usaha dan doa dari orang tua dan sahabat, termasuk konsumsi susu di pagi hari menjelang tes, paling tidak kegagalan yang telah saya dapatkan memberi pelajaran berharga untuk langkah langkah selanjutnya.
Beasiswa Fulbright
  • Usaha Pertama
Tahun 2012 adalah kali pertama saya mencoba  mengikuti seleksi penerima beasiswa Fulbright yang juga disponsori oleh pemerintah Amerika bagi lulusan S1 yang ingin melanjutkan studi S2 di Negeri Paman Sam itu. Di tahun yang sama saya sudah mulai mengajar Bahasa Inggris di lembaga yang saya dirikan di desa tempat saya tinggal di Belitung. Rasanya waktu itu saya memperoleh informasi tentang beasiwa ini dari postingan seorang teman di Facebook. Tenggat waktu pengumpulan berkas persyaratan ketika itu adalah pertengahan April dan saya mengirim semua berkas lewat pos dari Belitung ke kantor AMINEF (American Indonesian Educational Foundation) di Jakarta yang merupakan lembaga yang ditunjuk sebagai penyelenggara proses seleksi. Untuk surat rekomendasi tahun ini kembali saya meminta bantuan kepada salah satu dosen saya saat kuliah S1 dulu, dosen yang sama yang memberikan surat rekomendasi untuk saya saat melamar beasiswa IELSP. Namun sayang kembali lagi saya harus menyampaikan kabar buruk kepada Beliau karna saya kembali gagal di tahap awal seleksi dokumen beasiswa Fulbright. Walaupun begitu dosen saya ini tetap menyarankan agar saya tidak putus asa dan tetap mencoba kembali di kesempatan lain.
  • Usaha Kedua
Di tahun berikutnya yakni tahun 2013 saya kembali mengikuti seleksi beasiswa Fulbright. Kali ini, mungkin karna berkaca dari pengalaman gagal sebelumnya, saya tidak terlalu mengikuti informasi terbaru tentang beasiswa ini seolah-olah tidak akan pernah mencoba untuk melamar kembali. Niat untuk itu pun bahkan muncul setelah mengirim email kepada dosen saya sebelumnya dan saat itu email tersebut sama sekali tidak bertujuan untuk meminta surat rekomendasi. Email tersebut  tertanggal 1 April 2013, dan dibalas hari itu juga oleh dosen saya dengan kembali menyarankan untuk melamar kembali beasiswa Fulbright. Saya pun lalu melihat website AMINEF untuk mencari informasi tentang jadwal seleksi. Seperti di tahun sebelumnya, seleksi awal berkas juga berakhir pertengahan April 2013. Sebetulnya ada rasa tidak nyaman untuk meminta bantuan lagi pada dosen saya tersebut untuk memberikan surat rekomendasi sebagai salah satu syarat untuk melamar beasiswa ini. Oleh karna itulah, dilatarbelakangi oleh keraguan karna rasa tidak nyaman tadi, saya baru menyampaikan maksud untuk kembali melamar beasiswa Fulbright pada tanggal 9 April 2013, enam hari sebelum tenggat waktu pengumpulan berkas persyaratan. Jadilah dalam waktu enam hari tersebut saya kelabakan mempersiapkan ini itu, meskipun salah satu syarat yang penting juga yakni Personal Statement yang isinya essay maksimal 500 kata tentang diri kita sendiri dan alasan memilih studi lanjut di Amerika sudah saya persiapkan dan tinggal sedikit penyuntingan dari essay sebelumnya yang sudah dibuat. Semua dokumen lalu saya kirim 3 hari menjelang batas waktu pengumpulan, kecuali surat rekomendasi yang dikirim langsung oleh dosen saya melalui email ke AMINEF. Pihak panitia memang membolehkan pengiriman dokumen selain surat lamaran melewati batas waktu walaupun hal ini sebenarnya tidak disarankan.
Kurang lebih dua bulan berselang, saya masih ingat sekali ketika itu melihat email masuk melalui smartphone saya yang sedang diisi daya nya di dekat jendela ruangan tempat biasa mengajar. Tanggal 27 Juni 2013, alangkah bahagianya saat itu melihat nama saya di email tersebut sebagai salah satu dari beberapa orang yang belakangan saya ketahui berasal dari regional Sumatera yang terpilih untuk mengikuti seleksi berikutnya yakni wawancara di Jakarta. Dalam keadaan senang bukan kepalang, saya langsung menelpon kedua orang tua yang ketika itu sedang berada di Bali untuk memberitahu perihal undangan untuk mengikuti wawancara di kantor AMINEF di Jakarta tanggal 10 Juli 2013. Memang ini adalah ibarat berita besar terlebih karena di tahun sebelumnya gagal untuk lolos ke tahap wawancara. Masih teringat ketika itu salah satu orang yang mewawancarai saya, dari total lima orang pewawancara, mengatakan bahwa dengan berhasil lolos sampai ke tahap wawancara adalah hal yang luar biasa mengingat peminat beasiswa Fulbright di Indonesia sangat banyak namun hanya beberapa saja yang akhirnya diundang untuk mengikuti wawancara.
Entah hal ini disampaikan karena saya ketika itu terlihat belum berpeluang untuk lolos seleksi wawancara, saya tidak begitu tahu. Dari pertanyaan yang diajukan, sepertinya terlihat tidak ada ketertarikan akan kepribadian ataupun rencana studi saya. Jawaban yang saya berikan ketika itu sepertinya kurang meyakinkan bagi pewawancara. Memang rasanya saya tidak terlalu banyak meluangkan waktu untuk mempersiapkan wawancara tersebut, misalnya saja mencari informasi yang mendalam tentang universitas tujuan saya di Amerika. Saya memang hanya bisa menduga-duga, namun yang pasti adalah saya harus menerima kenyataan tidak mendapat email pemberitahuan tentang kelolosan yang waktu itu terjadwal bulan Agustus. Rekan saya yang juga berasal dari propinsi Bangka Belitung langsung menanyakan perihal email dari AMINEF tersebut. Mereka yang saat itu berprofesi sebagai dosen di Universitas Bangka Belitung di Pangkal Pinang dengan berbaik hati menasehati untuk tidak putus asa dan terus berusaha untuk meraih kesempatan belajar di Amerika. Mereka juga waktu itu bercerita tentang perjuangan mereka sebelumnya dalam mengikuti seleksi beasiswa seperti ini yang juga tak jarang menemui kegagalan sampai berkali-kali.
Di balik kegagalan kedua tersebut, ada cerita menarik yang rasanya perlu saya sampaikan di tulisan ini karena pengalaman menarik tersebut bahkan tak terlupakan sampai saat ini. Pertama adalah pengalaman ketika pertama kali datang ke kota Jakarta. Memang kota ini bisa ditempuh hanya dalam waktu kurang dari satu jam dari tempat saya tinggal dengan menggunakan pesawat, namun rasanya hanya perlu bepergian ke kota tersebut jika ada urusan tertentu saja. Dan memang kebetulan keberangkatan ke Jakarta waktu itu sepenuhnya dibiayai oleh AMINEF. Tiket pesawat pun sudah disiapkan sehingga tinggal menunggu hari keberangkatan termasuk kepulangan saja. Nah disinilah pengalaman menarik itu terjadi. Mungkin karena panitia AMINEF beranggapan bahwa di propinsi tempat saya tinggal yakni Bangka Belitung hanya ada satu bandara yakni Bandara Depati Amir. Mungkin juga panitia berpikiran bahwa Bangka dan Belitung terletak dalam satu kawasan, padahal terpisah oleh laut dengan waktu tempuh yang bisa memakan waktu sekitar 4 jam lamanya. Jadilah ketika itu saya dikirimkan tiket elektronik dengan rute Depati Amir-Soekarno Hatta PP. Tentu tidak mungkin berangkat ke Jakarta via Pangkal Pinang yang notabene terletak di Pulau Bangka, selain juga mempertimbangkan efisiensi waktu. Saya pun memutuskan untuk tetap berangkat dari Bandara Hananjoedin di Belitung ke Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta dan memesan sendiri tiket pesawat. Hal ini tentunya dilakukan setelah berkonsultasi dengan pihak panitia karena mereka tetap menanggung biaya yang saya keluarkan sendiri tersebut.
Tiba di Jakarta satu hari sebelum jadwal wawancara, hal-hal tak terlupakan saya alami ketika waktu itu menumpang di kosan salah seorang teman baik yang juga dulu berkuliah di Universitas Udayana dan saat itu sedang bekerja di kantor bank BCA di daerah Slipi. Pagi hari sekitar jam 10 bis Damri dari Bandara Soekarno-Hatta berhenti tepat di sebelah kantor tempat teman saya bekerja. Saya memang berniat untuk menemui nya terlebih dahulu di kantor nya sekalian untuk mengambil kunci kos nya. Betapa kagetnya dia ketika itu, melihat saya duduk seorang diri di tempat yang bahkan bukan tempat duduk di luar gedung tinggi tempat dia bekerja, terlihat seperti pengamen kata dia karna kebetulan waktu itu saya berpakaian dengan memakai jaket hoodie warna hitam dengan tas yang mungkin terlihat lusuh. Sangat jauh berbeda dengan penampilan nya yang ketika itu sangat rapi dengan kemeja yang terlihat formal dan seperti berkelas. Dia pun menyarankan untuk menunggu di dalam lobby gedung, namun akhirnya saya memutuskan untuk berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan di dekat gedung BCA. Sekedar melihat-lihat toko toko di dalam mall tersebut, saya lalu menemui teman saya kembali tepat saat jam makan siang yang memungkinkan baginya untuk mengantar saya ke kosannya. Kami pun menaiki bis kota yang bagi saya terkesan pengap dan berdebu dengan kondisi jalanan Jakarta yang ramai dibawah terik sinar matahari siang itu. Untunglah jarak tempuh ke kos nya tidak terlalu jauh, dan dalam beberapa menit kami pun sampai di tujuan. Kos tersebut dilengkapi dengan fasilitas WI-FI, yang ketika itu masih merupakan hal yang langka tidak seperti saat ini dengan ketersediaan jaringan internet cepat di hampir sebagian besar tempat umum. Selang beberapa menit teman saya lalu bergegas kembali ke kantor nya untuk kembali bekerja.

Malam harinya, teman saya ini menyempatkan diri untuk membantu dalam berlatih wawancara. Saya pun diminta waktu itu untuk sekalian memakai pakaian yang akan dipakai keesokan harinya untuk wawancara. Dia juga sangat berbaik hati memberi baju kemeja nya yang menurutnya lebih layak dipakai untuk sebuah wawancara. Tak lupa dasi hitam miliknya pun ia berikan saat itu. Dia bahkan meminta saya untuk memakai pembersih muka miliknya malam itu agar ikut membantu menunjang penampilan yang maksimal untuk wawancara. Mungkin benar adanya saat itu saya datang ke kota besar sekelas Jakarta dengan wajah yang kusam, tentulah akan memberi kesan kurang baik di hadapan pewawancara. Kebaikan teman saya ini tidak berhenti sampai disitu. Ia bahkan terus mengirimi pesan singkat mulai dari saya meninggalkan kosannya untuk berangkat ke lokasi wawancara di kawasan Sudirman sampai proses wawancara selesai. Hal itu juga sehubungan dengan keadaan saya yang belum begitu familiar dengan sistem transportasi di Jakarta. Saya sungguh berterimakasih atas apa yang telah ia lakukan untuk mendukung keikutsertaan saya dalam wawancara beasiswa Fulbright, walau dengan berat hati saya akhirnya memberi kabar buruk kepadanya tentang kegagalan di seleksi kali ini.

