Senin, 30 April 2012

TIDAK PERNAH BERJODOH DENGAN KERETA API


Pertama-tama ini tidak ada hubungan dengan keluh kesah sebagai penumpang kereta api. Berdesak-desakkan dengan penumpang yang lain, bau pengap di dalam kereta, atau pedagang asongan yang datang bergiliran menawarkan beragam jenis barang, pasti semua sudah dialami oleh semua penumpang. Mungkin cerita saya berikut ini adalah gambaran dari orang yang pertama kali, atau kedua kali, naik kereta sehingga mengalami kejadian yang bisa dikatakan sedikit konyol.

Stasiun Jatiroto di daerah Lumajang, ke Jember masih jauh!
Adalah tahun 2009 kali pertama saya naik kereta api, sendirian pula!. Saat itu saya hendak pulang ke Bali karena ada urusan penting yang mengharuskan saya berangkat sendiri lebih dulu dari teman saya yang masih mengikuti kegiatan di Jogja. Kesialan pertama langsung terjadi ketika saya tiba di Stasiun Lempuyangan Jogja. Kereta jurusan Banyuwangi baru saja berangkat sehingga saya terpaksa menumpangi kereta jurusan Jember, itupun saya perlu menunggu 1 jam lagi. Sendirian bukan berarti tidak menikmati perjalanan ketika itu berhubung ini adalah pengalaman pertama saya. Kedua mata tidak bosan melihat ke jendela pemandangan khas Pulau Jawa dengan berbagai tipe dan ciri khasnya; bukit, gunung, sawah, sampai pemukiman yang padat penduduk. Hanya saat gelap mata saya tertutup hingga tertidur dan sesekali terbangun ketika kereta berhenti di beberapa stasiun. Jam menunjukkan pukul 9 malam waktu itu, saya terbangun melihat ke luar pada sebuah plang yang menandakan kereta sedang berhenti di Stasiun Jatiroto. Saya lalu mengecek tiket kereta saya, melihat nama-nama stasiun pemberhentian kereta, memastikan apakah saya telah tiba di tujuan atau belum. Entah kenapa yang ada di pikiran saya ketika itu adalah tulisan ‘Jatiroto-Jember’ pada tiket mengisyaratkan bahwa Stasiun Jatiroto ada di Jember. Tanpa pikir panjang ataupun bertanya kepada penumpang lain dalam kereta saya pun langsung turun. Sambil iseng saya lalu bertanya pada petugas stasiun sementara kereta sudah berangkat lagi. Barulah saya tahu saya seharusnya turun di stasiun bernama Jember sesuai dengan tiket yang bertuliskan ‘Jatiroto-Jember’, pemberhentian terakhir kereta yang saya tumpangi. Sebuah kekonyolan yang tidak lucu saya pikir, tapi itulah yang terjadi! Toh sama saja jika saya turun di Jatiroto ataupun di Jember, saya tetap harus naik kereta lagi menuju Banyuwangi. Tapi sayangnya kereta jurusan kesana baru berangkat keesokan harinya. Terpaksalah saya menginap di sebuah pos penjaga portal lintasan kereta malam itu. Saya lumayan bersyukur juga penjaga pos-nya sangat baik terhadap saya. Setidaknya saya bisa bangun pagi dalam keadaan segar untuk melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi dan tiba di Bali dalam keadaan selamat.

Bisakah pintu Commuter terbuka lebih lama lagi?
Cerita kali ini sebenarnya dialami oleh teman saya. Kebetulan kami menaiki kereta yang sama saat itu. Ini juga pertama kali kami menumpangi kereta yang dinamakan Commuter, alat transportasi bagi warga JABODETABEK yang lumayan nyaman karna berpendingin ruangan dengan harga tiket yang cukup terjangkau. Karena melayani rute yang relatif dekat, kereta ini hanya menyediakan beberapa tempat duduk sehingga bila tidak kebagian penumpang mau tidak mau berdiri layaknya penumpang Bus TransJakarta. Saat itu kami sedang dalam perjalanan pulang dari Bandung ke kosan kami di daerah Depok. Kereta ekonomi dari Bandung ke Jakarta berhenti terakhir di Stasiun Kota. Dari sinilah kami memutuskan ke Depok menumpangi Commuter dengan membayar tiket sebesar Rp 6.000,-. Berhubung saat itu adalah jam pulang kantor, kereta terisi penuh oleh penumpang yang hendak pulang ke daerah Depok atau Bogor. Berbekal informasi dari internet tentang rute yang kami lalui, kami menikmati perjalanan saat itu walaupun harus berdesak-desakkan dengan penumpang yang terus bertambah di setiap pemberhentian. Kami pun terjebak di antara kerumunan tanpa menyadari hal ini akan menyulitkan kami ketika hendak keluar nanti. Dan benar saja ketika kereta berhenti di Stasiun Pondok Cina kami kesulitan untuk turun karena ternyata masih ada penumpang yang justru masuk ke dalam kereta. Saya cukup beruntung bisa turun sebelum pintu kereta tertutup secara otomatis lalu berangkat lagi. Teman saya inilah yang terjebak di dalam kereta dan terpaksa menumpangi kereta yang lain lagi untuk kembali ke Stasiun Pondok Cina, walaupun tidak perlu membayar lagi berbekal keahliannya melompat dari satu kereta ke kereta yang lain layaknya seorang aktor film Hollywood.

Ini Commuter, bukan kereta ekonomi!
Saya berani mengatakan kali ini adalah kesalahan pihak stasiun. Kenapa mereka masih menggunakan pengeras suara yang jelas-jelas suara yang keluar dari alat itu tidak terlalu jelas?? Alhasil kami sempat bingung harus menaiki kereta yang mana karna setiap beberapa menit selalu ada kereta yang melintas. Kalau menggunakan patokan jam keberangkatan pada tiket pasti sebuah kekeliruan, Indonesia gitu lohhh!! Belum lagi waktu itu kami diberitahukan bahwa kereta yang akan kami tumpangi sedang terhenti di sebuah stasiun karna mengamali gangguan pada sistem informasi keberangkatan. Memang semua informasi tentang posisi terakhir kereta terus diperbaharui oleh petugas, disampaikan dua kali pula, tapi percuma saja kalau yang penumpang dengar seperti suara kerumunan orang yang sedang turun ke jalan berdemo sambil meneriakkan tuntutan-tuntutan mereka. Tibalah saat kami berpikir bahwa kereta yang berhenti di depan kami adalah kereta ekonomi tujuan Jakarta Kota, padahal itu adalah Commuter dengan tujuan yang sama. Hal ini baru kami sadari ketika melihat tiket salah satu penumpang di dalam kereta dengan tulisan harga Rp 6.000,- tertera di tiketnya. Kami pun yakin ini bukan kereta ekonomi yang kami bayar dengan harga tiket hanya Rp 2.000,-. Terinspirasi dari Film “3 Idiot” dengan motto penenang jiwa “All is Well”kami berharap petugas di stasiun tempat kami nantinya berhenti tidak terlalu memperhatikan tiket kami. Yang terjadi justru sebaliknya. Mungkin karena tiket kereta ekonomi dan Commuter memiliki perbedaan yang cukup mencolok, tanpa basa basi semua penumpang yang ketahuan memiliki tiket ekonomi langsung digiring ke pos pengamanan. Saya kembali beruntung saat itu karna saya berada di belakang teman saya yang duluan digiring oleh petugas penjaga pintu keluar. Saya pun bisa keluar dengan bebas karna pintu keluar ditinggalkan oleh petugasnya. Sambil memasang tampang seolah-olah tidak terjadi apa-apa, saya mengikuti petugas tersebut dan menunggu sampai teman saya keluar. Barulah setelah ia bisa keluar urusan “senasib dan seperjuangan”kami selesaikan di luar stasiun. Saya memberinya uang Rp 5.000,- sekedar mengurangi beban denda yang harus ia bayar yakni Rp 10.000,-. Saya pun berpikir seandainya uang denda sebesar itu dikumpulkan terus pasti nantinya bisa dipakai untuk mengganti sound system di stasiun agar pemberitahuan dari petugas bisa didengar dengan jelas oleh penumpang kereta.               
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar