Pertama-tama ini tidak ada
hubungan dengan keluh kesah sebagai penumpang kereta api. Berdesak-desakkan
dengan penumpang yang lain, bau pengap di dalam kereta, atau pedagang asongan
yang datang bergiliran menawarkan beragam jenis barang, pasti semua sudah
dialami oleh semua penumpang. Mungkin cerita saya berikut ini adalah gambaran
dari orang yang pertama kali, atau kedua kali, naik kereta sehingga mengalami
kejadian yang bisa dikatakan sedikit konyol.
Stasiun Jatiroto di daerah Lumajang, ke Jember masih jauh!
Adalah tahun 2009 kali pertama
saya naik kereta api, sendirian pula!. Saat itu saya hendak pulang ke Bali
karena ada urusan penting yang mengharuskan saya berangkat sendiri lebih dulu
dari teman saya yang masih mengikuti kegiatan di Jogja. Kesialan pertama
langsung terjadi ketika saya tiba di Stasiun Lempuyangan Jogja. Kereta jurusan
Banyuwangi baru saja berangkat sehingga saya terpaksa menumpangi kereta jurusan
Jember, itupun saya perlu menunggu 1 jam lagi. Sendirian bukan berarti tidak
menikmati perjalanan ketika itu berhubung ini adalah pengalaman pertama saya.
Kedua mata tidak bosan melihat ke jendela pemandangan khas Pulau Jawa dengan
berbagai tipe dan ciri khasnya; bukit, gunung, sawah, sampai pemukiman yang
padat penduduk. Hanya saat gelap mata saya tertutup hingga tertidur dan
sesekali terbangun ketika kereta berhenti di beberapa stasiun. Jam menunjukkan
pukul 9 malam waktu itu, saya terbangun melihat ke luar pada sebuah plang yang
menandakan kereta sedang berhenti di Stasiun Jatiroto. Saya lalu mengecek tiket
kereta saya, melihat nama-nama stasiun pemberhentian kereta, memastikan apakah
saya telah tiba di tujuan atau belum. Entah kenapa yang ada di pikiran saya
ketika itu adalah tulisan ‘Jatiroto-Jember’ pada tiket mengisyaratkan bahwa
Stasiun Jatiroto ada di Jember. Tanpa pikir panjang ataupun bertanya kepada
penumpang lain dalam kereta saya pun langsung turun. Sambil iseng saya lalu
bertanya pada petugas stasiun sementara kereta sudah berangkat lagi. Barulah
saya tahu saya seharusnya turun di stasiun bernama Jember sesuai dengan tiket
yang bertuliskan ‘Jatiroto-Jember’, pemberhentian terakhir kereta yang saya
tumpangi. Sebuah kekonyolan yang tidak lucu saya pikir, tapi itulah yang
terjadi! Toh sama saja jika saya turun di Jatiroto ataupun di Jember, saya
tetap harus naik kereta lagi menuju Banyuwangi. Tapi sayangnya kereta jurusan
kesana baru berangkat keesokan harinya. Terpaksalah saya menginap di sebuah pos
penjaga portal lintasan kereta malam itu. Saya lumayan bersyukur juga penjaga
pos-nya sangat baik terhadap saya. Setidaknya saya bisa bangun pagi dalam
keadaan segar untuk melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi dan tiba di Bali dalam
keadaan selamat.
Bisakah pintu Commuter terbuka lebih lama lagi?
Cerita kali ini sebenarnya dialami
oleh teman saya. Kebetulan kami menaiki kereta yang sama saat itu. Ini juga
pertama kali kami menumpangi kereta yang dinamakan Commuter, alat transportasi
bagi warga JABODETABEK yang lumayan nyaman karna berpendingin ruangan dengan
harga tiket yang cukup terjangkau. Karena melayani rute yang relatif dekat,
kereta ini hanya menyediakan beberapa tempat duduk sehingga bila tidak kebagian
penumpang mau tidak mau berdiri layaknya penumpang Bus TransJakarta. Saat itu
kami sedang dalam perjalanan pulang dari Bandung ke kosan kami di daerah Depok.
