Baru-baru
ini saya tertarik untuk mendalami ilmu pelafalan dalam Bahasa Inggris. Sebagian
orang khususnya di Indonesia mungkin menganggap hal ini tidak terlalu penting.
Sepanjang konteks sebuah pembicaraan sama-sama dipahami oleh masing-masing
pembicara, pelafalan yang tepat bukanlah sebuah masalah. Terlebih jika
penggunanya adalah sama-sama orang Indonesia, kesalahan pelafalan yang fatal
sekalipun akan mudah untuk dimaklumi, berhubung sama-sama sedang dalam tahap
belajar bahasa asing yakni Bahasa Inggris. Di luar dari permakluman tersebut,
tahukah Anda bahwa pengetahuan akan pelafalan yang benar untuk kata-kata dalam
Bahasa Inggris berperan penting dalam hal kemampuan menyimak (mendengar) atau listening,
yang pada akhirnya akan membantu pengembangan kemampuan berbicara atau speaking?.
MATA KULIAH YANG TIDAK DIPAHAMI
Kesimpulan
itu berawal dari pengalaman studi saya di Jurusan Bahasa & Sastra Inggris Universitas
Udayana saat mengikuti salah satu mata kuliah di bidang Linguistics (Ilmu
Bahasa) Bahasa Inggris yaitu Phonetics & Phonemics yang mengajarkan sistem
pelafalan kata-kata dan kalimat dalam Bahasa Inggris. Jujur saja saya baru
benar-benar memahami tujuan mata kuliah ini ketika mulai mengajar di lembaga kursus
Bahasa Inggris milik saya sendiri. Kalau ditanya alasannya, saya terpikir untuk
menyalahkan pihak sekolah menengah sebelumnya yang tidak mengajarkan cara
melafalkan kata-kata Bahasa Inggris yang benar. Sampai sekarang saya belum tahu
mengapa kurikulum pada zaman itu tidak menekankan kemampuan pelafalan.
Buku-buku Bahasa Inggris untuk sekolah menengah pada saat ini pun masih seperti
itu. Mungkin saja ada niat baik di balik semua itu, yaitu agar beban siswa
tidak terlalu berat. Nah saya berharap tulisan saya ini bisa sedikit mengatasi
ketakutan tersebut.
BAHAN AJAR DARI OXFORD UNIVERSITY PRESS
Awalnya
saya hanya berniat menggunakan bahan ajar yang professional, agar sesuai dengan
nama lembaga kursus yang saya dirikan, WD Professional English Course. Hal
tersebut otomatis menuntut saya untuk menjadi pengajar professional, walaupun
saya tidak mempunyai sertifikat mengajar sebelumnya. Saya lalu terpikir untuk
mendapatkan buku yang merupakan terbitan langsung dari Inggris. Mendengar nama
Inggris pikiran saya pun langsung tertuju pada Oxford University yang merupakan
universitas terbesar dan tertua di Inggris. Saya mulai menjelajah situs
resminya di internet, dan akhirnya saya mengetahui bahwa banyak buku-buku untuk
belajar Bahasa Inggris terbitan Oxford University Press. Hendak memesannya
langsung tentu saja saya tidak akan mampu membayarnya. Akhirnya saya memilih
mendapatkannya dengan cara yang sebenarnya ilegal, yakni mengunduhnya secara
gratis di internet. Kebetulan ada situs yang menyediakan seri lengkap buku
tersebut termasuk Audio CD beserta CD-ROM Multimedianya. Paham akan resiko
melanggar hak cipta, dengan bodoh saya berpikir itu tidak akan jadi masalah,
siapa tahu saya dipanggil ke Inggris untuk menjalani sidang, ya itung-itung biar pernah ke Inggris.
MENGAJAR SAMBIL BELAJAR
Melihat
isi dari buku tersebut saya langsung berpikir inilah buku yang tepat untuk
mengajar Bahasa Inggris. Untuk pelajar remaja sampai dewasa, ada buku berjudul
NEW ENGLISH FILE yang tersedia dalam lima level; Beginner, Emelentary,
Pre-Intermediate, Intermediate, dan Upper-Intermediate. Sementara untuk
anak-anak terdapat buku yang berjudul LETS GO yang juga tersedia dalam beberapa
level yakni Starter, Beginner, dan 1-6. Semua materi disajikan bertahap dengan
porsi seimbang untuk listening, speaking, reading, writing, grammar, vocabulary
(kosakata), dan pronounciation (pelafalan). Akhirnya saya sadar bahwa kemampuan
Bahasa Inggris saya masih kurang untuk ukuran kefasihan yang dipakai dalam buku
tersebut yakni Common European Framework (CEF) yang merupakan standar umum
ukuran kemampuan berbahasa Inggris di Eropa. Standar ini mungkin terlalu tinggi
bagi orang Indonesia, tapi bila semua materi diikuti dengan benar semua akan
terasa biasa saja. Justru efeknya yang luar biasa yakni kita akan terbiasa
dengan konteks pembicaraan native speaker
(penutur asli) yang akan memudahkan kita dalam mengikuti tes kemampuan Bahasa
Inggris berskala internasional seperti TOEFL atau Cambridge FCE Examination
yang merupakan syarat mutlak untuk memasuki hampir seluruh universitas-universitas
di dunia. Saya pun sudah membuktikannya sendiri. Saya mengikuti tes TOEFL ITP
pada Maret 2012 yang lalu dan hasilnya cukup memuaskan, 570, sedikit melebihi
syarat minimum untuk persyaratan mengajukan beasiswa S2 ke Amerika yakni 550,
bahkan meningkat dari skor sebelumnya pada tahun 2010 yang hanya 517.
TERNYATA “HOTEL”MENDAPAT PENEKANAN SUARA DI
SUKU KATA YANG KEDUA
Mungkin
hanya saya saja yang baru tahu hal ini, tapi dari sini lah saya akhirnya tahu
bahwa kata-kata dalam Bahasa Inggris memiliki penekanan pada suku kata
tertentu. Memang tidak ada aturan pasti untuk hal itu, tetapi terdapat suatu
kecenderungan umum yang bisa dijadikan patokan saat melafalkan suatu kata.
Sebagai contoh, kata-kata yang memiliki dua suku kata (sebagai catatan suku
kata tidak dibedakan berdasarkan kehadiran konsonan dan vokal tapi pada bunyi
yang dihasilkan, contoh: “life”hanya memiliki satu suku kata) umumnya mendapat penekanan pada suku
kata pertama kecuali pada kata-kata tertentu seperti “hotel”atau “balloon”. Nah
aturan inilah yang saya pelajari di mata kuliah Phonetics & Phonemics tapi
baru saya sadari sekarang.
TERNYATA “SHEET”DAN “SHIT”BERBEDA BUNYI
Cobalah
cari pelafalan kata-kata tersebut di kamus yang selain memuat artinya dalam Bahasa
Indonesia juga memuat bagaimana kata-kata tersebut dibaca. Pelafalan kata-kata
tersebut dalam kamus INGGRIS-INDONESIA biasanya dianggap sama, tapi tidak dalam
kamus OXFORD yang membedakan bunyi dari kata tersebut dengan simbol bunyi yang
berbeda yang memang berlaku dalam pembicaraan antar penutur asli. Sekali lagi
saya katakan bahwa perbedaan ini mungkin tidak terlalu penting terutama dalam
percakapan antara kita sendiri, tapi kesalahan dalam membedakan bunyi bisa saja
berakibat kesalahan penafsiran pada saat kita mendengarnya langsung dari
penutur aslinya. Yang perlu diingat adalah bahwa kita belajar Bahasa Inggris
untuk keperluan komunikasi dengan penutur aslinya (orang Amerika, orang
Inggris, dll) atau sebagai lingua franca
saat berkomunikasi dengan pembicara dari negara lain yang non-native speaker, dan bukan
untuk berkomunikasi dengan sesama kita (orang Indonesia) kecuali untuk
keperluan latihan. Maka dari itu kita juga wajib tahu bagaimana penutur asli
itu melafalkan suatu kata agar tidak terjadi kesalahpahaman ketika berbicara
dengan mereka. Tidaklah sulit untuk meniru cara mereka karena struktur bunyi
dalam Bahasa Indonesia tidak jauh berbeda dengan Bahasa Inggris, kecuali bagi
orang Jepang atau Cina. Tentu saja semua itu bisa tercapai dengan terus
berlatih menyimak pembicaraan dalam Bahasa Inggris seperti pada film atau lagu
dan sekaligus berlatih menerapkannya dalam berbicara.
TERNYATA..., TERNYATA..., DAN TERNYATA...
Masih
banyak hal yang baru saya ketahui berkaitan dengan kemampuan berbahasa Inggris
pada saat mengajar dengan menggunakan buku dari Oxford University Press. Sekali
lagi mungkin saya terlambat mengetahui itu semua, tapi lebih baik terlambat
daripada tidak tahu sama sekali, betul bukan??
.jpg)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuswhat is the connection between ur writing with china?
BalasHapusI have a friend from Tibet in China, inspired this writing.
BalasHapus