- Sebuah Ungkapan Rasa Syukur
Sungguh sebuah anugerah sebenarnya bagi saya ketika mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah dengan beasiswa, keluar negeri pula. Dengan mengingat-ingat proses yang saya lalui jauh sebelum memulai studi ini, hanya rasa syukur yang terbesit di benak saya atas segala yang telah saya dapat. Saya ingat sekali sehari sebelum saya berangkat ke Jakarta untuk tes seleksi beasiswa saya melakukan persembahyangan ke pura ditemani oleh ibu saya dan persembahyangan itu dipimpin oleh pemangku pura, padahal persembahyangan bersama sebenarnya akan dilaksanakan keesokan harinya yakni di Hari Raya Galungan. Sehari sebelum pengumuman kelolosan beasiswa, saya juga mengikuti persembahyangan di pura dalam rangka Hari Raya Nyepi yang saat itu jatuh tepat saat terjadi gerhana matahari Maret 2016. Di hari keberangkatan saya ke London waktu itu bertepatan dengan Hari Raya Kuningan saya kembali mengikuti persembahyangan bersama di pura di kampung tempat saya tinggal. Dari rangkaian persembahyangan yang saya ikuti tersebut, saya sadar bahwa saya telah diberi beberapa kali kesempatan untuk memohon restu dan keberkahan kepada Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ketika mengetahui bahwa saya lolos seleksi beasiswa, lalu diterima di universitas tujuan di Inggris, dan terakhir studi saya berjalan lancar sampai selesai, rasa-rasanya kebaikan menghampiri saya tiada hentinya. Satu lagi ungkapan rasa syukur saya adalah ketika mendapat kesempatan berkunjung ke Swiss dan melihat pemandangan yang luar biasa indah. Saya sangat bersyukur ketika itu bisa melihat langsung keindahannya dan tak henti henti menyebut nama-Nya ketika melihat pemandangan bukit hijau bersama pohon cemaranya dan gunung bersalju termasuk menyentuh dan berjalan di atas salju untuk pertama kalinya. Benar benar ini adalah karunia Tuhan yang luar biasa.
Banyak yang bertanya tentang bagaimana rasanya tinggal dan belajar di luar negeri seperti London. Dengan cepat tentunya saya menjawab tinggal di London enak, banyak tempat main dan nongkrong terlebih karna London adalah kota metropolitan dan orang orang seluruh dunia datang ke London. Segala macam fasilititas publik seperti moda transportasi lengkap dan canggih, area terbuka hijau yang luas dan banyak, meseum yang sebagian besar gratis tanpa dipungut biaya masuk termasuk perpustakaan dengan koleksi buku yang beragam, internet yang cepat dan stabil, sampai supemarket dan restoran yang bahkan menyediakan makanan Asia termasuk Indonesia. Walau Inggris ketika saya berada sedang disorot oleh dunia akibat keputusan nya untuk keluar dari Uni Eropa atau yang lebih dikenal dengan Brexit, termasuk insiden bom bunuh diri dan beberapa penusukan warga di jalanan kota London, hal ini tidak berdampak negatif pada keberlangsungan studi saya termasuk mahasiswa Indonesia lainnya. Belum lagi Inggris dengan London sebagai ibu kotanya sudah dikenal sejak lama sebagai kiblat dari berbagai hal termasuk pendidikan. Siapa yang tidak pernah mendengar Oxford University. Universitas tertua kedua di dunia ini, termasuk universitas tua lainnya di Inggris telah menjadikan Negeri Ratu Elizabeth ini menjadi pusat pendidikan dan penelitian dunia. Nama nama ilmuwan yang kita jumpai di buku buku pelajaran sekolah, sampai nama nama peraih penghargaan bergengsi Nobel, merupakan alumni universitas yang ada di Inggris. Belum lagi Inggris adalah rumah bagi klub klub sepakbola tersohor seperti Manchester United, Chelsea, Arsenal, dan klub Inggris lainnya. Seandainya saja saya adalah penggemar sepakbola, sungguh berkunjung ke Inggris pastilah akan menjadi mimpi yang menjadi nyata. Jika berbicara tentang seni musik, banyak penyanyi ternama termasuk yang legendaris juga berasal dari Inggris. Saya bahkan sempat berkungjung ke Liverpool dimana band legendaris The Beatles lahir. Yang tak kalah penting, bahasa internasional yakni Bahasa Inggris tentunya berasal dari Inggris.
Semua hal tentang Inggris tersebut lah yang membuat saya sangat antusias melanjutkan studi di Inggris dan berharap dapat memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin belajar di pusat pendidikan dunia tersebut. Kesempatan besar ini tentunya tiada lain dan tiada bukan berkat beasiswa yang saya dapatkan dari pemerintah Indonesia melalui sebuah lembaga yang bernaung di bawah Kementrian Keuangan RI yakni LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Mulai dari biaya kuliah, biaya hidup di London yang serba mahal terutama bagi kita orang Indonesia dengan perbedaan nilai mata uang yang tinggi dibanding mata uang Inggris yakni Poundsterling, semuanya ditanggung dan saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun bahkan biaya transportasi pulang pergi pun ditanggung.
Mungkin ada yang berfikir bahwa dengan mengenyam pendidikan di luar negeri di negara seperti di Inggris saya banyak menghabiskan waktu dengan jalan jalan keliling Eropa. Memang betul di sela sela libur setelah masa kuliah selesai saya sempat berkunjung ke enam negara eropa yakni Perancis, Belanda, Belgia, Spanyol, Italia, dan Swiss. Namun, itu hanyalah apa yang terlihat di media selama ini (Read: media sosial saya). ‘Plesiran’ itu hanya sebagian kecil dari aktivitas saya selama studi di Inggris, dan itu juga saya lakukan sebagai bentuk penghargaan bagi diri sendiri atas kerja keras selama perkuliahan. Uang yang dipakai adalah kumpulan tabungan dari jatah biaya hidup yang saya sisihkan setiap harinya. Perlu diketahui bahwa beasiswa yang saya terima yang nilainya hampir 1 miliar berasal dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat Indonesia kepada negara. Itu berarti uang yang saya pakai selama kuliah di London adalah uang milik rakyat Indonesia. Dengan kata lain saya berhutang pada rakyat Indonesia. Nah bagaimana saya membayarnya? Dengan komitmen. Saya berkomitmen dari awal kuliah untuk sungguh sungguh mengikuti perkuliahan termasuk mengikuti seminar atau talk yang banyak di selenggarakan oleh pihak kampus, dan mengerjakan tugas kuliah yang diberikan. Selain terdapat modul wajib yang harus saya ambil, saya juga bebas memilih dari sekian banyak modul pilihan. Ada dua modul yang saya pilih yakni berhubungan dengan pembuatan material bahan ajar dan pendidikan guru Bahasa Inggris. Dua bidang tersebut lah yang ingin saya tekuni setelah studi dengan harapan dapat berkontribusi sesuai bidang keilmuan saya. Progress perkuliahan juga saya laporkan ke LPDP sebagai bentuk pertanggungjawaban atas beasiswa yang saya terima.
Di sisi lain, saya tentunya membawa nama Indonesia ketika berada di Inggris, dan hal hal positif yang wajib saya lakukan agar memberi kesan baik bagi mahasiswa dari negara lain disana. Banyak teman teman kuliah saya yang mengaku salut dengan mahasiswa Indonesia di luar negeri karna ketekunan dan prestasi yang dimilikinya. Citra positif inilah yang dengan kukuh saya dan mahasiwa Indonesia lainnya berusaha pertahankan. Mahasiswa Indonesia juga dikenal sangat kompak, terbukti dengan banyaknya event event Indonesia seperti pertunjukan seni budaya yang dipelopori dan dimeriahkan orang orang Indonesia yang berada di luar negeri. Dengan keterlibatan saya di organisasi mahasiswa Indonesia seperti PPIUK, ada banyak kegiatan bertema Indonesia yang diselenggarakan di Inggris dimana saya menjadi panitia maupun peserta. Orang Indonesia di luar negeri juga dikenal mudah bergaul dengan warga negara lain. Saya sendiri berteman baik dengan mahasiswa lain seperti dari Tiongkok, Jepang, Korea, Amerika, termasuk Inggris sendiri. Tidak jarang setelah jam perkuliahan kami bertemu kembali saat makan malam di restoran negara masing masing. Untuk pertama kalinya saya makan sushi dan makanan Jepang lain di London meskipun restoran Jepang sebenarnya sudah banyak di Indonesia. Sungguh pengalaman yang luar biasa ketika memiliki teman internasional dari berbagai negara yang bahkan ikut berperan dalam kelancaran perkuliahan saya.
Kesan pertama berkaitan dengan cuaca disana yang sangat dingin terutama bagi kita orang Indonesia yang tinggal di daerah beriklim tropis dan selalu mendapat sinar matahari sepanjang tahun. Bagi saya yang pertama kali tinggal di negara dengan iklim yang berbeda, selain juga dalam keadaan jauh dari keluarga, belum lagi makanan yang dijual tidak seperti yang kita temui di negara asal tentunya sedikit banyak menggangu konsentrasi belajar. Di tengah kesulitan di masa masa awal kuliah tersebut, dengan cepat saya akhirnya bisa menyesuaikan diri berkat dukungan dari banyak pihak termasuk teman teman kuliah yang kompak mendukung proses belajar saya. Saya tidak ragu menceritakan kepada mereka jika ada masalah sampai yang personal sekalipun yang akan mengganggu fokus studi saya. Saya merasa beruntung di awal masa perkuliahan saya tinggal bersama dengan seorang teman orang Indonesia yang juga mengambil bidang studi yang sama. Dengan begitu, kami sering berdiskusi membicarakan apapun terkait perkuliahan kami. Tindakan saling support seperti ini menurut saya sangat penting terutama bagi mahasiswa asing seperti saya dengan suasana perkuliahan yang sangat berbeda dengan apa yang pernah dialami ketika di negara sendiri. Di apartemen tempat saya tinggal saya juga sering menghabiskan waktu senggang dengan masak makanan Indonesia bersama mahasiswa Indonesia lainnya yang tinggal disana, bahkan tak jarang kami main kartu untuk sekedar menghibur diri setelah penat mengerjakan tugas kuliah.

Berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, saya juga merasa sangat beruntung bisa belajar di Inggris. Pertama, kampus saya memiliki koleksi buku bacaan untuk kuliah yang sangat banyak dan lengkap, termasuk sumber bacaan online seperti jurnal yang bisa diakses secara gratis. Belum lagi kesempatan yang saya dapat untuk bertemu dan berteman dengan orang orang hebat dari seluruh Indonesia yang belajar di Inggris yang juga terpilih untuk mendapat beasiswa seperti LPDP dan Chavening. Dosen yang mengajar juga sangat professional. Di dalam kelas kami mahasiswa terus dipancing untuk berani mengungkapkan ide dan pendapat. Alhasil, diskusi kami di kelas diwarnai dengan keragaman karna mahasiswa dari negara Jepang misalnya tentunya punya pandangan dari perspektif yang berbeda dengan pandangan saya dan mahasiswa dari negara lain. Bahkan pandangan antar kami mahasiwa Indonesia bisa saja berbeda mengingat latar belakang pendidikan dan profesi kami yang berbeda. Tidak ada yang namanya pendapat yang salah yang mengundang cemoohan. Pendapat kita selalu dihargai sehingga tidak ada kecanggungan saat ditanyakan tentang pandangan kita. Itulah mengapa saya merasa setelah menyelesaikan studi ini rasanya dalam berbagai kesempatan saya merasa lebih berani untuk mengungkapkan pendapat atau pandangan pribadi saya.
Kesan berikutnya berkaitan dengan pandangan warga negara asing terhadap Indonesia. Ketika saya bercerita tentang Indonesia, mereka kagum dengan keragaman budaya yang kita miliki. Inilah yang ingin saya tekankan. Kita tentunya telah menerima sekian banyak pengaruh dari budaya bangsa bangsa lain di dunia di era globalisasi seperti sekarang dalam hal berpakaian misalnya atau kesenian seperti lagu lagu barat yang belakangan ini sangat familiar di sekitar kita. Perlu diketahui bahwa orang Barat sangat mengagumi kita orang Indonesia karna kita memiliki ciri khas dan identitas yang membedakan kita dengan bangsa lain. Oleh karena itu, saya pribadi sangat mendukung sebuah kegiatan keagamaan rutin di kampung saya di Belitung dan saya sangat senang ketika melihat anak anak sekolah semangat belajar kesenian lokal Bali terlebih itu diperuntukkan untuk aktivitas keagamaan seperti mekidung, membaca sloka, palawakya, dan lainnya. Orang luar begitu kagum dengan budaya kita. Saya beri contoh. Ketika kunjungan saya ke Eropa tepatnya ke Belgia saya sempat sembahyang di sebuah pura besar bernama Pura Santi Buana dan pura ini adalah satu satu nya di Eropa. Hal menarik nya adalah pura tersebut dibuat karna ada seorang warga Belgia yang sangat jatuh cinta dengan Bali setelah kunjungan nya ke Bali beberapa kali. Saking kagumnya dengan Bali dibuatlah pura disana, dan saat ini pura tersebut terletak di sebuah taman yang sangat luas dan menjadi objek wisata yang ramai pengunjung. Ini menunjukkan bahwa orang luar mengagumi budaya lokal kita. Oleh karna itu, kita patut bangga menjadi orang Indonesia termasuk sebagai orang Bali yang masih menjaga adat tradisi leluhur sampai sekarang, terlebih lagi anak anak sekolah yang saya perhatikan di lingkungan tempat saya tinggal sangat semangat mengikuti kegiatan kesenian lokal.
Kesan terakhir yang ingin saya sampaikan adalah ketika saya tahu bahwa benar hasil tidak membohongi sebuah usaha. Saya masih ingat usaha saya untuk mendapatkan beasiswa dan mengikuti tes agar bisa berkuliah di Inggris. Mulai dari tes Bahasa Inggris sampai tes wawancara untuk beasiswa. Saya pernah tiga kali gagal saat seleksi, tapi saya waktu itu yakin saya perlu usaha yang lebih keras lagi. Dan berkat dukungan dan doa banyak pihak, saya akhirnya bisa lolos seleksi dan bisa melanjutkan kuliah di Inggris. Jadi jika boleh berpesan, bagi kalian yang punya cita cita, apapun itu, terus perjuangkan jangan pernah menyerah. Belajarlah yang rajin mulai dari sekarang, kumpulkan prestasi sebanyak banyaknya sesuai bidang yang kalian suka.
Wah gak kebayang gimana beruntungnya kak wayan. Btw kak, proses belajar mengajar disana pake bahasa inggris juga ya? Mutlak ya harus bisa bahasa inggris biar bisa ngampus di luar negeri kak? Mohon pencerahannya ya kak buat orang awam seperti saya ini. Hehehe
BalasHapus