Senin, 30 April 2012

BELAJAR BAHASA INGGRIS SAMPAI KE NEGERI CINA




Baru-baru ini saya tertarik untuk mendalami ilmu pelafalan dalam Bahasa Inggris. Sebagian orang khususnya di Indonesia mungkin menganggap hal ini tidak terlalu penting. Sepanjang konteks sebuah pembicaraan sama-sama dipahami oleh masing-masing pembicara, pelafalan yang tepat bukanlah sebuah masalah. Terlebih jika penggunanya adalah sama-sama orang Indonesia, kesalahan pelafalan yang fatal sekalipun akan mudah untuk dimaklumi, berhubung sama-sama sedang dalam tahap belajar bahasa asing yakni Bahasa Inggris. Di luar dari permakluman tersebut, tahukah Anda bahwa pengetahuan akan pelafalan yang benar untuk kata-kata dalam Bahasa Inggris berperan penting dalam hal kemampuan menyimak (mendengar) atau listening, yang pada akhirnya akan membantu pengembangan kemampuan berbicara atau speaking?.

MATA KULIAH YANG TIDAK DIPAHAMI
Kesimpulan itu berawal dari pengalaman studi saya di Jurusan Bahasa & Sastra Inggris Universitas Udayana saat mengikuti salah satu mata kuliah di bidang Linguistics (Ilmu Bahasa) Bahasa Inggris yaitu Phonetics & Phonemics yang mengajarkan sistem pelafalan kata-kata dan kalimat dalam Bahasa Inggris. Jujur saja saya baru benar-benar memahami tujuan mata kuliah ini ketika mulai mengajar di lembaga kursus Bahasa Inggris milik saya sendiri. Kalau ditanya alasannya, saya terpikir untuk menyalahkan pihak sekolah menengah sebelumnya yang tidak mengajarkan cara melafalkan kata-kata Bahasa Inggris yang benar. Sampai sekarang saya belum tahu mengapa kurikulum pada zaman itu tidak menekankan kemampuan pelafalan. Buku-buku Bahasa Inggris untuk sekolah menengah pada saat ini pun masih seperti itu. Mungkin saja ada niat baik di balik semua itu, yaitu agar beban siswa tidak terlalu berat. Nah saya berharap tulisan saya ini bisa sedikit mengatasi ketakutan tersebut.

BAHAN AJAR DARI OXFORD UNIVERSITY PRESS
Awalnya saya hanya berniat menggunakan bahan ajar yang professional, agar sesuai dengan nama lembaga kursus yang saya dirikan, WD Professional English Course. Hal tersebut otomatis menuntut saya untuk menjadi pengajar professional, walaupun saya tidak mempunyai sertifikat mengajar sebelumnya. Saya lalu terpikir untuk mendapatkan buku yang merupakan terbitan langsung dari Inggris. Mendengar nama Inggris pikiran saya pun langsung tertuju pada Oxford University yang merupakan universitas terbesar dan tertua di Inggris. Saya mulai menjelajah situs resminya di internet, dan akhirnya saya mengetahui bahwa banyak buku-buku untuk belajar Bahasa Inggris terbitan Oxford University Press. Hendak memesannya langsung tentu saja saya tidak akan mampu membayarnya. Akhirnya saya memilih mendapatkannya dengan cara yang sebenarnya ilegal, yakni mengunduhnya secara gratis di internet. Kebetulan ada situs yang menyediakan seri lengkap buku tersebut termasuk Audio CD beserta CD-ROM Multimedianya. Paham akan resiko melanggar hak cipta, dengan bodoh saya berpikir itu tidak akan jadi masalah, siapa tahu saya dipanggil ke Inggris untuk menjalani sidang, ya itung-itung biar pernah ke Inggris.

MENGAJAR SAMBIL BELAJAR
Melihat isi dari buku tersebut saya langsung berpikir inilah buku yang tepat untuk mengajar Bahasa Inggris. Untuk pelajar remaja sampai dewasa, ada buku berjudul NEW ENGLISH FILE yang tersedia dalam lima level; Beginner, Emelentary, Pre-Intermediate, Intermediate, dan Upper-Intermediate. Sementara untuk anak-anak terdapat buku yang berjudul LETS GO yang juga tersedia dalam beberapa level yakni Starter, Beginner, dan 1-6. Semua materi disajikan bertahap dengan porsi seimbang untuk listening, speaking, reading, writing, grammar, vocabulary (kosakata), dan pronounciation (pelafalan). Akhirnya saya sadar bahwa kemampuan Bahasa Inggris saya masih kurang untuk ukuran kefasihan yang dipakai dalam buku tersebut yakni Common European Framework (CEF) yang merupakan standar umum ukuran kemampuan berbahasa Inggris di Eropa. Standar ini mungkin terlalu tinggi bagi orang Indonesia, tapi bila semua materi diikuti dengan benar semua akan terasa biasa saja. Justru efeknya yang luar biasa yakni kita akan terbiasa dengan konteks pembicaraan native speaker (penutur asli) yang akan memudahkan kita dalam mengikuti tes kemampuan Bahasa Inggris berskala internasional seperti TOEFL atau Cambridge FCE Examination yang merupakan syarat mutlak untuk memasuki hampir seluruh universitas-universitas di dunia. Saya pun sudah membuktikannya sendiri. Saya mengikuti tes TOEFL ITP pada Maret 2012 yang lalu dan hasilnya cukup memuaskan, 570, sedikit melebihi syarat minimum untuk persyaratan mengajukan beasiswa S2 ke Amerika yakni 550, bahkan meningkat dari skor sebelumnya pada tahun 2010 yang hanya 517.

TERNYATA “HOTEL”MENDAPAT PENEKANAN SUARA DI SUKU KATA YANG KEDUA
Mungkin hanya saya saja yang baru tahu hal ini, tapi dari sini lah saya akhirnya tahu bahwa kata-kata dalam Bahasa Inggris memiliki penekanan pada suku kata tertentu. Memang tidak ada aturan pasti untuk hal itu, tetapi terdapat suatu kecenderungan umum yang bisa dijadikan patokan saat melafalkan suatu kata. Sebagai contoh, kata-kata yang memiliki dua suku kata (sebagai catatan suku kata tidak dibedakan berdasarkan kehadiran konsonan dan vokal tapi pada bunyi yang dihasilkan, contoh: “life”hanya memiliki satu suku kata) umumnya mendapat penekanan pada suku kata pertama kecuali pada kata-kata tertentu seperti “hotel”atau “balloon”. Nah aturan inilah yang saya pelajari di mata kuliah Phonetics & Phonemics tapi baru saya sadari sekarang.

TERNYATA “SHEET”DAN “SHIT”BERBEDA BUNYI
Cobalah cari pelafalan kata-kata tersebut di kamus yang selain memuat artinya dalam Bahasa Indonesia juga memuat bagaimana kata-kata tersebut dibaca. Pelafalan kata-kata tersebut dalam kamus INGGRIS-INDONESIA biasanya dianggap sama, tapi tidak dalam kamus OXFORD yang membedakan bunyi dari kata tersebut dengan simbol bunyi yang berbeda yang memang berlaku dalam pembicaraan antar penutur asli. Sekali lagi saya katakan bahwa perbedaan ini mungkin tidak terlalu penting terutama dalam percakapan antara kita sendiri, tapi kesalahan dalam membedakan bunyi bisa saja berakibat kesalahan penafsiran pada saat kita mendengarnya langsung dari penutur aslinya. Yang perlu diingat adalah bahwa kita belajar Bahasa Inggris untuk keperluan komunikasi dengan penutur aslinya (orang Amerika, orang Inggris, dll) atau sebagai lingua franca saat berkomunikasi dengan pembicara dari negara lain yang non-native speaker, dan bukan untuk berkomunikasi dengan sesama kita (orang Indonesia) kecuali untuk keperluan latihan. Maka dari itu kita juga wajib tahu bagaimana penutur asli itu melafalkan suatu kata agar tidak terjadi kesalahpahaman ketika berbicara dengan mereka. Tidaklah sulit untuk meniru cara mereka karena struktur bunyi dalam Bahasa Indonesia tidak jauh berbeda dengan Bahasa Inggris, kecuali bagi orang Jepang atau Cina. Tentu saja semua itu bisa tercapai dengan terus berlatih menyimak pembicaraan dalam Bahasa Inggris seperti pada film atau lagu dan sekaligus berlatih menerapkannya dalam berbicara.

TERNYATA..., TERNYATA..., DAN TERNYATA...
Masih banyak hal yang baru saya ketahui berkaitan dengan kemampuan berbahasa Inggris pada saat mengajar dengan menggunakan buku dari Oxford University Press. Sekali lagi mungkin saya terlambat mengetahui itu semua, tapi lebih baik terlambat daripada tidak tahu sama sekali, betul bukan??

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. what is the connection between ur writing with china?

    BalasHapus
  3. I have a friend from Tibet in China, inspired this writing.

    BalasHapus