Cerita menarik selanjutnya adalah tentang kepulangan kembali ke Belitung. Karena tiket pesawat sudah dibelikan oleh panitia dengan rute Soekarno Hatta-Depati Amir, saya tetap pulang dengan tiket ini dengan tetap membeli tiket pesawat rute lanjutan Depati Amir (Bangka)-Hananjoedin (Belitung), tentunya dengan biaya yang sudah ditanggung panitia. Dari lokasi wawancara saya bersama dua orang rekan dari Bangka yang juga mengikuti wawancara ketika itu berangkat naik taksi ke Bandara Soetta. Tiba di Bandara Depati Amir, rekan saya tersebut dijemput oleh keluarga nya masing masing, dan tinggal saya yang akan melanjutkan penerbangan ke Belitung. Dan tibalah saat ketika saya menerima pemberitahuan bahwa pesawat yang hendak saya tumpangi tidak jadi berangkat hari itu dikarenakan kendala teknis. Alhasil saya mendapat kompensasi menginap di salah satu hotel berbintang di Pangkal Pinang. Rasa kesal karena tidak jadi berangkat hari itu lumayan tergantikan oleh kenyamanan beristirahat di kamar hotel yang sangat besar yang saya pikir harga per malam nya hampir satu juta rupiah. Keesokan harinya, karena pesawat yang melayani rute Bangka-Belitung masih mengalami kendala teknis, saya lalu memutuskan untuk pergi ke Belitung lewat laut dengan menumpangi kapal. Entah kebetulan atau bagaimana, di kapal tersebut saya menjumpai dua orang wanita yang juga terpaksa naik kapal ke Belitung, bukan karena pesawat nya tidak jadi terbang seperti kasus yang saya alami, tapi karena salah membeli tiket pesawat. Hampir serupa dengan panitia AMINEF yang membelikan saya tiket pesawat, mereka juga berpikiran bahwa Belitung dan Bangka berada di satu kawasan dengan hanya satu bandar udara sehingga justru membeli tiket ke Bangka dan bukan ke Belitung. Dari cerita para traveller tersebut, termasuk cerita perjalanan saya sendiri, paling tidak hal yang saya ceritakan kembali ke orang lain adalah tidak hanya tentang kegagalan saya meraih beasiwa, namun juga cerita di balik semua proses yang saya ikuti.
  • Usaha Ketiga 
Usaha ketiga saya lakukan di tahun 2015, melewati kesempatan di tahun 2014. Saya tidak ingat pasti mengapa memutuskan untuk tidak melamar beasiswa Fulbright di tahun 2014, mungkin kah masih trauma dengan kegagalan sebelumnya saya juga tidak tahu pasti. Terlebih lagi di tahun tersebut saya begitu disibukkan dengan kegiatan mengajar sekaligus mengelola lembaga kursus yang saya dirikan. Tahun 2014 juga adalah tahun yang bersejarah bagi lembaga kursus yang saya dirikan karna tepat pada hari jadi ketiga lembaga ini sudah secara resmi beroperasi, diikuti dengan penggunaan bahan ajar yang ‘legal’ ditambah pula dengan penambahan jumlah siswa yang berminat belajar Bahasa Inggris. Di tahun itu pula ruangan baru tempat belajar berdiri ditambah pula dengan adanya dua orang yang memberikan tambahan tenaga dalam hal urusan administrasi. Cerita lengkapnya bisa dilihat di tulisan saya sebelumnya.
Meski saya melewati satu tahun tanpa mengikuti proses seleksi, tidak berarti memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan segalanya di tahun 2015. Kegagalan kembali terjadi, dan kali ini perjuangan juga harus berakhir di tahap wawancara. Perbedaan dengan persiapan seleksi tahun 2013 adalah kali ini saya merasa sudah memilki alasan yang kuat untuk melanjutkan studi di institusi tujuan di Amerika.  Dilatarbelakangi oleh pengalaman mengajar yang telah melebihi dua tahun ketika itu, alasan melanjutkan studi di bidang pengajaran Bahasa Inggris sangat terkait erat dengan masalah masalah yang saya temui saat mengajar dan bagaimana institusi tujuan menawarkan mata kuliah yang bisa  diambil untuk memperkuat skill mengajar yang nantinya bisa digunakan untuk membantu siapapun yang sedang belajar Bahasa Inggris termasuk berbagi dengan para guru lain di Indonesia. Entah cara penyampaian kepada pewawancara ketika itu yang belum maksimal, atau alasan studi yang sebenarnya belum bisa diterima, atau ada alasan lain saya tidak pernah tahu. Saya bahkan mengirim email kepada pihak AMINEF terkait hal ini namun mereka menyatakan bahwa pihak panitia tidak dapat memberi tahu hal tersebut.

Walau kegagalan demi kegagalan yang saya alami, rasanya ada hikmah dari ketidakberhasilan mendapat beasiswa studi S2 di Amerika. Salah satunya adalah mungkin berkaitan dengan kesempatan berikutnya ketika berhasil mendapat beasiswa LPDP. Saya begitu bersyukur ketika pada akhirnya tergabung dalam ikatan para penerima beasiswa ini yang menurut saya adalah orang orang yang hebat di bidang nya masing masing dan yang paling penting adalah mereka yang memiliki komitmen untuk mengabdi sepenuhnya bagi Tanah Air Indonesia, mengingat semua biaya studi ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Ini bukan berarti para penerima beasiswa Fulbright tidak memilki jiwa dan semangat yang sama dengan penerima beasiwa LPDP, namun yang jelas sedari awal mengikuti proses seleksi hal yang bisa saya pastikan adalah LPDP betul betul menekankan semangat untuk menjadi bagian dari proses pembangunan di Indonesia. Jika sebelumnya berhasil mendapat beasiswa Fulbright, saya yakin pasti ada hal positif dan semangat yang saya dapat walau mungkin dalam bentuk lain. Pada akhirnya, inti dari semua ini adalah rasa syukur atas kesempatan yang sangat berarti setelah mendapat kesempatan studi di Inggris melalui beasiwa beasiswa LPDP.



(bersambung ke bagian 2)

1 komentar:

  1. Bang, boleh berbagi contoh personal statement dan letter of reference kah?

    BalasHapus