Kereta ekonomi dari Bandung ke Jakarta berhenti terakhir di Stasiun Kota. Dari
sinilah kami memutuskan ke Depok menumpangi Commuter dengan membayar tiket
sebesar Rp 6.000,-. Berhubung saat itu adalah jam pulang kantor, kereta terisi
penuh oleh penumpang yang hendak pulang ke daerah Depok atau Bogor. Berbekal
informasi dari internet tentang rute yang kami lalui, kami menikmati perjalanan
saat itu walaupun harus berdesak-desakkan dengan penumpang yang terus bertambah
di setiap pemberhentian. Kami pun terjebak di antara kerumunan tanpa menyadari
hal ini akan menyulitkan kami ketika hendak keluar nanti. Dan benar saja ketika
kereta berhenti di Stasiun Pondok Cina kami kesulitan untuk turun karena
ternyata masih ada penumpang yang justru masuk ke dalam kereta. Saya cukup
beruntung bisa turun sebelum pintu kereta tertutup secara otomatis lalu
berangkat lagi. Teman saya inilah yang terjebak di dalam kereta dan terpaksa menumpangi
kereta yang lain lagi untuk kembali ke Stasiun Pondok Cina, walaupun tidak
perlu membayar lagi berbekal keahliannya melompat dari satu kereta ke kereta
yang lain layaknya seorang aktor film Hollywood.
Ini Commuter, bukan kereta ekonomi!
Saya berani mengatakan kali ini
adalah kesalahan pihak stasiun. Kenapa mereka masih menggunakan pengeras suara
yang jelas-jelas suara yang keluar dari alat itu tidak terlalu jelas?? Alhasil
kami sempat bingung harus menaiki kereta yang mana karna setiap beberapa menit
selalu ada kereta yang melintas. Kalau menggunakan patokan jam keberangkatan
pada tiket pasti sebuah kekeliruan, Indonesia gitu lohhh!! Belum lagi waktu itu kami diberitahukan bahwa kereta
yang akan kami tumpangi sedang terhenti di sebuah stasiun karna mengamali
gangguan pada sistem informasi keberangkatan. Memang semua informasi tentang
posisi terakhir kereta terus diperbaharui oleh petugas, disampaikan dua kali
pula, tapi percuma saja kalau yang penumpang dengar seperti suara kerumunan
orang yang sedang turun ke jalan berdemo sambil meneriakkan tuntutan-tuntutan
mereka. Tibalah saat kami berpikir bahwa kereta yang berhenti di depan kami
adalah kereta ekonomi tujuan Jakarta Kota, padahal itu adalah Commuter dengan
tujuan yang sama. Hal ini baru kami sadari ketika melihat tiket salah satu
penumpang di dalam kereta dengan tulisan harga Rp 6.000,- tertera di tiketnya.
Kami pun yakin ini bukan kereta ekonomi yang kami bayar dengan harga tiket
hanya Rp 2.000,-. Terinspirasi dari Film “3 Idiot” dengan motto penenang jiwa
“All is Well”kami berharap petugas di stasiun tempat kami nantinya berhenti
tidak terlalu memperhatikan tiket kami. Yang terjadi justru sebaliknya. Mungkin
karena tiket kereta ekonomi dan Commuter memiliki perbedaan yang cukup
mencolok, tanpa basa basi semua penumpang yang ketahuan memiliki tiket ekonomi
langsung digiring ke pos pengamanan. Saya kembali beruntung saat itu karna saya
berada di belakang teman saya yang duluan digiring oleh petugas penjaga pintu
keluar. Saya pun bisa keluar dengan bebas karna pintu keluar ditinggalkan oleh
petugasnya. Sambil memasang tampang seolah-olah tidak terjadi apa-apa, saya
mengikuti petugas tersebut dan menunggu sampai teman saya keluar. Barulah
setelah ia bisa keluar urusan “senasib dan seperjuangan”kami selesaikan di luar
stasiun. Saya memberinya uang Rp 5.000,- sekedar mengurangi beban denda yang
harus ia bayar yakni Rp 10.000,-. Saya pun berpikir seandainya uang denda
sebesar itu dikumpulkan terus pasti nantinya bisa dipakai untuk mengganti sound system di stasiun agar
pemberitahuan dari petugas bisa didengar dengan jelas oleh penumpang kereta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar