Jumat, 24 Juni 2016

Mengajar Banyak Mengajarkan (part 1: About the School)

Semoga teman-teman paham maksud judul di atas ya hehe. Versi lengkapnya adalah ”Mengajar Bahasa Inggris Banyak Mengajarkan Saya Tentang Banyak Hal”. Sangat beruntung bagi saya ketika mendapat pelajaran berharga dari sebuah pengalaman. Naah dalam tulisan kali ini saya akan mengupas banyak tentang pengalaman tak terlupakan tersebut yang berkaitan dengan profesi saya yakni sebagai guru Bahasa Inggris.

#Nama dan Logo Lembaga Kursus

Logo di samping ini bisa jadi merupakan simbol dari awal mula karir saya sebagai Bahasa Inggris. Hal pertama yang saya persiapkan adalah logo ini, mencoba mendesain sendiri menggunakan photo editor. Logo inilah yang nantinya menjadi logo resmi lembaga kursus saya, walaupun ada sedikit perubahan saat hari jadi ketiga.


Banyak yang bertanya, bahkan sampai sekarang, apa maksud dibalik nama WD Professional English Course ini. Teman-teman pasti bisa menebak, nama WD adalah singkatan dari nama saya sendiri. WD juga kebetulan adalah nama organisasi pencinta alam yang saya ikuti saat masih kuliah. Ini juga sebagai ungkapan terimakasih saya atas pengalaman berharga dan tak terlupakan selama saya bergabung di organisasi tersebut. Untuk Professional English Course, saya ingin menekankan makna professional sebagai visi saya mewujudkan tempat belajar yang, walaupun berlokasi di desa kecil, dijalankan secara professional, dengan pengajar yang berkompeten di bidang nya, termasuk bahan ajar yang sesuai dengan tujuan belajar siswa.

#Bahan Ajar

Dengan prinsip professional itulah, salah satu hal yang saya persiapkan adalah bahan ajar dari penerbit yang berkompeten di bidang pengajaran Bahasa Inggris. Maka jatuhlah pilihan saya waktu itu pada buku terbitan Oxford University Press, karena memang setelah saya cek di website banyak sekali seri buku yang dipersiapkan khusus untuk mereka yang ingin belajar Bahasa Inggris. Buku dari penerbit ini pula yang saya gunakan saat self-study sebelumnya. Karena merasa telah sukses meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya, buku tersebut saya anggap cocok untuk dipakai oleh siswa saya nantinya.

Sudah menentukan buku yang akan dipakai dalam belajar mengajar, saya lalu berpikir apakah bisa buku ini dipakai oleh siswa saya, karena buku sekelas itu harganya bisa tiga kali lipat lebih dari buku terbitan lokal. Setelah berpikir lama, dengan prinsip tidak akan mengorbankan kualitas belajar mengajar, saya memutuskan tetap menggunakan buku tersebut walau akhirnya melalui cara yang bisa dikatakan ilegal. Format pdf dari buku tersebut yang saya dapatkan sebelumnya di internet saya cetak lalu saya bagikan kepada siswa. Bahkan dalam unduhan tersebut saya sekaligus mendapat file audio yang bisa saya gunakan dlam kelas listening, termasuk teacher’s book yang menjadi panduan saya dalam mengajar. Walaupun semua itu bisa saya lakukan dengan mudah dan gratis, dalam hati kecil saya berkata bahwa di masa depan saya tidak akan mempraktikan ini lagi, dan beralih menggunakan buku yang asli tepat di saat lembaga kursus saya sudah memiliki izin operasional. Jadi karena di masa awal saya belum punya legalitas, jadi rasanya tidak apa-apa menggunakan bahan ajar yang ilegal hehe.


#Gedung

Nama dan logo lembaga sudah, bahan ajar juga sudah, persiapan berikutnya adalah tempat. Kembali kali ini saya bisa dikatakan sangat beruntung karena ada satu ruangan kosong di rumah saya yang dulunya ditempati oleh buruh yang bekerja untuk bapak saya. Ruangan ini juga telah memiliki sekat sehingga dalam satu ruangan terlihat memiliki dua bagian. Satu bagian lalu saya ubah menjadi ruangan kelas, dan bagian satu lagi menjadi ruangan semacam lobby. Gambar di samping ini adalah halaman di luar dari ruangan tersebut. Bisa dilihat disana saya memang sengaja mendesain seperti sebuah taman. Saya masih ingat tanaman yang di sebelah kanan itu saya dapat dari hasil meminta dari kebun di kampung sebelah. Sementara paving-paving itu menggunakan batu-bata yang saya dapatkan di sebuah eks-pabrik arang. Siswa pun sempat ikut bergotong royong mengangkut batu bata tersebut. Batu bata, termasuk tanaman hias saya peroleh secara gratis, kecuali kursi taman yang agak panjang itu. Sebuah papan nama juga terlihat mencolok di gambar ini. Saya buat dengan menggunakan cetakan spanduk dan papan dari triplek yang saya buat sendiri. Ada juga lampu taman di atasnya, yang saya buat dari tempat tissue berwarna merah sehingga cahaya lampu terkesan warm gitu lah hehe. Semua ini tujuannya sederhana juga, agar siswa betah dan ingin selalu kembali ke kelas, selain juga memberikan nuansa nyaman bagi mereka terutama saat menunggu giliran masuk kelas.


Seperti inilah penampakan luar kelas saat malam hari. Salah satu teman malah mengatakan ini terlihat seperti warung remang-remang haha. Kebetulan memang ruangan ini berada di bagian belakang rumah saya, dan menghadap ke halaman belakang. Jadi kalau dari jalan tempat ini tidak akan terlihat. Yang ada hanya neonbox yang saya pasang di pinggir jalan. Pengambilan gambar pas sekali ya pas bulan purnama hehe.




Sebelumnya saya menggunakan papan nama biasa seperti yang saya pasang di halaman kelas, dan menggunakan kayu sebagai tiang nya. Yaah begitulah semuanya masih sangat sederhana dulu, terbuat dari bahan yang murah meriah, bahkan diantaranya hasil daur ulang barang-barang tak terpakai, seperti lampu taman yang tadi saya sebutkan. Barulah setelah beberapa bulan kelas berjalan, saya membeli kelengkapan, salah satunya neonbox ini walaupun harganya jutaan rupiah.




Untuk ruangan kelas, gambar yang di sebelah kiri adalah tampak ruangan saat tahun pertama kelas berjalan. Di gambar ini juga sudah tak terlihat sekat yang tadi sebelumnya saya sebutkan, karena sudah saya robohkan agar ruangan terasa lapang walaupun tidak ada lagi bagian khusus lobi. Karena saat itu belum ada papan semacam papan mading, gambar-gambar yang saya pakai saat mengajar, termasuk gambar-gambar buatan siswa saya tempel di dinding menggunakan lem khusus agar tidak merusak lapisan cat dinding. Thanks to PLC lembaga kursus tempat saya mengajar sebelumnya, saya jadi tahu penggunaan lem serbaguna itu.





Di tahun kedua, beberapa hari sebelum perayaan hari jadi kedua lembaga kursus ini, saya dan siswa kembali bergotong royong mendekor ruangan kelas agar terwujud suasana baru dalam belajar. Jadilah ruangan kelas seperti gambar di sebelah kanan. Saat itu saya juga mulai memakai karpet untuk melapisi lantai agar tercipta suasana nyaman dan sejuk di dalam kelas. Bisa dilihat disana papan tulis dengan ukuran yang agak kecil, menyesuaikan ruangan kelas yang memang kecil. Tapi dari papan mini itu

telah tercipta banyak momen-momen belajar yang tidak bisa dilupakan oleh saya dan mungkin siswa siswa sendiri.


Di dalam kelas ini juga bisa dilihat ada sebuah lemari beserta isinya. Di lemari inilah saya menyimpan segala bentuk perlengkapan mengajar seperti flashcard, ataupun perlengkapan bermain seperti papan untuk permainan snakes and ladders. Terlihat pula di rak tengah terdapat alat-alat tulis seperti pensil, buku tulis, buku gambar, kotak pensil. Jadi ceritanya saya mengajar ini sambil jualan alat tulis hehe. Tapi bukan berarti proses jual beli terjadi saat kelas berlangsung. Saya selalu ingatkan siswa agar membeli perlengkapan sebelum kelas berlangsung, agar nantinya tidak mengganggu proses belajar mengajar.


Dari sedikit pemaparan tentang ”bisnis” sampingan saya tadi, sampai disini mungkin terbesit pertanyaan seputar dana yang saya gunakan untuk membangun kelas ini, apakah bersumber dari hasil niaga tersebut juga? Di awal saya tidak punya satu peser pun uang untuk mendirikan tempat belajar ini, karena status saya memang masih fresh graduate ketika itu. Alhasil, saya berinisiatif meminjam sejumlah uang dengan orang tua, waktu itu sebanyak 10 juta rupiah. Dana pinjaman itulah yang saya gunakan untuk membeli perlengkapan untuk tempat kursus ini, termasuk diantaranya kursi belajar, meja, kursi taman yang tadi saya sebutkan, dan pendingin ruangan. Dan benar adanya bahwa penghasilan kecil dari penjualan stationary tadi sedikit banyak bisa membantu saya melunasi pinjaman, selain dari uang biaya les yang dibayar oleh siswa.

Seiring waktu berjalan, jumlah siswa yang belajar di tempat saya makin bertambah. Itu berarti lembaga ini sudah memiliki penghasilan yang lebih dari sebelumnya. Tepat di tahun ketiga saya melakukan perubahan yang cukup besar, baik dari segi administrasi maupun fasilitas lembaga.


Saya kembali berterimakasih kepada bapak saya yang telah merelakan toko berserta gudangnya saya jadikan ruangan kelas beserta lobi yang terlihat seperti lobi hotel ini. Bahkan sofa yang ada di sana pun adalah hibah dari beliau. Berkat beliau pula kelas yang dulunya agak jauh berada di belakang rumah, kini tepat berada di depan sehingga terlihat dari luar. Oleh karena itu saya mendesain lobi ini semenarik mungkin berikut furnitur yang ada agar terlihat menarik. Saya bahkan mendesain sendiri meja resepsionis, memberi nya warna coklat kayu agar tetap ada kesan sejuk walaupun ruangan dominan berwarna oranye. Pun begitu dengan dinding di luar yang sebelumnya tertutup lalu saya rubuhkan sehingga menjadi terbuka seperti sekarang. Banyak yang bertanya maksud dari motif buble yang saya gunakan ini. Jadi ceritanya di tahun ketiga saya mulai menggunakan logo yang baru yang di dalamnya berisi lima buah bubble yang menandakan sekelompok orang yang sedang chatting. Dari situlah saya ingin menonjolkan ide ini lewat desain eksterior gedung ini.

Dan seperti inilah suasana di dalam ruangan kelas yang baru. Karena luas ruangan ini dua kali lebih besar dari ruangan sebelumnya, fasilitas di dalamnya pun ikut menyesuaikan. Papan tulis yang dulunya kecil saya ubah menjadi papan pengumuman yang berada di luar kelas, dan posisinya digantikan oleh dua papan besar ini. Kapasitas kelas yang besar juga membuat saya bisa mengajar 15 siswa sekaligus, berbeda dengan di kelas sebelumnya yang hanya bisa menampung maksimal delapan siswa. Untuk warna dinding kali ini saya melakukan perubahan yang sangat signifikan dari sebelumnya. Dinding saya warnai dengan warna kuning dan oranye, karena berdasarkan beberapa riset katanya warna cerah seperti ini bisa membantu siswa tetap fokus dan terjaga sehingga mereka tetap bersemangat di dalam kelas dalam kondisi apapun. Dari hasil penelitian ini lah saya baru menyadari warna dinding di kelas sebelumnya bernuansa teduh ditambah dengan karpet motif kayu tadi. Desain sejuk seperti itu lalu saya terapkan di kamar tidur saya hehe.

Segala hal yang berkaitan dengan lembaga kursus sudah saya ceritakan disini. Cerita selanjutnya yang juga ingin sekali saya bagikan, karena lebih banyak cerita seru dan berkesan tentunya, adalah tentang kegiatan belajar di lembaga ini. Jadi sampai ketemu di cerita berikutnya ya!!

7 komentar: